Budi

Budi adalah sesuatu yang berpikir, merasa, mempersepsikan, membayangkan, mengingat, dan berkehendak. Ia mencakup keseluruhan fenomena mental, termasuk baik proses sadar, yang melaluinya seorang individu menyadari keadaan eksternal dan internalnya, maupun proses bawah sadar, yang dapat memengaruhi seorang individu tanpa adanya niat atau kesadaran. Budi memainkan peran sentral dalam sebagian besar aspek kehidupan manusia, tetapi sifat sejatinya masih diperdebatkan. Beberapa karakterisasi berfokus pada aspek internal, yang menyatakan bahwa budi memproses informasi dan tidak dapat diakses secara langsung oleh pengamat luar. Sementara yang lain menekankan hubungannya dengan perilaku lahiriah, memahami fenomena mental sebagai kecenderungan untuk terlibat dalam perilaku yang dapat diamati.
Masalah budi-tubuh adalah tantangan dalam menjelaskan hubungan antara materi dan budi. Secara tradisional, budi dan materi sering dianggap sebagai substansi berbeda yang dapat eksis secara independen satu sama lain. Pandangan filosofis yang dominan sejak abad ke-20 adalah fisikalisme, yang berpandangan bahwa segala sesuatunya bersifat material, yang berarti bahwa budi adalah aspek atau fitur tertentu dari suatu objek material. Sejarah evolusi budi terkait erat dengan perkembangan sistem saraf, yang mengarah pada pembentukan otak. Seiring dengan otak yang menjadi semakin kompleks, jumlah dan kapasitas fungsi mental pun meningkat dengan area-area otak tertentu dikhususkan untuk fungsi mental yang spesifik. Budi manusia secara individu juga berkembang seiring berjalannya waktu saat mereka belajar dari pengalaman dan melewati tahapan-tahapan psikologis dalam proses penuaan. Beberapa orang terdampak oleh gangguan mental, yang mana kapasitas mental tertentu tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
Diterima secara luas bahwa setidaknya sebagian hewan non-manusia memiliki suatu bentuk budi, tetapi masih menjadi kontroversi mengenai hewan apa saja yang memenuhi kriteria ini. Topik mengenai budi buatan menghadirkan tantangan yang serupa dan para ahli teori mendiskusikan kemungkinan serta konsekuensi dari penciptaannya menggunakan komputer.
Bidang-bidang utama yang mengkaji budi meliputi psikologi, ilmu saraf, ilmu kognitif, dan filsafat budi. Disiplin ilmu tersebut cenderung berfokus pada aspek budi yang berbeda-beda serta menggunakan metode penyelidikan yang beragam, mulai dari pengamatan empiris dan pencitraan saraf hingga analisis konseptual dan eksperimen pikiran. Budi relevan dengan banyak bidang lainnya, termasuk epistemologi, antropologi, agama, dan pendidikan.
Definisi
[sunting | sunting sumber]Budi adalah keseluruhan dari fenomena dan kapasitas psikologis, mencakup baik keadaan sadar maupun bawah sadar. Istilah budi terkadang digunakan dalam arti sempit untuk merujuk hanya pada fungsi kognitif yang berkaitan dengan persepsi, penalaran, kesadaran, dan ingatan. Dalam arti yang lebih luas, ini juga mencakup proses-proses seperti perasaan, motivasi, dan perilaku.[1] Definisi pasti dari budi masih diperdebatkan. Meskipun secara umum diterima bahwa beberapa hewan non-manusia juga memiliki budi, tidak ada kesepakatan mengenai di mana tepatnya batas tersebut berada.[2] Terlepas dari perdebatan ini, terdapat kesepakatan luas bahwa budi memainkan peran sentral dalam sebagian besar aspek kehidupan manusia sebagai pusat kesadaran, emosi, pikiran, dan rasa identitas pribadi.[3] Berbagai bidang penyelidikan mengkaji budi; yang utama meliputi psikologi, ilmu kognitif, ilmu saraf, dan filsafat budi.[4]
Kata budi dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan yang berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu buddhi (Sanskerta: बुद्धि).[5] Dalam bahasa asalnya, istilah ini merujuk pada kecerdasan, akal, pemahaman, dan intelek. Kata buddhi sendiri berakar dari kata kerja budh, yang memiliki arti 'bangun', 'sadar', 'mengetahui', atau 'memahami'.[6] Seiring dengan masuknya pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha ke Nusantara, kata ini diserap ke dalam bahasa Melayu dan perlahan mengalami perluasan makna. Dalam penggunaannya di bahasa Indonesia modern, kata budi tidak hanya merujuk pada kapasitas mental atau akal pikiran (sebagai padanan kata mind dalam bahasa Inggris), tetapi juga mencakup makna tabiat, watak, akhlak, dan perbuatan yang baik.[7]
Kata psike dan mentalitas biasanya digunakan sebagai sinonim dari budi.[8] Keduanya sering digunakan dengan cara yang tumpang tindih dengan istilah jiwa, roh, kognisi, intelek, kecerdasan, dan otak, tetapi maknanya tidak sama persis. Sebagian agama memahami jiwa sebagai entitas independen yang menyusun esensi immaterial dari manusia, berasal dari yang ilahi, bertahan setelah kematian tubuh, dan bersifat abadi.[9] Kata roh memiliki berbagai makna tambahan yang tidak terkait langsung dengan budi, seperti prinsip vital yang menghidupkan makhluk hidup atau sebuah makhluk supernatural yang mendiami benda atau tempat.[10] Kognisi mencakup jenis-jenis proses mental tertentu di mana pengetahuan diperoleh dan informasi diproses.[11] Intelek adalah salah satu kapasitas mental yang bertanggung jawab atas pikiran, penalaran, dan pemahaman[12] dan terkait erat dengan kecerdasan sebagai kemampuan untuk memperoleh, memahami, dan menerapkan pengetahuan.[13] Otak adalah organ fisik yang bertanggung jawab atas sebagian besar atau semua fungsi mental.[14]
Kata bahasa Inggris modern mind (budi) berasal dari kata bahasa Inggris Kuno gemynd, yang berarti 'ingatan'. Istilah ini melahirkan kata-kata bahasa Inggris Pertengahan mind(e), münd(e), dan mend(e), yang menghasilkan perluasan makna secara perlahan untuk mencakup semua kapasitas mental. Makna aslinya tetap dipertahankan dalam berbagai ungkapan seperti call to mind dan keep in mind. Kata-kata yang berkerabat meliputi kata bahasa Jerman Hulu Kuno gimunt, bahasa Gotik gamunds, bahasa Yunani Kuno μένος, bahasa Latin mens, dan bahasa Sanskerta manas.[15][a]
Bentuk
[sunting | sunting sumber]Budi mencakup banyak fenomena, termasuk persepsi, ingatan, pemikiran, imajinasi, motivasi, emosi, perhatian, pembelajaran, dan kesadaran.[17] Persepsi adalah proses menafsirkan dan mengorganisasikan informasi sensorik untuk mengenal lingkungan. Informasi ini diperoleh melalui organ indra yang reseptif terhadap berbagai jenis stimulus fisik, yang berkaitan dengan bentuk persepsi yang berbeda-beda, seperti penglihatan, pendengaran, sentuhan, penciuman, dan pengecapan. Informasi sensorik yang diterima berfungsi sebagai data mentah yang disaring dan diproses untuk secara aktif menyusun pengalaman tentang dunia beserta objek-objek di dalamnya. Proses kompleks yang mendasari pengalaman perseptual ini dibentuk oleh banyak faktor, termasuk berbagai pengalaman masa lalu individu tersebut, latar belakang budaya, keyakinan, pengetahuan, dan harapan.[18]
Ingatan adalah mekanisme menyimpan dan memanggil kembali informasi.[19] Ingatan episodik menangani informasi mengenai peristiwa-peristiwa spesifik di masa lalu dalam kehidupan seseorang dan menyediakan informasi ini di masa sekarang. Ketika seseorang mengingat apa yang mereka makan untuk makan malam kemarin, mereka sedang menggunakan ingatan episodik. Ingatan semantik menangani pengetahuan umum tentang dunia yang tidak terikat pada episode spesifik apa pun. Ketika seseorang mengingat bahwa ibu kota Jepang adalah Tokyo, mereka biasanya menggunakan ingatan semantik untuk mengakses informasi umum ini tanpa mengingat momen spesifik saat mereka mempelajarinya. Ingatan prosedural adalah ingatan tentang bagaimana melakukan sesuatu, seperti mengendarai sepeda atau memainkan alat musik.[20] Perbedaan lainnya adalah antara ingatan jangka pendek, yang menyimpan informasi untuk periode singkat, biasanya dengan tujuan menyelesaikan tugas kognitif spesifik, dan ingatan jangka panjang, yang dapat menyimpan informasi untuk waktu yang lama, bahkan berpotensi bertahan seumur hidup.[21]
