Lompat ke isi

Sosialisme buddhis

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Sosialisme buddhis adalah sebuah ideologi politik yang mengadvokasikan sosialisme berdasarkan pada prinsip-prinsip Buddhisme.

Orang-orang yang disebut sebagai sosialis Buddhis meliputi Buddhadasa Bhikkhu,[1][2] B. R. Ambedkar,[3] Han Yong-un,[4] Seno’o Girō,[5] U Nu dan Norodom Sihanouk.[6][7]

Bhikkhu Buddhadasa mencanangkan frasa "sosialisme Dhammis".[2]

Pernyataan Dalai Lama ke-14

[sunting | sunting sumber]

Tenzin Gyatso, Dalai Lama ke-14 di Tibet pernah mengomentar:

Dari seluruh teori ekonomi moderen, sistem ekonomi Marxisme dicetus berdasarkan prinsip moral, sementara kapitalisme hanya mementingkan keuntungan dan profitabilitas. ... Kegagalan rezim di bekas Uni Soviet adalah, bagi saya, bukanlah kegagalan Marxisme melainkan kegagalan totalitarianisme. Untuk alasan ini saya masih merasa diri saya sebagai setengah Marxis, setengah Buddhis.[8]

Pandangan Buddhisme oleh sosialis

[sunting | sunting sumber]

Karl Marx tentu menyadari bahwa adanya agama Buddha, namun ia tidak meneliti agama tersebut secara rinci di karya tulisnya. Namun di sebuah surat, Marx pernah menulis:

Aku telah menjadi semacam tongkat jalan, berlarian ke sana kemari sepanjang hari, dan menjaga pikiranku dalam keadaan kehampaan yang oleh Buddhisme dianggap sebagai puncak kebahagiaan manusia.[9]

Ini menunjukkan bahwa setidaknya ia menyadari beberapa prinsip Buddha. Menurut Sam Dresser, Sosialisme memiliki kesamaan dengan Marxisme dalam struktur dasar menganalisis penyebab penderitaan dan meresepkan pengobatan. Dresser juga membandingkan pandangan Marx tentang diri dengan pandangan Buddha. Dresser berpendapat bahwa bagi Marx, karena diri ditentukan oleh totalitas semua hubungan sosial dan ekonomi, tidak ada diri yang tetap.[9]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Puntarigvivat, Tavivat (2003). Buddhadasa Bhikkhu and Dhammic Socialism, The Chulalongkorn Journal of Buddhist Studies 2 (2), 189-207
  2. 1 2 "What is Dhammic Socialism?". Diarsipkan dari asli tanggal 2010-01-26. Diakses tanggal 2016-09-09. {{cite web}}:
  3. Badal Sarkar, Dr. B.R. Ambedkar’s theory of State Socialism, International Research Journal of Social Sciences 2 (8), 38-41 (2013) PDF
  4. Tikhonov, Vladimir, Han Yongun's Buddhist Socialism in the 1920s-1930s, International Journal of Buddhist Thought and Culture 6, 207-228 (2006). PDF Diarsipkan 2011-07-27 di Wayback Machine.
  5. Shields, James Mark; Blueprint for Buddhist Revolution The Radical Buddhism of Seno’o Girō (1889–1961) and the Youth League for Revitalizing Buddhism, Japanese Journal of religious Studies 39 (2), 331-351 (2012) PDF
  6. "Cambodia Under the Khmer Rouge". Diarsipkan dari asli tanggal 2010-10-16. Diakses tanggal 2016-09-09. {{cite web}}:
  7. Monarchy in South-East Asia: the faces of tradition in transition
  8. "Dalai Lama Answers Questions on Various Topics". hhdl.dharmakara.net. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 November 2018. Diakses tanggal 14 June 2022.
  9. 1 2 Dresser, Sam. "How Marxism and Buddhism complement each other | Aeon Essays" (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari asli tanggal 2026-01-21. Diakses tanggal 2026-07-02.

Bacaan tambahan

[sunting | sunting sumber]
  • Jones, Charles (2000). "Buddhism and Marxism in Taiwan: Lin Qiuwu's Religious Socialism and its Legacy in Modern Times". Journal of Global Buddhism 1, 82–111.

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]