Lompat ke isi

Loka (Buddhisme)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Candi Borobudur sebagai bentuk penggambaran kosmologi Buddhisme

Dalam Buddhisme, loka (KBBI; diserap dari Sanskerta: लोक; Pali: loka), dunia, alam kehidupan, atau bumi (Pali, Sanskerta: bhūmi atau dhātu) adalah penggambaran alam semesta yang dihuni oleh berbagai jenis makhluk. Sang Buddha menjelaskan bahwa dunia ini sangat luas dengan sistem dunia yang jumlahnya sangat banyak. Bumi bukanlah satu-satunya sistem dunia yang dapat dihuni, dan manusia bukanlah satu-satunya makhluk.[1] Berbagai aliran Buddhis telah mengembangkan berbagai pengelompokkan alam-alam kehidupan yang berbeda-beda.

Secara keseluruhan, berdasarkan penafsiran terhadap Tripitaka Pali dan kitab-kitab komentar (aṭṭhakathā), aliran Theravāda mengidentifikasi tiga puluh satu jenis alam kehidupan atau loka yang diuraikan berdasarkan wujud, karakteristik, dijabarkan bahwa tiga puluh satu loka tidak hanya ada di sistem dunia ini, tetapi juga di antara jutaan sistem dunia atau semesta lainnya. Setiap satu sistem memiliki tiga puluh satu lokanya sendiri.[2] Loka tersebut dikelompokkan dalam tiga kategori utama, yaitu:[3][4][5]

  • 4 loka lingkup-nonmateri (arūpavacara-)
    • 4 loka brahma nonmateri (arūpabrahma-)
  • 16 loka lingkup-materi-halus (rūpavacara-)
    • 16 loka brahma-materi-halus (rūpabrahma-)
  • 11 loka lingkup-indrawi (kāmavacara-)
    • 7 loka lingkup-kebahagiaan-indrawi (kāmasugativacara-)
      • 6 loka surga atau loka dewa (deva-) selain loka brahma
      • 1 loka manusia (manussa-)
    • 4 loka apaya (apāya-)

Pengelompokkan alam-alam tersebut juga dapat dijabarkan dalam model klasifikasi lain yang terdiri atas loka surga, manusia, dan apaya:

  • 26 loka surga (sagga- atau deva-)
    • 20 loka brahma (brahma-)
      • 4 loka brahma nonmateri (arūpabrahma-)
      • 16 loka brahma-materi-halus (rūpabrahma-)
    • 6 loka surga atau loka dewa (deva-) selain loka brahma
  • 1 loka manusia (manussa-)
  • 4 loka apaya (apāya-), terdiri dari loka neraka, binatang, hantu, dan asura

Dalam kitab Visuddhimagga, dijelaskan empat periode perubahan alam semesta, yaitu periode kehancuran (saṁvaṭṭa); periode diam atau stabil dalam keadaan hancur (saṁvaṭṭaṭṭhāyī); periode terbentang, mengembang, atau pembentukan kembali (vivaṭṭa); dan periode kestabilan setelah perkembangan (vivaṭṭaṭṭhāyī).

Klasifikasi tiga puluh satu alam keberadaan dalam kelompok alam surga, alam manusia, dan alam rendah (juga alam nonmateri, alam materi, dan alam kesenangan indrawi) adalah interpretasi umum aliran Theravāda, sedangkan aliran-aliran Buddhis awal juga mengenalkan kategorisasi enam alam: tiga alam baik (surgawi, setengah-dewa, manusia) dan tiga alam buruk (binatang, hantu, neraka). Kitab-kitab Buddhis yang lebih awal juga mengenalkan kategorisasi lima alam, bukan enam alam; ketika digambarkan sebagai lima alam, alam dewa dan alam setengah dewa dianggap sebagai satu jenis alam.[6] Kategorisasi enam alam umum diyakini oleh pengikut Buddhisme Tibet.

Theravāda

[sunting | sunting sumber]

Tiga puluh satu loka

[sunting | sunting sumber]
Ilustrasi tiga puluh satu (31) alam kehidupan atau loka yang meliputi alam brahma, surga, manusia, dan apaya (neraka, binatang/hewan, hantu kelaparan, dan asura).