Berpikir melibatkan pemrosesan informasi serta manipulasi berbagai konsep dan ide. Proses ini berorientasi pada tujuan dan sering kali terjadi sebagai respons terhadap berbagai pengalaman dengan sasaran memahaminya, mengorganisasikan informasinya, dan memutuskan bagaimana harus merespons.[22] Penalaran logis adalah suatu bentuk pemikiran yang berawal dari serangkaian premis dan bertujuan untuk mencapai kesimpulan yang didukung oleh premis-premis tersebut. Hal ini terjadi saat menyimpulkan bahwa "Socrates bisa mati" dari premis "Socrates adalah seorang manusia" dan "semua manusia bisa mati".[23] Pemecahan masalah adalah proses yang berkaitan erat dan terdiri dari beberapa langkah, seperti mengidentifikasi suatu masalah, mengembangkan rencana untuk mengatasinya, mengimplementasikan rencana tersebut, dan mengevaluasi apakah rencana itu berhasil.[24] Pemikiran dalam bentuk pengambilan keputusan melibatkan pertimbangan atas berbagai kemungkinan tindakan untuk menilai mana yang paling menguntungkan.[25] Sebagai suatu proses simbolis, pemikiran sangat berkaitan erat dengan bahasa, dan beberapa ahli teori berpandangan bahwa semua pikiran terjadi melalui perantara bahasa.[26]
Imajinasi adalah proses kreatif dalam menghasilkan citra, ide, pengalaman, dan fenomena mental terkait secara internal. Berbeda halnya dengan persepsi, imajinasi tidak bergantung secara langsung pada stimulasi organ indra. Mirip dengan bermimpi, konstruksi-konstruksi mental ini sering kali bersumber dari pengalaman sebelumnya tetapi dapat mencakup kombinasi dan elemen yang baru. Imajinasi terjadi selama melamun dan memainkan peran kunci dalam seni serta sastra. Selain itu, ia juga dapat digunakan untuk menghasilkan berbagai solusi baru bagi masalah-masalah di dunia nyata.[27]
Motivasi adalah keadaan internal yang mendorong individu untuk memulai, melanjutkan, atau mengakhiri perilaku yang diarahkan pada tujuan. Hal ini bertanggung jawab atas pembentukan niat untuk melakukan tindakan dan memengaruhi sasaran apa yang dikejar oleh seseorang, seberapa banyak upaya yang mereka kerahkan dalam aktivitas tersebut, dan seberapa lama mereka terlibat di dalamnya.[28] Motivasi dipengaruhi oleh emosi, yang merupakan pengalaman sementara dari perasaan positif atau negatif seperti kegembiraan atau kemarahan. Emosi diarahkan pada dan mengevaluasi peristiwa, orang, atau situasi tertentu. Emosi biasanya muncul bersamaan dengan respons fisiologis dan perilaku tertentu.[29]
Perhatian adalah aspek dari proses mental lainnya di mana sumber daya mental seperti kesadaran diarahkan pada fitur-fitur pengalaman tertentu dan dijauhkan dari fitur-fitur lainnya. Hal ini terjadi ketika seorang pengemudi berfokus pada lalu lintas sambil mengabaikan papan iklan di pinggir jalan. Perhatian dapat dikendalikan secara sukarela dalam mengejar tujuan-tujuan spesifik tetapi juga dapat dialihkan secara tidak sengaja ketika sebuah stimulus yang kuat menarik perhatian seseorang.[30] Perhatian relevan dengan pembelajaran, yaitu kemampuan budi untuk memperoleh informasi baru serta secara permanen memodifikasi pemahaman dan pola perilakunya. Individu belajar dengan menjalani berbagai pengalaman, yang membantu mereka beradaptasi dengan lingkungan.[31]
Sadar dan bawah sadar
[sunting | sunting sumber]Sebuah pembedaan yang berpengaruh adalah antara proses mental sadar dan tak sadar. Kesadaran adalah kondisi menyadari keadaan eksternal maupun internal. Ini mencakup berbagai macam keadaan, seperti persepsi, pemikiran, berfantasi, bermimpi, dan kondisi kesadaran yang berubah.[32] Dalam kasus kesadaran fenomenal, kesadaran tersebut melibatkan pengalaman fenomena mental yang bersifat langsung dan kualitatif, seperti pengalaman pendengaran saat menghadiri sebuah konser. Sebaliknya, kesadaran akses merujuk pada kesadaran akan informasi yang dapat diakses oleh proses mental lainnya tetapi belum tentu menjadi bagian dari pengalaman saat ini. Sebagai contoh, informasi yang tersimpan dalam suatu ingatan mungkin dapat diakses ketika menarik kesimpulan atau memandu tindakan bahkan saat orang tersebut tidak sedang memikirkannya secara eksplisit.[33]
Proses mental tak sadar atau nirsadar beroperasi tanpa kesadaran individu tetapi masih dapat memengaruhi fenomena mental pada tingkat pikiran, perasaan, dan tindakan. Beberapa ahli teori membedakan antara keadaan prasadar, bawah sadar, dan tak sadar bergantung pada tingkat aksesibilitasnya terhadap kesadaran sadar.[34][b] Ketika diterapkan pada keadaan keseluruhan seseorang alih-alih pada proses-proses spesifik, istilah tak sadar menyiratkan bahwa orang tersebut kehilangan kesadaran apa pun terhadap lingkungan maupun dirinya sendiri, seperti selama mengalami koma.[36] Budi bawah sadar memainkan peran sentral dalam psikoanalisis sebagai bagian dari budi yang berisi berbagai pikiran, ingatan, dan hasrat yang tidak dapat diakses oleh introspeksi sadar. Menurut Sigmund Freud, mekanisme psikologis dari represi mencegah fenomena yang mengganggu, seperti dorongan seksual dan agresif yang tidak dapat diterima, agar tidak memasuki kesadaran demi melindungi individu tersebut. Teori psikoanalitik mengkaji gejala-gejala yang disebabkan oleh proses ini beserta metode terapeutik untuk menghindarinya dengan cara membuat pikiran yang direpresi menjadi dapat diakses oleh kesadaran sadar.[37]
Pembedaan lainnya
[sunting | sunting sumber]Keadaan mental sering kali dibagi menjadi keadaan kualitatif dan proposisional. Keadaan kualitatif adalah pengalaman atas kualitas sensorik, yang umumnya disebut sebagai qualia, seperti warna, suara, bau, rasa sakit, gatal, dan lapar. Keadaan proposisional melibatkan suatu sikap terhadap sebuah konten yang dapat diekspresikan dengan kalimat deklaratif. Ketika seseorang percaya bahwa hari sedang hujan, mereka memiliki sikap proposisional berupa keyakinan terhadap konten "hari sedang hujan". Berbagai jenis keadaan proposisional dicirikan oleh perbedaan sikap terhadap kontennya. Sebagai contoh, adalah mungkin juga untuk berharap, takut, mendamba, atau ragu bahwa hari sedang hujan.[38][c]
Sebuah keadaan atau proses mental bersifat rasional jika didasarkan pada alasan yang baik atau mengikuti norma-norma rasionalitas. Sebagai contoh, sebuah keyakinan bersifat rasional jika bersandar pada bukti pendukung yang kuat dan sebuah keputusan bersifat rasional jika mengikuti pertimbangan saksama atas semua faktor serta hasil yang relevan. Keadaan mental bersifat irasional jika gagal mematuhi standar-standar ini, seperti keyakinan yang disebabkan oleh penalaran yang keliru, takhayul, atau bias kognitif, serta keputusan yang menyerah pada godaan dan bertentangan dengan penilaian terbaik seseorang.[40] Keadaan mental yang berada di luar ranah evaluasi rasional tidak bersifat irasional, melainkan arasional. Terdapat kontroversi mengenai fenomena mental apa saja yang berada di luar ranah ini; beberapa contoh yang diajukan meliputi kesan sensorik, perasaan, hasrat, dan respons yang tidak disengaja.[41]
Kontras lainnya adalah antara keadaan mental disposisional dan okuren. Keadaan disposisional adalah suatu daya yang tidak sedang digunakan. Jika seseorang percaya bahwa kucing memiliki kumis tetapi tidak sedang memikirkan fakta tersebut, hal itu merupakan sebuah keyakinan disposisional. Dengan mengaktifkan keyakinan tersebut untuk memikirkannya secara sadar atau menggunakannya dalam proses kognitif lainnya, keyakinan itu menjadi okuren hingga ia tidak lagi secara aktif dipertimbangkan atau digunakan. Sebagian besar keyakinan seseorang bersifat disposisional hampir di sepanjang waktu.[42]
Fakultas dan modul
[sunting | sunting sumber]Secara tradisional, budi disubbagi menjadi fakultas-fakultas mental yang dipahami sebagai kapasitas untuk menjalankan fungsi tertentu atau menghasilkan proses tertentu.[43] Sebuah subbagian yang berpengaruh dalam sejarah filsafat adalah antara fakultas intelek dan kehendak.[44] Intelek mencakup fenomena mental yang bertujuan untuk memahami dunia serta menentukan apa yang harus diyakini atau apa yang benar; kehendak berkaitan dengan masalah-masalah praktis dan apa yang baik, tercermin dalam berbagai fenomena seperti hasrat, pengambilan keputusan, dan tindakan.[45] Jumlah pasti dan sifat dari fakultas-fakultas mental masih diperdebatkan. Pembedaan yang lebih berbutir halus membagi intelek menjadi fakultas pemahaman dan penilaian atau menambahkan sensibilitas sebagai fakultas tambahan yang bertanggung jawab atas kesan-kesan sensorik.[46][d]

