Lompat ke isi

Dhammavicaya

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Dhamma-vicaya)

Dalam Buddhisme, dhammavicaya (Pali; Sanskerta: धर्मविचय-, dharmavicaya; Aksara Han: 擇法, zé fǎ), juga ditulis dhamma-vicaya dan dhamma vicaya, telah diterjemahkan ke dalam berbagai istilah, seperti "penyelidikan kondisi-kondisi",[1][2] "pembedaan kondisi-kondisi",[3] "pembedaan fenomena",[3] "pembedaan dhamma",[4][note 1] "pembedaan keadaan",[5] "analisis kualitas",[6] "investigasi/penyelidikan ajaran",[7][note 2]dan "pencarian Kebenaran".[8] Maknanya cukup ambivalen; istilah ini tidak hanya menyiratkan penyelidikan terhadap "dhamma", tetapi juga penerapan pemahaman jernih (sampajāna atau sampajañña) pada fenomena batin dan jasmani dalam rangka menerapkan usaha benar, yang membuka jalan untuk memasuki jhāna pertama.

Etimologi

[sunting | sunting sumber]

Menurut Rupert Gethin, "dhamma-vicaya berarti 'pembedaan dhamma' atau 'pemahaman dhamma'; membedakan dhamma secara tepat berarti memahami dhamma."[9]

Penjelasan kitabiah

[sunting | sunting sumber]

Tujuh faktor pencerahan

[sunting | sunting sumber]

Dalam Suttapiṭaka dari Tripitaka Pali, ini adalah faktor kedua dari tujuh faktor pencerahan (satta bojjha). Faktor ini didahului oleh penegakan perhatian-penuh (sati) dan diterapkan bersama energi/usaha (viriya). Bersama-sama, perhatian penuh (sati), pemahaman jernih (sampajāna), dan usaha akan menenangkan pikiran, serta membuka jalan bagi munculnya jhāna, yang ditandai oleh empat faktor pencerahan lainnya, yaitu kegiuran (pīti), ketenteraman (passaddhi), penyatuan pikiran (samādhi), dan keseimbangan/ketidakberpihakan batin (upekkhā).[note 3] Menurut Saṁyuttanikāya, faktor ini harus dikembangkan dengan terus-menerus memberikan perhatian yang saksama/bijaksana (yoniso manasikāra bahulīkāro) terhadap fenomena-fenomena (dhammā) berikut: baik dan tidak baik (kusalā-akusalā); tercela dan tidak tercela (sāvajjā-anavajjā); rendah dan luhur (hīna-paītā); serta, gelap dan terang (kaha-sukka).[10][11][note 4] Penjelasan alternatif dalam kitab-kitab nikāya menyebutkan bahwa faktor ini dibangkitkan dengan "membedakan dhamma tersebut menggunakan kebijaksanaan" (taṃ dhamma paññāya pavicināti).[12][13][note 5]

Abhidhamma Theravāda

[sunting | sunting sumber]

Kitab Dhammasaṅgaṇī dari Abhidhammapiṭaka bahkan lebih kuat mengaitkan dhamma vicaya dengan paññā (kebijaksanaan) dalam perinciannya tentang keadaan-keadaan bajik (kusalā dhammā):

Katamaṃ tasmiṃ samaye paññindriyaṃ hoti? yā tasmiṃ samaye paññā pajānanā vicayo pavicayo dhammavicayo ...
Apakah yang pada saat itu merupakan indra-kebijaksanaan (paññindriya)?
Yaitu, apa pun yang pada saat itu merupakan kebijaksanaan (paññā), pemahaman (pajānanā), penyelidikan (vicaya), penyelidikan mendalam/penelitian (pavicaya), penyelidikan terhadap fenomena/kebenaran (dhammavicaya) ...[14]

Abhidharma Mahāyāna

[sunting | sunting sumber]

Dalam kitab-kitab Abhidharma yang lebih belakangan dan literatur pasca-kanonik (seperti karya cendekiawan India abad ke-4 M, Vasubandhu), dharma vicaya merujuk pada studi dharma sebagai fenomena fisik atau mental yang membentuk realitas hakiki (Skt.: paramārtha).[15][note 6]

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]
  1. Terkait keputusannya untuk tidak menerjemahkan kata dhamma, Gethin 1992, hlm. 151 meringkas: "Poin yang ingin saya sampaikan, bagaimanapun, adalah bahwa penggunaan kata dhammā (dalam bentuk jamak) di kitab-kitab nikāya, Abhidhammapiṭaka kanonik, dan bahkan sampai batas tertentu dalam tradisi kitab komentar, tetap menjadi istilah yang agak ambigu dan multivalen. Pemahaman persisnya terus sulit dipahami dan menantang definisi yang kaku atau tetap. Mungkin ini bukan kebetulan, dan teks-teks tersebut memang sengaja menikmati fluiditas (keluwesan makna) dari istilah itu sendiri."

    Dalam konteks dhamma-vicaya, Gethin 1992, hlm. 152, 154 mengajukan gagasan: "Dalam pemikiran Buddhis, membongkar dhammā menurut saya adalah menyisakan dhamma. Oleh karena itu, Dhamma-vicaya berarti 'pembedaan dhamma' atau 'pemahaman dhamma'; membedakan dhamma secara tepat berarti memahami dhamma.