Dalam beberapa literatur Buddhis, tiga puluh satu alam kehidupan atau loka dikelompokkan dalam tiga kategori utama, yaitu:

  • loka lingkup-nonmateri (arūpavacara-),
  • loka lingkup-materi-halus (rūpavacara-), dan
  • loka lingkup-indrawi (kāmavacara-).[3][4][5]

Loka surga dan loka manusia

[sunting | sunting sumber]

Loka surga (atau dewa) dan manusia terdiri atas loka brahma dan loka yang-penuh-kebahagiaan-indrawi.

Loka brahma

[sunting | sunting sumber]

Loka brahma (brahmaloka) terdiri atas loka brahma-materi-halus (rūpāvacarabhūmi), dan loka brahma-nonmateri (arūpavacarabhūmi). Loka ini merupakan surga tertinggi di sistem kosmologi Buddhis, berkedudukan di atas loka yang-penuh-kebahagiaan (kāmasugatibhūmi), dan berjumlah 20 loka:[3][4][5]

  • 4 loka brahma-nonmateri (arūpavacarabhūmi):
  1. ākāsānañcāyatana
  2. viññāṇānañcāyatana
  3. ākiṁcanyāyatana
  4. nevasaññānāsaññāyatana
  • 16 loka brahma-materi-halus (rūpāvacarabhūmi):
    • 1 loka makhluk-tanpa-batin (asaññasattā)
    • 1 loka buah-besar (vehapphalā)
    • 5 loka kediaman-murni (suddhāvāsā)
      1. aviha
      2. atappa
      3. sudassa
      4. sudassī
      5. akaniṭṭha
    • 9 loka brahma-biasa:
    1. brahmapārisajja
    2. brahmapurohita
    3. mahābrahmā
    4. parittābha
    5. appamāṇābha
    6. ābhassara
    7. parittasubha
    8. appamāṇasubha
    9. subhakiṇha

Loka materi-halus (rūpāvacarabhūmi) disebut demikian karena para brahma yang tinggal di loka-loka ini memiliki tubuh yang sangat halus dan bahkan beberapa jenis materi sudah tidak ada di tubuh mereka. Loka nonmateri (arūpavacarabhūmi) berlokasi di atas loka materi-halus (rūpāvacarabhūmi) dan terdiri dari 4 tingkatan. Loka nonmateri disebut demikian karena makhluk yang terlahir di loka ini tidak memiliki tubuh jasmani sama sekali. Eksistensi kehidupan mereka hanyalah berupa fenomena mental atau batin.[3][4][5]

Loka materi-halus adalah loka kelahiran untuk mereka yang di kehidupan terakhirnya menguasai salah satu dari jhāna materi-halus hingga di detik-detik menjelang kematiannya. Kelahiran di loka ini tidak akan bisa dicapai oleh mereka yang pada awalnya menguasai jhāna materi-halus dan di kemudian hari kehilangan jhāna-nya sebagai akibat kelalaian karena jarang berlatih atau karena terganggu oleh kilesa-kilesa yang kasar. Loka nonmateri merupakan loka untuk mereka yang di kehidupan sebelumnya menguasai jhāna nonmateri hingga di detik-detik menjelang kematiannya. Singkatnya, seseorang perlu melakukan satu dari 8 karma baik yang berat, yaitu pencapaian meditatif:[3][4][5]

  • 4 jhāna materi-halus (rūpāvacarajhāna)
  • 4 jhāna nonmateri (arūpajhāna)

Loka kebahagiaan indrawi

[sunting | sunting sumber]

Enam loka pertama selain loka manusia (manussaloka) dalam kategorisasi loka kebahagiaan indrawi atau loka yang-penuh-kebahagiaan-indrawi (kāmasugatibhūmi) juga termasuk loka para dewa. Loka yang-penuh-kebahagiaan-indrawi (kāmasugatibhūmi) berjumlah 7 loka:[3][4][5]

  • 6 loka surga atau loka dewa (devaloka) selain loka brahma:
    • 1 loka empat-mahāraja (cātummahārājikā)
    • 1 loka tiga-puluh-tiga-dewa (tāvatiṃsa)
    • 1 loka [dewa] Yāmā (yāmā)
    • 1 loka yang-sangat-menyenangkan (tusita)
    • 1 loka yang-gemar-mencipta (nimmānaratī)
    • 1 loka yang-mengendalikan-ciptaan-dewa-lain (paranimmitavasavatti)
  • 1 loka manusia (manussaloka)