Berbeda dengan pandangan tradisional, berbagai pendekatan yang lebih mutakhir menganalisis budi dalam kerangka modul-modul mental alih-alih fakultas.[49] Modul mental adalah sistem bawaan lahir pada otak yang secara otomatis menjalankan fungsi tertentu dalam suatu ranah spesifik tanpa kesadaran atau upaya yang disengaja. Berbeda dengan fakultas, konsep modul mental biasanya digunakan untuk memberikan penjelasan yang lebih terbatas. Konsep ini umumnya dibatasi pada proses-proses kognitif tingkat rendah tertentu tanpa mencoba menjelaskan bagaimana mereka terintegrasi ke dalam proses-proses tingkat tinggi seperti penalaran sadar.[50][e] Banyak proses kognitif tingkat rendah yang bertanggung jawab atas persepsi visual memiliki sifat otomatis dan tak sadar ini. Dalam kasus ilusi visual seperti ilusi Müller-Lyer, proses-proses yang mendasarinya terus beroperasi dan ilusi tersebut tetap ada bahkan setelah seseorang menyadari ilusi itu, mengindikasikan sifat yang mekanis dan tidak disengaja dari proses tersebut.[52] Contoh-contoh lain dari modul mental berkaitan dengan proses kognitif yang bertanggung jawab atas pemrosesan bahasa dan pengenalan wajah.[53]
Teori tentang hakikat budi
[sunting | sunting sumber]Berbagai teori tentang hakikat budi bertujuan untuk menentukan kesamaan apa yang dimiliki oleh semua keadaan mental. Teori-teori ini berupaya menemukan "ciri dari hal yang mental", yaitu, kriteria yang membedakan antara fenomena mental dan non-mental.[54] Kriteria epistemik menyatakan bahwa fitur unik dari keadaan mental adalah bagaimana orang mengetahuinya. Sebagai contoh, jika seseorang mengalami sakit gigi, mereka memiliki pengetahuan langsung atau non-inferensial bahwa mereka sedang kesakitan. Namun mereka tidak memiliki jenis pengetahuan semacam ini mengenai fenomena non-mental seperti penyebab fisik dari rasa sakit tersebut, dan mungkin harus berkonsultasi dengan bukti eksternal melalui pemeriksaan visual atau kunjungan ke dokter gigi. Fitur lain yang umumnya dilekatkan pada keadaan mental adalah sifatnya yang privat, yang berarti bahwa orang lain tidak memiliki akses langsung ke keadaan mental seseorang. Sebagai akibatnya, pengamat luar harus membuat kesimpulan dari indikator-indikator lain, seperti perilaku kesakitan dari orang yang sakit gigi tersebut. Beberapa filsuf mengklaim bahwa pengetahuan tentang beberapa atau semua keadaan mental bersifat infalibel (tidak bisa salah), misalnya, bahwa seseorang tidak mungkin keliru tentang apakah mereka sedang kesakitan atau tidak.[55]
Pandangan yang berkaitan menegaskan bahwa semua keadaan mental bersifat sadar atau dapat diakses oleh kesadaran. Menurut pandangan ini, ketika seseorang secara aktif mengingat fakta bahwa Menara Eiffel berada di Paris, maka keadaan tersebut adalah mental karena menjadi bagian dari kesadaran. Ketika orang tersebut tidak memikirkannya, keyakinan ini tetap dianggap sebagai keadaan mental karena orang tersebut dapat membawanya ke dalam kesadaran dengan cara memikirkannya. Pandangan ini menyangkal adanya "ketidaksadaran yang dalam", yaitu, keadaan mental tak sadar yang pada prinsipnya tidak dapat menjadi sadar.[56]
Teori lainnya mengatakan bahwa intensionalitas[f] adalah ciri dari hal yang mental. Suatu keadaan bersifat intensional jika ia merujuk pada atau merepresentasikan sesuatu. Sebagai contoh, jika seseorang mempersepsikan sebuah piano atau memikirkannya, maka keadaan mental tersebut bersifat intensional karena merujuk pada sebuah piano. Pandangan ini membedakan antara intensionalitas orisinal dari fenomena mental dan intensionalitas turunan dari beberapa fenomena non-mental. Menurut pandangan ini, kemampuan kata-kata dan gambar untuk merujuk pada berbagai hal berasal dari fakta bahwa mereka dapat membangkitkan keadaan mental. Dalam pengertian ini, hanya keadaan mental yang memiliki intensionalitas orisinal, sementara kata-kata dan gambar memiliki intensionalitas turunan karena mereka tidak akan merujuk pada apa pun jika dipisahkan dari konvensi linguistik atau interpretasi visual. Beberapa filsuf tidak setuju bahwa semua keadaan mental bersifat intensional, dengan mengutip rasa gatal, geli, dan sakit sebagai kemungkinan pengecualiannya.[58]
Menurut behaviorisme, keadaan mental adalah kecenderungan untuk terlibat dalam perilaku tertentu yang dapat diamati secara publik sebagai reaksi terhadap berbagai stimulus eksternal tertentu. Pandangan ini menyiratkan bahwa fenomena mental bukanlah keadaan internal yang privat, melainkan dapat diakses oleh pengamatan empiris layaknya fenomena fisik biasa.[59] Fungsionalisme sepakat bahwa keadaan mental tidak bergantung pada konstitusi internal budi yang pasti dan sebaliknya mengarakterisasinya berdasarkan peran fungsionalnya. Peran fungsional dari suatu keadaan mental adalah caranya berinteraksi dengan fenomena lain. Sebagai contoh, rasa sakit sering kali disebabkan oleh cedera tubuh dan biasanya mengarah pada perilaku kesakitan, seperti mengerang, serta hasrat untuk menghentikan rasa sakit tersebut. Sebagai hasilnya, cedera, perilaku kesakitan, dan hasrat adalah bagian dari peran fungsional rasa sakit.[60] Komputasionalisme, sebuah teori serupa yang menonjol dalam ilmu kognitif, mendefinisikan budi dalam kerangka kognisi dan komputasi sebagai pemroses informasi.[61]
Berbagai teori di bawah payung eksternalisme menekankan ketergantungan budi pada lingkungan. Menurut pandangan ini, keadaan mental beserta kontennya setidaknya ditentukan sebagian oleh keadaan eksternal.[62] Sebagai contoh, beberapa bentuk eksternalisme konten berpandangan bahwa ia dapat bergantung pada keadaan eksternal mengenai apakah suatu keyakinan merujuk pada sebuah objek atau yang lainnya.[63] Posisi kognisi tersemat menekankan bahwa proses mental terjadi dalam konteks lingkungan fisik dan sosial. Pandangan ini mengkaji bagaimana konteks tersebut membentuk aktivitas kognitif.[64] Tesis budi yang diperluas menyatakan bahwa keadaan eksternal tidak hanya memengaruhi budi, tetapi juga merupakan bagian darinya. Dalam pengertian ini, buku harian adalah bagian dari budi karena membantu menyimpan informasi. Serupa dengan hal itu, kalkulator elektronik adalah bagian dari budi karena membantu melakukan perhitungan.[65] Pandangan yang berkaitan erat tentang enaktivisme berpandangan bahwa proses mental melibatkan interaksi antara organisme dan lingkungan.[66] Sebuah teori dari bidang kognisi berwujud menyatakan bahwa hubungan dengan tubuh merupakan fitur esensial dari budi. Teori ini menegaskan bahwa aspek-aspek tertentu dari tubuh di luar sistem saraf, seperti kapasitas motorik, adalah bagian dari budi.[67][g]
Hubungan dengan materi
[sunting | sunting sumber]Masalah budi-tubuh
[sunting | sunting sumber]Masalah budi-tubuh adalah kesulitan dalam memberikan penjelasan umum tentang hubungan antara budi dan tubuh, sebagai contoh, hubungan antara pikiran dan proses-proses otak. Terlepas dari karakteristik keduanya yang berbeda, budi dan tubuh saling berinteraksi satu sama lain, seperti ketika perubahan pada tubuh menyebabkan ketidaknyamanan mental atau ketika anggota gerak bergerak karena adanya sebuah niat.[69] Masalah budi-tubuh menjadi sangat menonjol dalam filsafat modern sebagai akibat dari pembedaan metafisik Descartes antara budi dan tubuh. Para filsuf terdahulu pada umumnya tidak melihat budi dan tubuh sebagai prinsip-prinsip yang bertentangan.[70][h] Mengikuti filsafat Descartes, budi sering kali dikonseptualisasikan sebagai entitas substansial yang mampu eksis dengan sendirinya. Kini budi lebih umum dipandang sebagai kapasitas alih-alih entitas yang independen.[72]

Menurut dualisme substansi, budi atau jiwa eksis sebagai entitas yang independen di samping hal-hal yang material. Pandangan ini menyiratkan bahwa, setidaknya pada prinsipnya, budi dapat eksis tanpa tubuh.[74] Dualisme properti adalah pandangan lainnya, yang menyatakan bahwa budi dan materi bukanlah entitas yang independen melainkan properti berbeda yang berlaku pada individu yang sama.[75] Sebaliknya, pandangan monis menyatakan bahwa realitas hanya tersusun dari satu jenis. Menurut para penganut idealisme metafisik, misalnya, segala sesuatunya bersifat mental.[76][i] Mereka memahami hal-hal material sebagai fenomena mental, contohnya, sebagai gagasan atau persepsi.[78] Sebaliknya, menurut para penganut monisme netral, dunia pada tingkat yang paling mendasar bukanlah fisik maupun mental melainkan netral. Mereka memandang konsep fisik dan mental sebagai cara yang praktis tetapi superfisial dalam menggambarkan realitas.[79]