    Dalam catatan kaki terkait (Gethin 1992, hlm. 152, n. 38), Gethin menyatakan keraguannya untuk menerjemahkan vicaya sebagai "investigasi/penyelidikan."
  2. Entri untuk "Vicaya" dalam Rhys Davids & Stede 1921–1925, hlm. 615; dan "Sambojjhanga" dalam Rhys Davids & Stede 1921–1925, hlm. 693.
  3. Lihat, misalnya, MN 118 (Thanissaro 2006).
  4. Bodhi 2000, hlm. 1900–1901, n. 59 berkomentar:
    "Contoh lebih lanjut tentang pertentangan antara keadaan baik dan buruk ditemukan di MN No. 8, di mana sang Buddha menyebutkan empat puluh empat pasang hal bajik dan tidak bajik yang saling bertentangan. Penjelasan faktor pencerahan ini menunjukkan bahwa meskipun 'pembedaan keadaan' mungkin secara teknis diidentifikasi dengan paññā [misalnya, dalam SN 54.13 (lihat di bawah) atau di dalam Dhammasaṅgaṇī], fungsi awal paññā sebagai faktor pencerahan bukanlah untuk memahami tiga corak umum, dsb., melainkan sekadar untuk membedakan antara keadaan mental yang baik dan buruk yang menjadi jelas seiring dengan semakin mendalamnya perhatian penuh."
  5. Gethin 1992, hlm. 147 menyatakan: "... [A]pa yang dimaksud dengan dhamma tersebut' (ta dhamma) tidak sepenuhnya jelas." Paññāya adalah bentuk infleksi dari paññā (Pali; Skt.: prajñā) yang dapat diterjemahkan dengan berbagai cara. Misalnya, Bodhi menerjemahkannya sebagai "dengan kebijaksanaan," sementara Gethin menerjemahkannya sebagai "melalui kebijaksanaan." Thanissaro 1995 menerjemahkannya sebagai "dengan ketajaman batin," menggunakan "ketajaman batin" untuk paññā. Seperti yang disarankan oleh Bodhi 2000, hlm. 1900–1901, n. 59, cara konvensional untuk memahami paññā di sini adalah dalam hal melihat sebuah dhamma dalam konteks tiga corak umum yaitu ketidakkekalan (anicca), penderitaan (dukkha), dan tanpa-inti (anattā).
  6. Williams 2007, hlm. 43 menulis: "Jadi, dalam Abhidharmakośa Bhāya non-Mahāyāna, prajñā diberikan secara sederhana sebagai pembedaan dharma (dharmapravicaya), yaitu hal-hal tertinggi yang menandai titik akhir dari analisis Abhidharma."

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Anggara 2013
  2. DhammaCitta, Glossarium.
  3. 1 2 Anggara 2010
  4. Gethin 1992, hlm. 146 ff.
  5. Bodhi 2000, hlm. 1567 ff, SN 46 passim.
  6. Thanissaro 1996.
  7. Rhys Davids & Stede 1921–1925, hlm. 615.
  8. Rhys Davids 2003, hlm. 18 passim.
  9. Gethin 1992, hlm. 152, 154.
  10. Bodhi 2000, hlm. 1569, SN 46.2.
  11. Bodhi 2000, hlm. 1598, SN 46.51.
  12. Bodhi 2000, hlm. 1782–1783, SN 54.13.
  13. Gethin 1992, hlm. 147.
  14. Rhys Davids 1900, hlm. 17-18, Dhs 11.
  15. Williams 2007, hlm. 43.

Daftar pustaka

[sunting | sunting sumber]

Sumber buku

[sunting | sunting sumber]
  • Bodhi, Bhikkhu (2000), The Connected Discourses of the Buddha: A Translation of the Samyutta Nikaya, Boston: Wisdom Publications, ISBN 0-86171-331-1
  • Gethin, R.M.L. (1992), The Buddhist Path to Awakening: A Study of the Bodhi-Pakkhiyā Dhammā, Leiden: E.J. Brill, ISBN 90-04-09442-3
  • Rhys Davids, Caroline A.F. (1900), Buddhist Manual of Psychological Ethics, of the Fourth Century B.C., Being a Translation, now made for the First Time, from the Original Pāli, of the First Book of the Abhidhamma-Piṭaka, entitled Dhamma-Saṅgaṇi (Compendium of States or Phenomena), London: Royal Asiatic Society
  • Rhys Davids, Caroline A.F. (2003) [1900], Buddhist Manual of Psychological Ethics, of the Fourth Century B.C., Being a Translation, now made for the First Time, from the Original Pāli, of the First Book of the Abhidhamma-Piṭaka, entitled Dhamma-Saṅgai (Compendium of States or Phenomena), Whitefish, MT: Kessinger Publishing, ISBN 0-7661-4702-9
  • Rhys Davids, T.W.; Stede, William (1921–1925), The Pali Text Society's Pali–English Dictionary, Chipstead: Pali Text Society. Mesin pencari umum untuk PED tersedia di http://dsal.uchicago.edu/dictionaries/pali/.
  • Williams, Paul (2007) [1989], Mahayana Buddhism, London: Routledge, ISBN 978-0-415-02537-9

Sumber web

[sunting | sunting sumber]