Loka-loka tersebut dinamakan “loka yang-penuh-kebahagiaan-indrawi” karena para makhluk yang terlahir di loka-loka tersebut merasakan kebahagiaan dengan bersandar pada pancaindra mereka. Dari tujuh loka tersebut, enam loka yang kedudukannya berada di atas loka manusia adalah alam surga yang posisinya lebih rendah dari alam surga para brahma yang dikenal oleh Buddhisme.[3][4][5]

Pada intinya, sebab-sebab kelahiran di alam surga diuraikan dari penjagaan terhadap moralitas (pañcasīla) Buddhis melalui Sepuluh Jalan Karma Baik (kusalakammapatha):[3][5]

  • Tiga perbuatan baik melalui tubuh (Pāli: kusala kāyakamma)
  1. Menahan diri dari pembunuhan (pāṇātipātā veramaṇī)
  2. Menahan diri dari pencurian (adinnādānā veramaṇī)
  3. Menahan diri dari perbuatan asusila (kāmesumicchācārā veramaṇī)
  • Empat perbuatan baik melalui ucapan (kusala vacīkamma)
  1. Menahan diri dari perkataan tidak benar (musāvādā veramaṇī)
  2. Menahan diri dari ucapan fitnah (pisuṇāya vācāya veramaṇī)
  3. Menahan diri dari ucapan kasar (pharusāya vācāya veramaṇī)
  4. Menahan diri dari omong kosong (samphappalāpā veramaṇī)
  • Tiga perbuatan baik melalui mental (kusala manokamma)
  1. Tiadanya dambaan (anabhijjhā)
  2. Tiadanya rasa benci (abyāpāda)
  3. Pandangan-benar (sammādiṭṭhi)

Selain sepuluh jalan karma baik di atas, juga dikenal sepuluh karma baik lagi, yakni sepuluh landasan perbuatan baik (dasa-puñña-kiriya-vatthu):[3][5]

  1. Bederma (dāna)
  2. Moralitas atau akhlak (sīla)
  3. Meditasi atau pengembangan batin (bhāvanā)
  4. Rasa hormat (apaciti)
  5. Pelayanan (veyyāvacca)
  6. Pelimpahan jasa (pattānuppadāna)
  7. Turut berbahagia atas kebajikan orang lain (abbhanumodanā)
  8. Mengajar Dhamma (desanā)
  9. Mendengarkan Dhamma (dhammasavana)
  10. Meluruskan pandangan (diṭṭhijukamma)

Loka apaya

[sunting | sunting sumber]

Loka apaya, kemalangan, atau tanpa-kebahagiaan (apāya- atau kāmaduggati-), juga dikenal sebagai loka rendah, terdiri atas 4 jenis alam:[3][4][5]

  • Loka neraka (niraya)
  • Loka kerajaan-binatang (tiracchānayoni)
  • Loka hantu-hantu kelaparan atau wilayah-peta (pettivisaya)
  • Loka kumpulan-asura (asurakāya)

Dari empat loka apāya, ada tiga loka yang hidup bersama dengan manusia yaitu binatang, peta, dan kumpulan-asura. Mereka yang ada di neraka hidup dengan lokasi yang berbeda, yakni di inti bumi.[3][4][5]

Makhluk yang terlahir di empat loka ini akan menghabiskan sebagian besar hidupnya loka penderitaan. Walaupun kesadaran yang baik bisa muncul di loka-loka ini, tetapi, disebabkan oleh buah karma buruk yang masak silih berganti, mereka tetap saja kesulitan menjaga batinnya untuk tetap tenang dan damai. Kesulitan, kesakitan, penderitaan, dan kemalangan yang mereka alami di sepanjang kehidupannya jauh lebih banyak dibandingkan dengan kemudahan, keberuntungan, dan kebahagiaan.[3][5]

Seseorang masih mungkin terlahir kembali di empat loka rendah jika belum mencapai tingkat kesucian pertama, yakni sotāpanna. Ada berbagai sebab kelahiran di loka-loka yang menyedihkan. Pada intinya, sebab-sebab tersebut diuraikan dari pelanggaran terhadap moralitas (pañcasīla) Buddhis melalui Sepuluh Jalan Karma Tidak Baik (akusalakammapatha):[3][5]