Pandangan monis yang paling berpengaruh sejak abad ke-20 adalah fisikalisme, yang juga disebut sebagai materialisme,[j] yang menyatakan bahwa segala sesuatunya bersifat fisik.[81] Menurut fisikalisme eliminatif, tidak ada fenomena mental, yang berarti bahwa berbagai hal seperti keyakinan dan hasrat tidak membentuk bagian dari realitas.[82] Para penganut fisikalisme reduktif mempertahankan posisi yang tidak terlalu radikal: mereka mengatakan bahwa keadaan mental itu eksis tetapi, setidaknya pada prinsipnya, dapat digambarkan sepenuhnya oleh fisika tanpa perlu adanya ilmu-ilmu khusus seperti psikologi. Sebagai contoh, penganut behaviorisme bertujuan untuk menganalisis konsep-konsep mental dalam kerangka perilaku yang dapat diamati tanpa menggunakan keadaan mental internal.[83] Teori identitas tipe juga tergolong dalam fisikalisme reduktif dan mengatakan bahwa keadaan mental adalah hal yang sama dengan keadaan otak.[84] Meskipun para penganut fisikalisme non-reduktif setuju bahwa segala sesuatunya bersifat fisik, mereka menyatakan bahwa konsep-konsep mental mendeskripsikan realitas fisik pada tingkat yang lebih abstrak yang tidak dapat diartikulasikan oleh fisika.[85] Menurut fungsionalisme, konsep-konsep mental tidak mendeskripsikan konstitusi internal dari substansi fisik melainkan peran fungsional dalam suatu sistem.[86] Salah satu konsekuensi dari pandangan ini adalah bahwa budi tidak bergantung pada otak melainkan juga dapat diwujudkan oleh berbagai sistem lainnya yang mengimplementasikan peran fungsional yang sesuai, yang mungkin saja termasuk komputer.[87] Sebuah pendekatan yang berbeda, yang ditemukan dalam tradisi fenomenologi, bertujuan untuk membubarkan masalah budi-tubuh dengan berargumen bahwa hal tersebut didasarkan pada suatu dikotomi artifisial yang tidak hadir dalam deskripsi pengalaman secara fenomenologis.[88]
Masalah sulit kesadaran merupakan aspek sentral dari masalah budi-tubuh: ini adalah tantangan dalam menjelaskan bagaimana keadaan fisik dapat memunculkan pengalaman sadar. Kesulitan utamanya terletak pada sifat subjektif dan kualitatif dari kesadaran, yang berbeda dengan proses fisik pada umumnya. Masalah sulit kesadaran kontras dengan "masalah-masalah mudah" dalam menjelaskan bagaimana aspek-aspek kesadaran tertentu berfungsi, seperti halnya persepsi, ingatan, atau pembelajaran.[89]
Area dan proses otak
[sunting | sunting sumber]Pendekatan lain terhadap hubungan antara budi dan materi menggunakan pengamatan empiris untuk mengkaji bagaimana otak bekerja serta area dan proses otak mana yang berkaitan dengan fenomena mental tertentu.[90] Otak adalah organ sentral dari sistem saraf dan hadir pada semua vertebrata serta sebagian besar invertebrata. Otak manusia memiliki kompleksitas yang khas dan terdiri dari sekitar 86 miliar neuron, yang saling berkomunikasi satu sama lain melalui sinapsis.[91] Mereka membentuk jaringan saraf yang kompleks dan berbagai proses kognitif muncul dari interaksi listrik serta kimianya.[92] Otak manusia dibagi menjadi wilayah-wilayah yang berkaitan dengan fungsi yang berbeda-beda. Wilayah utamanya adalah otak belakang, otak tengah, dan otak depan.[93] Banyak fungsi biologis yang berkaitan dengan kelangsungan hidup dasar merupakan tanggung jawab otak belakang dan otak tengah. Fungsi-fungsi mental yang lebih tinggi, mulai dari pikiran hingga motivasi, pada utamanya terlokalisasi di otak depan.[94]

Operasi-operasi utama dari berbagai fenomena mental yang utama berlokasi di area-area spesifik pada otak depan. Korteks prefrontal bertanggung jawab atas berbagai fungsi eksekutif, seperti perencanaan, pengambilan keputusan, pemecahan masalah, dan memori kerja.[95] Korteks sensorik memproses dan menafsirkan informasi sensorik, dengan subarea berbeda dikhususkan untuk berbagai indra, seperti area visual dan auditori. Sebuah fungsi sentral dari hipokampus adalah pembentukan dan pemanggilan kembali ingatan jangka panjang. Ini tergolong dalam sistem limbik, yang memainkan peran kunci dalam regulasi emosi melalui amigdala. Korteks motorik bertanggung jawab dalam merencanakan, mengeksekusi, dan mengendalikan gerakan sadar. Area Broca adalah sebuah wilayah terpisah yang dikhususkan untuk produksi wicara.[96] Aktivitas dari berbagai area yang berbeda ini secara tambahan dipengaruhi oleh neurotransmiter, yang merupakan molekul pemberi sinyal yang meningkatkan atau menghambat berbagai jenis komunikasi saraf. Sebagai contoh, dopamin memengaruhi motivasi dan rasa nikmat sedangkan serotonin memengaruhi suasana hati dan nafsu makan.[97]
Keterkaitan yang erat dari proses otak dan budi terlihat dari pengaruh yang ditimbulkan oleh berbagai perubahan fisik otak terhadap budi. Contohnya, konsumsi obat psikoaktif, seperti kafein, antidepresan, alkohol, dan psikedelik, secara temporer memengaruhi kimia otak dengan beragam efek pada budi, mulai dari peningkatan perhatian hingga perubahan suasana hati, gangguan fungsi kognitif, dan halusinasi.[98] Berbagai perubahan jangka panjang pada otak dalam bentuk penyakit neurodegeneratif dan cedera otak dapat mengarah pada alterasi permanen pada fungsi mental. Penyakit Alzheimer pada stadium pertamanya merusak hipokampus, mengurangi kemampuan untuk membentuk ingatan baru dan mengingat ingatan yang sudah ada.[99] Sebuah kasus yang sering dikutip tentang efek cedera otak adalah kasus Phineas Gage, yang korteks prefrontalnya rusak parah selama kecelakaan kerja ketika sebatang besi menusuk tengkorak dan otaknya. Gage selamat dari kecelakaan itu tetapi kepribadian serta sikap sosialnya berubah drastis saat ia menjadi lebih impulsif, mudah tersinggung, dan antisosial sementara menunjukkan sedikit kepedulian terhadap konvensi sosial serta mengalami gangguan kemampuan dalam merencanakan dan membuat keputusan rasional.[100] Tidak semua perubahan ini bersifat permanen dan Gage berhasil memulihkan serta mengadaptasi kondisinya dalam beberapa aspek.[101]
Perkembangan
[sunting | sunting sumber]Evolusi
[sunting | sunting sumber]Budi memiliki sejarah evolusi yang panjang berawal dari perkembangan sistem saraf dan otak.[102] Meskipun secara umum saat ini diterima bahwa budi tidak eksklusif dimiliki oleh manusia dan berbagai hewan non-manusia memiliki suatu bentuk budi, tidak ada konsensus pada titik mana tepatnya budi muncul.[103] Evolusi budi biasanya dijelaskan melalui seleksi alam: berbagai variasi genetik yang bertanggung jawab atas kapasitas mental yang baru atau yang lebih baik, seperti persepsi yang lebih baik atau kecenderungan sosial, memiliki peningkatan peluang untuk diwariskan kepada generasi-generasi masa depan jika mereka bermanfaat bagi kelangsungan hidup dan reproduksi.[104]
Berbagai bentuk pemrosesan informasi minimal sudah dapat ditemukan pada bentuk kehidupan terawal 4 hingga 3,5 miliar tahun yang lalu, seperti kemampuan bakteri dan organisme uniseluler eukariotik untuk merasakan lingkungan, menyimpan informasi tersebut, serta bereaksi terhadapnya. Sel saraf muncul bersamaan dengan perkembangan organisme multiseluler lebih dari 600 juta tahun yang lalu sebagai cara untuk memproses dan mentransmisikan informasi. Sekitar 600 hingga 550 juta tahun yang lalu, terjadi percabangan evolusioner menjadi organisme yang simetris secara radial[k] dengan sistem saraf berbentuk cincin atau suatu jaringan saraf, seperti ubur-ubur, dan organisme dengan tubuh yang simetris secara bilateral, yang mana sistem saraf mereka cenderung lebih tersentralisasi. Sekitar 540 juta tahun yang lalu, vertebrata berevolusi dalam kelompok organisme yang terorganisir secara bilateral. Vertebrata, seperti burung dan mamalia, memiliki suatu sistem saraf pusat mencakup otak kompleks dengan berbagai fungsi khusus. Invertebrata, seperti kerang dan serangga, biasanya tidak memiliki otak atau memiliki otak yang relatif sederhana.[106] Sepanjang perjalanan evolusi, otak dari vertebrata cenderung berkembang dan spesialisasi dari area-area otak yang berbeda cenderung meningkat. Berbagai perkembangan ini berkaitan erat dengan perubahan struktur anggota tubuh, organ indra, dan kondisi kehidupan dengan kesesuaian yang erat antara ukuran area otak dan pentingnya fungsi area tersebut bagi organisme.[107] Sebuah langkah penting dalam evolusi mamalia sekitar 200 juta tahun yang lalu adalah perkembangan neokorteks, yang bertanggung jawab atas banyak fungsi otak tingkat tinggi.[108]