  1. Pembunuhan makhluk hidup (pāṇātipāta)
  2. Pencurian (adinnādāna)
  3. Perbuatan asusila (kāmesumicchācāra)
  4. Perkataan tidak benar (musāvāda)
  5. Ucapan fitnah (pisuṇavācā)
  6. Ucapan kasar (pharusavācā)
  7. Omong kosong (samphappalāpa)
  8. Dambaan (abhijjhā)
  9. Rasa benci (vyāpāda)
  10. Pandangan salah (micchādiṭṭhi)

Sebab pasti terlahir di neraka adalah melakukan lima karma yang keji (ānantariyakamma), yakni:[3][5]

  1. Membunuh ibu kandung
  2. Membunuh ayah kandung
  3. Membunuh seorang arahat
  4. Dengan maksud jahat melukai tubuh Tathāgata
  5. Memecah belah Sangha

Selain itu, 3 kelompok pandangan-salah juga bisa menyebabkan kelahiran di neraka Avīci:[3][5]

  1. Pandangan tentang tiadanya dampak dari perbuatan (akiriya diṭṭhi) yang menolak adanya akibat dari karma baik dan karma tidak baik.
  2. Pandangan fatalis tentang tiadanya sebab (ahetuka diṭṭhi) yang menyangkal akar, sebab, dan kondisi. Pandangan ini menolak adanya sebab dari suatu kejadian: semua kejadian muncul karena kebetulan saja—tanpa sebab.
  3. Pandangan nihilis (natthika diṭṭhi) yang menolak baik sebab maupun akibat dari suatu perbuatan.

Periode alam semesta

[sunting | sunting sumber]
Pagoda Wat Arun dibangun untuk menunjukkan kosmologi Buddha

Empat periode perubahan alam semesta menurut kitab Visuddhimagga:

  1. Periode kehancuran (saṁvaṭṭa): dalam periode ini, alam semesta terus menerus mengalami penyusutan (parihāyamāna).
  2. Periode diam atau stabil dalam keadaan hancur (saṁvaṭṭaṭṭhāyī): termasuk ke dalam periode kehancuran—dalam periode ini, alam semesta berada dalam kehancuran dalam jangka waktu yang lama sekali.
  3. Periode terbentang, mengembang, atau pembentukan kembali (vivaṭṭa): alam semesta tumbuh berkembang (vaḍḍhamāna) dalam satu proses yang sangat lama.
  4. Periode kestabilan setelah perkembangan (vivaṭṭaṭṭhāyī): alam semesta berada dalam keadaan seperti ini untuk jangka waktu yang sangat lama.

Satu rentang waktu sejak periode pembentukan hingga kehancuran alam semesta disebut sebagai satu kalpa (Pāli: kappa).

Terbentuknya alam semesta

[sunting | sunting sumber]

Menurut pandangan Buddhis, alam semesta ini sangat luas dengan banyak tata surya yang jumlahnya tidak dapat dihitung. Hal ini diterangkan oleh Sang Buddha sebagai jawaban atas pertanyaan Bhikkhu Ānanda dalam Cūḷanikā Sutta (Aṅguttara Nikāya 3.80):[7]

... “Pernahkah engkau mendengar, Ānanda, tentang seribu sistem dunia kecil?”

“Sekarang adalah waktunya, Sang Bhagavā. Sekarang adalah waktunya, Yang Sempurna. Sudilah Sang Bhagavā menjelaskan. Setelah mendengarnya dari Sang Bhagavā, para bhikkhu akan mengingatnya.”

“Baiklah, Ānanda, dengarkan dan perhatikanlah. Aku akan berbicara.”

“Baik, Bhante,” Yang Mulia Ānanda menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

(1) “Seribu kali dunia di mana matahari dan rembulan berputar ("berevolusi"; penerjemah Inggris menggunakan "revolve") dan menerangi segala penjuru dengan cahayanya disebut seribu sistem dunia kecil. Dalam seribu sistem dunia kecil tersebut terdapat seribu rembulan, seribu matahari, seribu raja pegunungan Sineru, seribu Jambudīpa, seribu Aparagoyāna, seribu Uttarakuru, seribu Pubbavideha, dan seribu empat samudra raya; seribu empat raja dewa, seribu [surga] para deva yang dipimpin oleh empat raja dewa, seribu [surga] Tāvatiṁsa, seribu [surga] Yāma, seribu [surga] Tusita, seribu [surga] para deva yang bersenang-senang dalam penciptaan, seribu [surga] para deva yang mengendalikan ciptaan para deva lain, seribu alam brahmā.

(2) “Sebuah dunia yang terdiri dari seribu kali seribu sistem dunia kecil disebut sistem dunia menengah seribu-pangkat-dua.

(3) “Sebuah dunia yang terdiri dari seribu kali sistem dunia menengah seribu-pangkat-dua disebut sistem dunia besar seribu-pangkat-tiga. Ānanda, Sang Tathāgata dapat menyampaikan suaranya sejauh yang Beliau inginkan dalam sistem dunia besar seribu-pangkat-tiga.”

“Tetapi dengan cara bagaimanakah, Bhante, Sang Tathāgata dapat menyampaikan suaranya sejauh yang Beliau inginkan dalam sistem dunia besar seribu-pangkat-tiga?”

“Di sini, Ānanda, Sang Tathāgata dengan sinarnya meliputi satu sistem dunia besar seribu-pangkat-tiga. Ketika makhluk-makhluk itu merasakan cahaya itu, kemudian Sang Tathāgata memproyeksikan suaranya dan membuat mereka mendengar suara itu. Dengan cara demikianlah, Ānanda, Sang Tathāgata menyampaikan suaranya sejauh yang Beliau inginkan dalam sistem dunia besar seribu-pangkat-tiga.” ...

... “Sutā te, ānanda, sahassī cūḷanikā lokadhātū”ti?

“Etassa, bhagavā, kālo; etassa, sugata, kālo, yaṁ bhagavā bhāseyya. Bhagavato sutvā bhikkhū dhāressantī”ti.

“Tenahānanda, suṇāhi sādhukaṁ manasi karohi, bhāsissāmī”ti.

“Evaṁ, bhante”ti kho āyasmā ānando bhagavato paccassosi. Bhagavā etadavoca:

“Yāvatā, ānanda, candimasūriyā pariharanti, disā bhanti virocanā, tāva sahassadhā loko. Tasmiṁ sahassadhā loke sahassaṁ candānaṁ, sahassaṁ sūriyānaṁ, sahassaṁ sinerupabbatarājānaṁ, sahassaṁ jambudīpānaṁ, sahassaṁ aparagoyānānaṁ, sahassaṁ uttarakurūnaṁ, sahassaṁ pubbavidehānaṁ, cattāri mahāsamuddasahassāni, cattāri mahārājasahassāni, sahassaṁ cātumahārājikānaṁ, sahassaṁ tāvatiṁsānaṁ, sahassaṁ yāmānaṁ, sahassaṁ tusitānaṁ, sahassaṁ nimmānaratīnaṁ, sahassaṁ paranimmitavasavattīnaṁ, sahassaṁ brahmalokānaṁ— ayaṁ vuccatānanda, sahassī cūḷanikā lokadhātu.

Yāvatānanda, sahassī cūḷanikā lokadhātu tāva sahassadhā loko. Ayaṁ vuccatānanda, dvisahassī majjhimikā lokadhātu.

Yāvatānanda, dvisahassī majjhimikā lokadhātu tāva sahassadhā loko. Ayaṁ vuccatānanda, tisahassī mahāsahassī lokadhātu.

Ākaṅkhamāno, ānanda, tathāgato tisahassimahāsahassilokadhātuṁ sarena viññāpeyya, yāvatā pana ākaṅkheyyā”ti.

“Yathā kathaṁ pana, bhante, bhagavā tisahassimahāsahassilokadhātuṁ sarena viññāpeyya, yāvatā pana ākaṅkheyyā”ti?

“Idhānanda, tathāgato tisahassimahāsahassilokadhātuṁ obhāsena phareyya. Yadā te sattā taṁ ālokaṁ sañjāneyyuṁ, atha tathāgato ghosaṁ kareyya saddamanussāveyya. Evaṁ kho, ānanda, tathāgato tisahassimahāsahassilokadhātuṁ sarena viññāpeyya, yāvatā pana ākaṅkheyyā”ti. ...