Ukuran otak secara relatif terhadap tubuh semakin meningkat seiring dengan perkembangan primata, seperti monyet, sekitar 65 juta tahun yang lalu dan belakangan dengan kemunculan hominin pertama sekitar 7–5 juta tahun yang lalu.[109] Manusia modern anatomis muncul sekitar 300.000 hingga 200.000 tahun yang lalu.[110] Berbagai teori tentang proses evolusioner yang bertanggung jawab atas kecerdasan manusia telah diajukan. Hipotesis kecerdasan sosial mengatakan bahwa evolusi budi manusia dipicu oleh peningkatan pentingnya kehidupan sosial dan penekanannya pada kemampuan mental yang dikaitkan dengan empati, transfer pengetahuan, dan metakognisi. Menurut hipotesis kecerdasan ekologis, nilai utama dari peningkatan kapasitas mental berasal dari berbagai keuntungannya dalam menghadapi lingkungan fisik yang kompleks melalui proses-proses seperti fleksibilitas perilaku, pembelajaran, dan penggunaan alat. Mekanisme lain yang diajukan mencakup efek dari perubahan diet dengan makanan kaya energi dan berbagai keuntungan umum dari peningkatan kecepatan serta efisiensi dalam pemrosesan informasi.[111] Beberapa model mengusulkan bahwa pergeseran kognitif besar lainnya terjadi mungkin 50.000 hingga 40.000 tahun yang lalu. Disebut sebagai modernitas perilaku, hal ini berkaitan dengan munculnya kemampuan mental yang baru atau yang lebih baik, seperti inovasi teknologi, pemikiran abstrak, penggunaan simbol, perencanaan, dan koordinasi sosial.[112]
Individu
[sunting | sunting sumber]Selain perkembangan budi secara umum di sepanjang sejarah, budi manusia secara individu juga berkembang di sepanjang kehidupan mereka. Beberapa perubahan individu bervariasi dari satu orang ke orang lainnya sebagai bentuk pembelajaran dari pengalaman, seperti membentuk ingatan spesifik atau memperoleh pola perilaku tertentu. Perubahan lainnya merupakan perkembangan yang lebih universal sebagai tahapan-tahapan psikologis yang dilalui oleh semua atau sebagian besar manusia saat mereka melewati masa kanak-kanak awal, masa remaja, masa dewasa, dan masa tua.[113] Perkembangan-perkembangan ini mencakup berbagai area, termasuk perkembangan intelektual, sensorimotorik, linguistik, emosional, sosial, dan moral.[114] Beberapa faktor memengaruhi perkembangan budi sebelum kelahiran, seperti nutrisi, stres maternal, dan paparan terhadap zat-zat berbahaya seperti alkohol selama kehamilan.[115]
Masa kanak-kanak awal ditandai dengan berbagai perkembangan pesat saat para bayi mempelajari kendali sadar atas tubuh mereka dan berinteraksi dengan lingkungannya pada tingkat dasar. Biasanya setelah sekitar satu tahun, hal ini mencakup berbagai kemampuan seperti berjalan, mengenali wajah yang familier, dan memproduksi kata-kata tunggal.[116] Pada tingkat emosional dan sosial, mereka mengembangkan kelekatan dengan pengasuh utamanya dan mengekspresikan emosi mulai dari kegembiraan dan keterkejutan hingga ketakutan dan kemarahan.[117] Sebuah teori yang berpengaruh dari Jean Piaget membagi perkembangan kognitif anak-anak ke dalam empat tahapan. Tahap sensorimotor dari lahir hingga usia dua tahun berkaitan dengan berbagai kesan sensorik dan aktivitas motorik sambil belajar bahwa objek-objek tetap ada bahkan ketika tidak diamati. Pada tahap praoperasional hingga usia tujuh tahun, anak-anak belajar menafsirkan dan menggunakan simbol dengan cara yang intuitif. Mereka mulai menerapkan penalaran logis pada objek-objek fisik di tahap operasional konkret hingga usia sebelas tahun dan memperluas kapasitas ini pada tahap operasional formal berikutnya ke ide-ide abstrak, berbagai probabilitas, dan kemungkinan.[118] Proses penting lainnya yang membentuk budi pada periode ini adalah sosialisasi dan enkulturasi, awalnya melalui para pengasuh utama dan belakangan melalui teman sebaya serta sistem persekolahan.[119]
Berbagai transformasi psikologis selama masa remaja dipicu oleh berbagai perkembangan fisiologis dan oleh perhadapan dengan situasi sosial yang berbeda dalam wujud berbagai ekspektasi baru dari orang lain. Faktor yang penting dalam periode ini adalah perubahan pada konsep diri, yang dapat berwujud sebuah krisis identitas. Proses ini biasanya melibatkan pengembangan individualitas dan kemandirian dari orang tua sembari pada saat yang sama mencari kedekatan dan konformitas dengan para sahabat serta teman sebaya. Perkembangan-perkembangan lebih lanjut dalam periode ini mencakup berbagai peningkatan pada kemampuan penalaran dan pembentukan sudut pandang moral yang berprinsip.[120]
Budi juga berubah selama masa dewasa tetapi dengan cara yang tidak terlalu pesat maupun menonjol. Keterampilan penalaran dan pemecahan masalah membaik selama masa dewasa awal dan pertengahan. Sebagian orang mengalami masa transisi paruh baya sebagai sebuah krisis paruh baya yang melibatkan konflik batin mengenai identitas pribadi, yang berkaitan dengan kecemasan, rasa kurangnya pencapaian dalam hidup, atau kesadaran akan mortalitas. Fakultas-fakultas intelektual cenderung menurun pada masa dewasa akhir, khususnya kemampuan untuk mempelajari berbagai tugas baru yang kompleks dan nantinya juga kemampuan untuk mengingat. Pada saat yang sama, orang-orang cenderung menjadi lebih mawas diri dan berhati-hati.[121]
Non-manusia
[sunting | sunting sumber]Hewan
[sunting | sunting sumber]Telah diakui secara umum saat ini bahwa berbagai hewan memiliki suatu bentuk budi, tetapi masih menjadi kontroversi mengenai hewan apa saja yang memenuhi kriteria ini dan bagaimana budi mereka berbeda dari budi manusia.[122] Berbagai konsepsi budi yang berbeda mengarah pada respons-respons yang berbeda terhadap masalah ini. Apabila dipahami dalam arti yang sangat luas sebagai kapasitas untuk memproses informasi, budi hadir dalam segala bentuk kehidupan, termasuk serangga, tumbuhan, dan sel individu.[123] Di sisi lain dari spektrum tersebut, terdapat pandangan-pandangan yang menyangkal eksistensi mentalitas pada sebagian besar atau semua hewan non-manusia berdasarkan gagasan bahwa mereka tidak memiliki kapasitas mental kunci, seperti rasionalitas abstrak dan bahasa simbolis.[124] Status dari budi hewan sangat relevan dengan bidang etika karena hal ini memengaruhi perlakuan terhadap hewan, termasuk topik mengenai hak-hak hewan.[125]
Pandangan diskontinuitas menyatakan bahwa budi hewan non-manusia pada dasarnya berbeda dari budi manusia dan sering menunjuk pada fakultas mental yang lebih tinggi, seperti memikir, menalar, dan membuat keputusan yang disengaja.[126] Sudut pandang ini tercermin dalam posisi tradisional yang berpengaruh yang mendefinisikan manusia sebagai "hewan rasional" yang bertentangan dengan semua hewan lainnya.[127] Sebaliknya, pandangan kontinuitas menekankan pada berbagai kesamaan dan melihat perbedaan kognitifnya terletak pada tingkatannya alih-alih pada jenisnya. Pertimbangan sentral dari posisi ini adalah asal-usul evolusioner yang sama serta kesamaan organik pada tingkat otak dan sistem saraf. Perilaku yang dapat diamati adalah faktor kunci lainnya, seperti keterampilan pemecahan masalah, komunikasi hewan, serta berbagai reaksi dan ekspresi atas rasa sakit maupun rasa nikmat. Yang sangat penting adalah pertanyaan-pertanyaan mengenai kesadaran dan sentien, yakni, sejauh mana hewan non-manusia memiliki sebuah pengalaman subjektif tentang dunia serta mampu menderita dan merasakan kegembiraan.[128]
Buatan
[sunting | sunting sumber]Beberapa kesulitan dalam menilai budi hewan juga tercermin dalam topik mengenai budi buatan. Ini mencakup pertanyaan mengenai apakah sistem-sistem komputer yang mengimplementasikan kecerdasan buatan patut dipertimbangkan sebagai sebentuk budi.[129] Gagasan ini konsisten dengan beberapa teori mengenai hakikat budi, seperti fungsionalisme beserta klaimnya bahwa berbagai konsep mental mendeskripsikan peran-peran fungsional. Teori ini menegaskan bahwa berbagai fungsi yang diimplementasikan oleh otak biologis pada prinsipnya juga dapat diimplementasikan oleh perangkat-perangkat buatan.[130]

Tes Turing, yang diajukan oleh Alan Turing (1912–1954), adalah sebuah prosedur yang secara tradisional berpengaruh dalam menguji kecerdasan buatan: seseorang bertukar pesan dengan dua belah pihak, yang mana salah satunya adalah manusia dan yang lainnya adalah komputer. Komputer tersebut lulus tes ini apabila tidak memungkinkan bagi seseorang untuk dapat membedakan secara tepercaya pihak mana yang merupakan manusia dan mana yang merupakan komputer. Meskipun saat ini terdapat beberapa program komputer yang dapat lulus tes Turing, hal ini saja biasanya tidak diterima sebagai bukti konklusif atas kepemilikan budi.[131] Bagi beberapa aspek budi, masih menjadi kontroversi mengenai apakah komputer, pada prinsipnya, dapat mengimplementasikan aspek-aspek tersebut, seperti hasrat, perasaan, kesadaran, dan kehendak bebas.[132]