Cūḷanikā Sutta, AN 3.80

Dengan demikian, sebuah dvisahassi majjhimanika lokadhatu terdapat 1.000 x 1.000 = 1.000.000 tata surya dan sebuah tisahassi mahasahassi lokadhatu terdapat 1.000.000 x 1.000 = 1.000.000.000 tata surya.

Menurut agama Buddha, manusia pertama bukanlah seorang atau dua orang, tetapi banyak orang. Terjadinya Bumi dan manusia pertama yang tidak melibatkan suatu pencipta dunia diuraikan oleh Sang Buddha dalam Aggañña Sutta, Dīgha Nikāya 27[8] dan Brahmajāla Sutta (Dīgha Nikāya 1).[9] Berikut bagian awal Aggañña Sutta (Dīgha Nikāya 27):

Kiamat atau hancur leburnya Bumi dijelaskan dalam Sattasūriya Sutta (Aṅguttara Nikāya 7.66).[10] Menurut Buddhisme, kiamat disebabkan oleh terjadinya musim kemarau yang lama sekali. Selanjutnya, dengan berlangsungnya musim kemarau yang panjang ini, muncullah matahari yang kedua. Lalu, dengan berselangnya suatu masa yang lama, matahari ketiga muncul. Kemudian, matahari keempat hingga ketujuh muncul secara bertahap. Pada waktu matahari ketujuh muncul, bumi terbakar hingga menjadi debu dan lenyap bertebaran di alam semesta.

Mahāyāna

[sunting | sunting sumber]

Aliran-aliran Buddhisme Tibet umumnya meyakini sistem kategorisasi enam alam yang terdiri atas tiga alam baik (surgawi, setengah-dewa, manusia) dan tiga alam buruk (binatang, hantu, neraka). Kategorisasi ini juga sudah ada sejak masa aliran-aliran Buddhis awal. Selain itu, kitab-kitab Buddhis yang lebih awal juga mengenalkan kategorisasi lima alam, bukan enam alam; ketika digambarkan sebagai lima alam, alam dewa dan alam setengah dewa dianggap sebagai satu jenis alam.[6] Pengelompokkan ini masih digunakan oleh beberapa aliran Mahāyāna dan Vajrayāna.

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Mahāthera, Nārada (1995). Sang Buddha dan ajaran-ajaranNya. Yayasan Dhammadipa Arama.
  2. Jinavamsa (2001). The Thirty-one Planes of Existence: (as Transcribed from Bhante Suvanno's Cassette Recording) (dalam bahasa Inggris). Inward Path. ISBN 978-983-9439-57-1.
  3. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Kheminda, Ashin (2020-02-01). KAMMA: Pusaran Kelahiran & Kematian Tanpa Awal. Yayasan Dhammavihari. ISBN 978-623-94011-0-8.
  4. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Na-Rangsi, Sunthorn (2006). The Four Planes of Existence in Theravada Buddhism (dalam bahasa Inggris). Buddhist Publication Society. ISBN 978-955-24-0287-6.
  5. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Jinavamsa (2001). The Thirty-one Planes of Existence: (as Transcribed from Bhante Suvanno's Cassette Recording) (dalam bahasa Inggris). Inward Path. ISBN 978-983-9439-57-1.
  6. 1 2 Buswell, Robert E. (2004). Encyclopedia of Buddhism. New York: Macmillan Reference USA, Thomson Gale. hlm. 711–712. ISBN 978-0-02-865718-9.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  7. Anggara, Indra. "AN 3.80: Cūḷanikāsutta". SuttaCentral. Diakses tanggal 2022-09-18.
  8. Anggara, Indra. "DN 27: Aggaññasutta". SuttaCentral. Diakses tanggal 2022-09-18.
  9. Anggara, Indra. "DN 1: Brahmajālasutta—Indra Anggara". SuttaCentral. Diakses tanggal 2022-09-18.
  10. Anggara, Indra. "AN 7.66: Sattasūriyasutta". SuttaCentral. Diakses tanggal 2022-09-18.

Bacaan lanjutan

[sunting | sunting sumber]