Masalah ini sering kali didiskusikan melalui kontras antara kecerdasan buatan lemah dan kuat. Kecerdasan buatan lemah atau sempit terbatas pada berbagai kapasitas atau fungsi mental spesifik. Kecerdasan jenis ini berfokus pada suatu tugas tertentu atau serangkaian tugas yang sempit, seperti mengemudi otonom, pengenalan ucapan, atau pembuktian teorema. Tujuan dari kecerdasan buatan kuat, yang juga diistilahkan sebagai kecerdasan buatan umum, adalah untuk menciptakan sesosok pribadi buatan seutuhnya yang memiliki semua kapasitas mental manusia, termasuk kesadaran, emosi, dan nalar.[133] Apakah kecerdasan buatan kuat ini memungkinkan masih menjadi kontroversi; berbagai argumen yang berpengaruh yang menentangnya meliputi Argumen kamar Tionghoa dari John Searle dan kritik Hubert Dreyfus yang didasarkan pada filsafat Heidegger.[134]
Kesehatan dan gangguan mental
[sunting | sunting sumber]Kesehatan mental adalah kondisi budi yang dicirikan oleh ekuilibrium internal dan kesejahteraan dengan kapasitas-kapasitas mental berfungsi sebagaimana mestinya. Sebagian ahli teori menekankan pada fitur-fitur positif seperti kemampuan seseorang untuk merealisasikan potensi mereka, mengekspresikan dan memodulasi emosi, menghadapi situasi kehidupan yang buruk, serta memenuhi peran sosial mereka. Sebaliknya, beberapa definisi negatif memandang kesehatan mental sebagai absennya gangguan mental.[135] Gangguan mental adalah pola pikiran, emosi, atau perilaku yang abnormal. Pola-pola ini tidak hanya menyimpang dari cara kerja kapasitas mental pada umumnya, melainkan juga dari bagaimana kapasitas tersebut seharusnya berfungsi, yang sekaligus biasanya menyebabkan suatu bentuk distres. Kandungan dari norma-norma tersebut masih menjadi kontroversi dan terdapat perbedaan dari satu budaya ke budaya lainnya. Contohnya, homoseksualitas secara historis dianggap sebagai sebuah gangguan mental oleh para profesional medis, sebuah pandangan yang baru berubah pada paruh kedua abad ke-20.[136]

Terdapat beragam jenis gangguan mental, yang masing-masing berkaitan dengan wujud ketidakberfungsian yang berbeda-beda. Gangguan kecemasan melibatkan rasa takut yang intens dan persisten, yang tidak sebanding dengan ancaman sebenarnya, serta secara signifikan mengganggu kehidupan sehari-hari. Sebuah contohnya adalah fobia sosial, yang melibatkan ketakutan irasional terhadap situasi-situasi sosial tertentu. Gangguan kecemasan juga mencakup gangguan obsesif-kompulsif, yang padanya kecemasan tersebut termanifestasi dalam wujud berbagai pikiran intrusif yang coba diredakan oleh orang tersebut dengan mengikuti berbagai ritual kompulsif.[138] Gangguan suasana hati menyebabkan suasana hati yang intens atau perubahan suasana hati yang inkonsisten dengan keadaan eksternal serta dapat berlangsung untuk waktu yang lama. Contohnya, orang-orang yang terdampak oleh gangguan bipolar mengalami perubahan suasana hati yang ekstrem antara keadaan manik berupa euforia dan keadaan depresif berupa keputusasaan.[139] Gangguan kepribadian dicirikan oleh pola abadi dari perilaku maladaptif yang secara signifikan mengganggu kehidupan normal. Gangguan kepribadian paranoid, misalnya, menyebabkan penderitanya sangat menaruh curiga terhadap motif orang lain tanpa adanya landasan yang rasional.[140] Gangguan psikotik adalah beberapa di antara penyakit mental yang paling parah serta melibatkan hubungan yang terdistorsi dengan realitas dalam wujud halusinasi dan delusi, sebagaimana yang terlihat pada penderita skizofrenia.[141] Berbagai gangguan lainnya meliputi gangguan disosiatif dan gangguan makan.[142]
Model biopsikososial mengidentifikasi tiga jenis penyebab gangguan mental: faktor biologis, kognitif, dan lingkungan. Faktor biologis mencakup penyebab-penyebab pada tingkat fisik, secara khusus pengaruh neurologis dan predisposisi genetik. Pada tingkat kognitif, keyakinan maladaptif dan pola pikiran dapat menjadi penyebabnya. Faktor lingkungan melibatkan berbagai pengaruh kultural serta peristiwa-peristiwa sosial yang dapat memicu timbulnya suatu gangguan.[143] Terdapat bermacam pendekatan untuk mengobati gangguan mental, dan perawatan yang paling tepat biasanya bergantung pada jenis gangguan, penyebabnya, serta kondisi keseluruhan individu tersebut. Metode psikoterapeutik menggunakan interaksi personal dengan terapis untuk mengubah berbagai pola dalam berpikir, merasa, dan bertindak.[144] Psikoanalisis bertujuan untuk membantu para pasien menyelesaikan konflik antara budi sadar dan bawah sadar.[145] Terapi kognitif perilaku berfokus pada fenomena mental sadar untuk mengidentifikasi dan mengubah keyakinan yang irasional serta pola pikiran yang negatif.[146] Terapi perilaku mengandalkan pengondisian klasik agar pasien berhenti melakukan berbagai perilaku yang berbahaya.[147] Berbagai terapi humanistik mencoba membantu pasien untuk memperoleh wawasan atas nilai diri mereka dan memberdayakan mereka untuk menyelesaikan berbagai permasalahan mereka.[148] Terapi obat menggunakan medikasi untuk mengubah kimia otak yang berkaitan dengan gangguan tersebut melalui sejumlah zat seperti antidepresan, antipsikotik, penstabil suasana hati, dan ansiolitik.[149]
Bidang dan metode penyelidikan
[sunting | sunting sumber]Berbagai bidang penyelidikan yang berbeda-beda mengkaji budi, di antaranya psikologi, ilmu saraf, filsafat, dan ilmu kognitif. Berbagai disiplin ini berbeda satu sama lain dalam hal aspek-aspek budi yang mereka investigasi beserta berbagai metode yang mereka kerahkan.[150] Studi terhadap budi menghadirkan beragam permasalahan lantaran budi itu sendiri sangat sulit untuk diuji, dimanipulasi, dan diukur secara langsung. Usaha untuk menyiasati permasalahan ini dengan cara menginvestigasi otak memunculkan berbagai tantangan baru tersendiri, yang utamanya disebabkan oleh kompleksitas otak sebagai sebuah jaringan saraf yang terdiri dari miliaran neuron, masing-masing dengan jumlah tautan yang dapat mencapai 10.000 ke neuron-neuron lain.[151]
Psikologi
[sunting | sunting sumber]Psikologi merupakan studi ilmiah tentang budi dan perilaku. Bidang ini menginvestigasi berbagai fenomena mental yang disadari maupun yang tidak disadari, di antaranya persepsi, ingatan, perasaan, pemikiran, keputusan, kecerdasan, dan kepribadian. Psikologi lebih lanjut lagi tertarik pada berbagai manifestasi luarnya dalam wujud pola-pola perilaku yang dapat diamati, dengan mengkaji bagaimana berbagai pola tersebut bergantung pada keadaan eksternal dan dibentuk oleh pembelajaran.[152] Psikologi adalah disiplin ilmu yang sangat luas mencakup banyak subbidang. Psikologi kognitif berfokus pada berbagai aktivitas mental tingkat tinggi seperti memikir, memecahkan masalah, menalar, dan menyusun konsep.[153] Psikologi biologis mencari tahu mengenai mekanisme yang mendasarinya di tingkat fisiologis dan bagaimana mereka bergantung pada transmisi genetik beserta lingkungan.[154] Psikologi perkembangan mempelajari perkembangan budi manusia dari masa anak-anak hingga hari tua, sementara psikologi sosial mengkaji berbagai pengaruh dari konteks sosial terhadap budi dan perilaku.[155] Psikologi kepribadian menginvestigasi kepribadian, dengan mengeksplorasi bagaimana berbagai pola pikiran, perasaan, dan perilaku yang khas dapat berkembang serta bervariasi di antara para individu.[156] Berbagai subbidang lebih lanjutnya mencakup psikologi komparatif, klinis, pendidikan, okupasional, dan neuropsikologi.[157] Sebagai sebuah disiplin keilmuan, psikologi muncul menjelang akhir abad ke-19 bertolak dari karya eksperimental Wilhelm Wundt (1832–1920). Berbagai mazhab pemikiran awalnya meliputi strukturalisme, psikoanalisis, psikologi Gestalt, fungsionalisme, dan behaviorisme.[158]
Para psikolog menggunakan sangat banyak metode yang beraneka ragam untuk mengkaji budi. Berbagai pendekatan eksperimental menyiapkan sebuah situasi yang terkendali, baik dalam laboratorium maupun lapangan, tempat mereka memodifikasi berbagai variabel independen dan mengukur dampaknya pada berbagai variabel dependen.[l] Pendekatan ini memungkinkan seseorang untuk mengidentifikasi berbagai relasi kausal di antara berbagai variabel tersebut. Contohnya, untuk menentukan apakah orang-orang dengan kesamaan ketertarikan (variabel independen) cenderung lebih mungkin untuk saling berteman (variabel dependen), para peserta dalam sebuah studi ini dapat dipasangkan, dengan orang yang serupai maupun dengan orang yang tidak serupa. Setelah mereka diberikan waktu untuk berinteraksi, dinilai apakah tiap-tiap anggota dari pasangan yang serupa memiliki berbagai kecenderungan sikap yang lebih positif terhadap satu sama lain dibandingkan dengan tiap-tiap anggota dari pasangan yang tidak serupa.[160]
Berbagai metode korelasional memeriksa kuatnya kaitan di antara dua variabel tanpa membangun sebuah relasi kausal di antara kedua variabel tersebut.[161] Metode survei menyajikan berbagai daftar pertanyaan kepada para peserta yang bertujuan untuk memancing munculnya informasi mengenai kecenderungan sikap mental mereka, perilaku, beserta faktor-faktor terkait lainnya. Metode ini menganalisis bagaimana para peserta merespons berbagai pertanyaan tersebut serta bagaimana setiap jawaban dari berbagai pertanyaan yang berbeda tersebut berkorelasi satu sama lain.[162] Survei biasanya berisikan peserta dalam jumlah banyak, hal ini kontras dengan studi kasus, yang berfokus pada pengujian secara mendalam terhadap subjek tunggal atau suatu kelompok kecil subjek, yang biasanya digunakan untuk mengkaji berbagai fenomena langka atau mengeksplorasi berbagai bidang baru.[163] Berbagai metode lebih lanjut mencakup studi longitudinal, observasi naturalistik, dan deskripsi pengalaman fenomenologis.[164]
Ilmu saraf
[sunting | sunting sumber]
Ilmu saraf adalah studi tentang sistem saraf. Fokus utamanya adalah sistem saraf pusat dan otak pada khususnya, tetapi disiplin ini juga menginvestigasi sistem saraf tepi yang utamanya bertanggung jawab untuk menghubungkan sistem saraf pusat dengan anggota tubuh dan organ. Ilmu saraf mengkaji implementasi dari fenomena mental pada basis fisiologis, mencakup berbagai tingkat analisis. Pada skala kecil, bidang ini mempelajari basis molekuler dan seluler dari budi, berurusan dengan konstitusi dari dan interaksi antar neuron individu. Pada skala besar, bidang ini menganalisis arsitektur otak secara keseluruhan beserta pembagiannya ke dalam wilayah-wilayah dengan fungsi yang berbeda-beda.[166] Studi tentang sistem saraf berawal pada zaman kuno dan berevolusi selama berabad-abad, mencakup berbagai wawasan anatomis melalui pembedahan serta teori-teori spekulatif tentang fungsi otak. Ilmu saraf diakui sebagai disiplin keilmuan yang terpisah pada abad ke-20 seiring dengan kemajuan teknologi, seperti pengembangan berbagai teknik pencitraan saraf, yang merevolusi bidang ini.[167]
Dalam ilmu saraf modern, teknik pencitraan saraf memiliki kepentingan khusus sebagai metode penelitian utama dari para ilmuwan saraf. Pencitraan resonansi magnetik fungsional (fMRI) mengukur berbagai perubahan pada medan magnet otak yang berkaitan dengan aliran darah. Area-area dengan peningkatan aliran darah mengindikasikan bahwa wilayah otak yang bersesuaian sedang sangat aktif. Tomografi emisi positron (PET) menggunakan zat-zat radioaktif untuk mendeteksi berbagai perubahan metabolik di otak. Elektroensefalografi (EEG) mengukur aktivitas listrik pada otak, biasanya dengan menempatkan elektroda pada kulit kepala dan mengukur perbedaan tegangan di antaranya. Berbagai teknik ini sering kali dikerahkan untuk mengukur perubahan pada otak di bawah keadaan tertentu, sebagai contoh, ketika sedang melakukan suatu tugas kognitif spesifik. Berbagai wawasan penting juga diperoleh dari para pasien dan hewan percobaan yang mengalami kerusakan otak, membantu para ilmuwan saraf dalam memahami fungsi dari area yang rusak tersebut dan bagaimana ketiadaannya memengaruhi bagian otak yang tersisa.[168]
Filsafat budi
[sunting | sunting sumber]Filsafat budi mengkaji hakikat dari fenomena mental dan hubungannya dengan dunia fisik. Disiplin ini berupaya untuk memahami "ciri dari hal yang mental", yaitu, fitur-fitur yang sama-sama dimiliki oleh semua keadaan mental. Bidang ini lebih lanjut menginvestigasi esensi dari berbagai jenis fenomena mental yang berbeda, seperti keyakinan, hasrat, emosi, intensionalitas, dan kesadaran sembari mengeksplorasi bagaimana mereka saling berhubungan satu sama lain. Filsafat budi juga mengkaji berbagai solusi untuk masalah budi-tubuh, seperti dualisme, idealisme, dan fisikalisme, serta menilai berbagai argumen yang mendukung dan menentangnya.[169] Bidang ini menanyakan apakah manusia memiliki kehendak bebas atau kemampuan untuk memilih tindakan mereka, dan bagaimana kemampuan ini kontras dengan gagasan bahwa segala sesuatunya ditentukan oleh penyebab-penyebab yang mendahuluinya.[170]

Meskipun para filsuf budi juga menyertakan pertimbangan empiris dalam penyelidikan mereka, mereka berbeda dari bidang-bidang seperti psikologi dan ilmu saraf dengan memberikan penekanan yang jauh lebih besar pada bentuk-bentuk penyelidikan non-empiris. Salah satu metode tersebut adalah analisis konseptual, yang bertujuan untuk mengklarifikasi makna dari berbagai konsep, seperti budi dan niat, dengan cara menguraikannya untuk mengidentifikasi bagian-bagian semantiknya.[172] Eksperimen pikiran sering kali digunakan untuk membangkitkan intuisi mengenai teori-teori abstrak demi menilai koherensi dan plausibilitasnya. Untuk melakukannya, para filsuf membayangkan sebuah situasi yang relevan dengan suatu teori dan mengerahkan pemikiran kontrafaktual untuk menilai kemungkinan konsekuensi dari teori ini. Berbagai eksperimen pikiran yang berpengaruh meliputi Mary sang ilmuwan warna, zombi filosofis, dan skenario otak dalam tong.[173] Karena sifat subjektif dari budi, metode fenomenologis juga umum digunakan untuk menganalisis struktur kesadaran dengan mendeskripsikan pengalaman dari sudut pandang orang pertama.[174] Diskusi filosofis tentang budi memiliki sejarah yang panjang, merentang kembali hingga ke zaman kuno. Berbagai kontribusi yang berpengaruh dibuat oleh Plato (ca 428–347 SM), Aristoteles (384–322 SM), René Descartes (1596–1650), David Hume (1711–1776), Immanuel Kant (1724–1804), William James (1842–1910), dan Gilbert Ryle (1900–1976).[175]
Ilmu kognitif
[sunting | sunting sumber]Ilmu kognitif adalah studi interdisipliner mengenai representasi dan proses mental. Disiplin ini bertujuan untuk mengatasi tantangan dalam memahami sesuatu yang sekompleks budi dengan mengintegrasikan penelitian dari beraneka ragam bidang mulai dari psikologi dan ilmu saraf hingga filsafat, linguistik, dan kecerdasan buatan. Berbeda dengan disiplin-disiplin tersebut, ilmu kognitif bukanlah bidang yang terpadu melainkan sebuah upaya kolaboratif. Salah satu kesulitan dalam menyintesis wawasan mereka adalah bahwa tiap-tiap disiplin ini mengeksplorasi budi dari perspektif dan tingkat abstraksi yang berbeda-beda sembari menggunakan metode penelitian yang berbeda untuk mencapai kesimpulannya.[176] Ilmu kognitif muncul pada paruh kedua abad ke-20 ketika para peneliti dari berbagai disiplin mulai mengkaji bagaimana proses-proses mental merepresentasikan dunia dan mengubah informasi. Bidang ini berekspansi pada 1980-an menyusul kemajuan dalam pencitraan saraf untuk menyertakan perspektif biologis tentang bagaimana proses komputasional diimplementasikan oleh otak.[177]
Untuk menggabungkan berbagai wawasan dari aneka disiplin ilmu, ilmu kognitif mengandalkan sebuah konseptualisasi yang menyatukan budi sebagai pemroses informasi. Ini berarti bahwa proses-proses mental dipahami sebagai komputasi yang mengambil, mengubah, menyimpan, dan mentransmisikan informasi.[176] Sebagai contoh, persepsi mengambil informasi sensorik dari lingkungan dan mengubahnya untuk mengekstraksi berbagai pola bermakna yang dapat digunakan dalam proses-proses mental lainnya, seperti perencanaan dan pengambilan keputusan.[178] Ilmu kognitif mengandalkan tingkatan deskripsi yang berbeda-beda untuk menganalisis proses-proses kognitif. Tingkat yang paling abstrak berfokus pada masalah dasar yang semestinya dipecahkan oleh proses tersebut beserta alasan mengapa organisme perlu memecahkannya. Tingkat menengah berupaya untuk mengungkap algoritma sebagai prosedur formal tahap demi tahap untuk memecahkan masalah tersebut. Tingkat yang paling konkret menanyakan bagaimana algoritma tersebut diimplementasikan melalui berbagai perubahan fisiologis pada tingkat otak.[179] Metodologi lainnya adalah dengan menganalisis budi sebagai sebuah sistem kompleks yang terdiri dari subsistem-subsistem individu yang dapat dikaji secara independen satu sama lain.[180] Pendekatan analitik ini dilengkapkan oleh masalah pengikatan—sebuah tantangan dalam menjelaskan bagaimana informasi yang dikomputasi di berbagai wilayah saraf yang berlainan dapat diintegrasikan untuk membentuk representasi objek yang koheren.[181]
Hubungan dengan bidang lain
[sunting | sunting sumber]Budi relevan dengan banyak bidang. Dalam epistemologi, masalah budi lain adalah tantangan dalam menjelaskan bagaimana adalah mungkin untuk mengetahui bahwa orang selain diri sendiri juga memiliki budi. Kesulitan ini muncul dari fakta bahwa orang-orang secara langsung mengalami budi mereka sendiri tetapi tidak memiliki akses yang sama ke budi orang lain. Menurut sebuah pandangan umum, adalah penting untuk bersandar pada persepsi untuk mengamati perilaku orang lain dan lantas menyimpulkan bahwa mereka memiliki budi berdasarkan penalaran analogis atau abduktif.[182] Terkait erat dengan masalah ini adalah teori budi dalam psikologi, yang merupakan kemampuan untuk memahami bahwa orang lain memiliki keyakinan, hasrat, niat, dan perasaan yang mungkin saja berbeda dengan milik diri sendiri.[183]
Antropologi menaruh minat mengenai bagaimana kebudayaan-kebudayaan yang berbeda mengkonseptualisasikan hakikat budi dan hubungannya dengan dunia. Berbagai konseptualisasi ini memengaruhi cara orang-orang memahami diri mereka sendiri, mengalami penyakit, dan menafsirkan praktik ritualistik sebagai upaya untuk berkomunikasi dengan roh. Sebagian budaya tidak menarik batas yang tegas antara budi dan dunia dengan meyakini bahwa pikiran dapat menembus secara langsung ke dalam dunia dan termanifestasi sebagai kekuatan yang bermanfaat maupun berbahaya. Sebagai contoh, beberapa sistem kepercayaan pribumi, seperti kepercayaan tradisional dalam budaya Azande, meyakini bahwa pikiran amarah secara langsung dapat merusak hasil panen orang lain atau membuat mereka jatuh sakit. Budaya lainnya secara tegas memisahkan budi dari realitas eksternal, memandangnya sebagai sebuah fenomena internal yang tak memiliki kekuatan supernatural.[184] Sosiologi adalah bidang terkait yang memperhatikan kaitan-kaitan di antara budi, masyarakat, dan perilaku.[185] Di antara topik-topik lainnya, disiplin ini meminati fenomena intersubjektivitas, yang terjadi ketika orang-orang yang berbeda memiliki pemahaman atau pengalaman yang sama, yang berarti bahwa perspektif kognitif mereka saling tumpang tindih.[186]
Konsep budi memainkan sebuah peran sentral dalam berbagai agama. Umat Buddha menyatakan bahwa tidak ada diri yang abadi yang mendasari aktivitas mental. Mereka menganalisis budi sebagai aliran pengalaman yang senantiasa berubah yang dicirikan oleh lima aspek atau "agregat": bentuk material, perasaan, persepsi, kehendak, dan kesadaran.[187] Sebaliknya, umat Hindu menegaskan eksistensi dari sebuah diri yang permanen. Dalam sebuah analogi yang berpengaruh, budi manusia dibandingkan dengan kereta yang ditarik kuda: kuda-kudanya adalah indra, yang memikat budi indrawi yang diumpamakan sebagai tali kekang melalui pelbagai kesenangan indrawi. Indra dikendalikan oleh kusir kereta yang mewujudkan intelek sementara diri merupakan penumpang.[188] Dalam filsafat Kristen tradisional, budi dan jiwa saling berkelindan erat sebagai aspek immaterial dari manusia yang dapat bertahan dari kematian tubuh.[189] Pemikiran Islam membedakan antara budi, roh, hati, dan diri sebagai aspek-aspek yang saling terhubung dari dimensi spiritual manusia.[190] Taoisme dan Konfusianisme menggunakan konsep jantung-budi sebagai pusat dari kehidupan kognitif dan emosional, mencakup pikiran, pemahaman, kehendak, hasrat, dan suasana hati.[191]

Dalam bidang pendidikan, budi para siswa dibentuk melalui transmisi pengetahuan, keterampilan, dan sifat karakter sebagai proses sosialisasi dan enkulturasi. Hal ini dicapai melalui beraneka ragam metode pengajaran yang meliputi kontras antara kerja kelompok dan pembelajaran individu serta penggunaan media instruksional.[193] Pendidikan yang berpusat pada guru memosisikan guru sebagai otoritas sentral yang mengendalikan proses pembelajaran, sedangkan dalam pendidikan yang berpusat pada siswa, siswa memiliki peran yang lebih aktif dalam membentuk aktivitas ruang kelas.[194] Pemilihan metode paling efektif untuk mengembangkan budi pembelajar ditentukan oleh berbagai faktor, termasuk topik pelajaran beserta umur dan tingkat keahlian pembelajar.[195]
Budi merupakan subjek yang sering dijumpai dalam penyelidikan pseudosaintifik. Frenologi merupakan upaya awal untuk mengkorelasikan fungsi mental dengan area-area otak spesifik. Walaupun klaim utamanya mengenai memprediksi sifat-sifat mental dengan cara mengukur benjolan pada tengkorak tidak lolos uji ilmiah, gagasan mendasarnya bahwa fungsi-fungsi mental tertentu terlokalisasi di wilayah-wilayah khusus pada otak kini diterima secara luas.[192] Para parapsikolog berupaya menemukan dan mempelajari berbagai kemampuan mental paranormal mulai dari waskita hingga telepati dan telekinesis.[196]
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]- Kesadaran hewan
- Naturalisme biologis – serangkaian kapasitas kognitif yang memungkinkan kesadaran, persepsi, pikiran, pertimbangan, dan ingatan
- Hati nurani
- Materialisme emergen – serangkaian kapasitas kognitif yang memungkinkan kesadaran, persepsi, pikiran, pertimbangan, dan ingatan
- Kesenjangan penjelasan – serangkaian kapasitas kognitif yang memungkinkan kesadaran, persepsi, pikiran, pertimbangan, dan ingatan
- Ideastesia – serangkaian kapasitas kognitif yang memungkinkan kesadaran, persepsi, pikiran, pertimbangan, dan ingatan
- Daftar filsuf budi
- Energi mental – serangkaian kapasitas kognitif yang memungkinkan kesadaran, persepsi, pikiran, pertimbangan, dan ingatan
- Mind at Large – serangkaian kapasitas kognitif yang memungkinkan kesadaran, persepsi, pikiran, pertimbangan, dan ingatan
- Darwinisme saraf – serangkaian kapasitas kognitif yang memungkinkan kesadaran, persepsi, pikiran, pertimbangan, dan ingatan
- Garis besar kecerdasan manusia – serangkaian kapasitas kognitif yang memungkinkan kesadaran, persepsi, pikiran, pertimbangan, dan ingatan
- Garis besar pemikiran – serangkaian kapasitas kognitif yang memungkinkan kesadaran, persepsi, pikiran, pertimbangan, dan ingatan
- Karakter subjektif dari pengalaman – serangkaian kapasitas kognitif yang memungkinkan kesadaran, persepsi, pikiran, pertimbangan, dan ingatan
Referensi
[sunting | sunting sumber]Catatan
[sunting | sunting sumber]- ↑ Tidak semua bahasa memiliki kata yang berpadanan langsung dengan kata bahasa Inggris mind. Sebagai contoh, bahasa Jerman menggunakan kata Geist, yang dapat berarti 'budi' maupun 'roh'.[16]
- ↑ Perbedaan pasti di antara konsep-konsep ini masih diperdebatkan. Dalam psikoanalisis Freud, budi prasadar berada di luar kesadaran saat ini tetapi dapat dengan mudah diakses, sedangkan budi tak sadar lebih jauh dari akses yang disengaja. Kata subconscious (bawah sadar) terkadang digunakan sebagai sinonim dari preconscious (prasadar).[35]
- ↑ Beberapa keadaan mental, seperti persepsi dan emosi, mungkin memiliki aspek kualitatif maupun proposisional.[39]
- ↑ Fakultas-fakultas mental juga memainkan peran sentral dalam tradisi India, seperti kontras antara budi indrawi (manas) dan intelek (buddhi).[47]
- ↑ Perspektif yang berbeda diajukan oleh hipotesis modularitas masif, yang menyatakan bahwa budi sepenuhnya tersusun dari berbagai modul dengan modul tingkat tinggi membangun koneksi di antara modul-modul tingkat rendah.[51]
- ↑ Intensionalitas harus dibedakan dari niat dalam pengertian memiliki rencana untuk melakukan suatu tindakan tertentu.[57]
- ↑ Secara lebih umum, kognisi berwujud adalah studi tentang efek fenomena jasmani terhadap budi. Disiplin ini mengkaji, misalnya, bagaimana gerakan tubuh tertentu meningkatkan atau menghambat kinerja kognitif dan bagaimana kapasitas motorik memengaruhi perkembangan kemampuan kognitif.[68]
- ↑ Menurut hilomorfisme Aristoteles, misalnya, keduanya adalah prinsip-prinsip yang saling melengkapi: jiwa adalah bentuk dari tubuh, sedangkan tubuh adalah materi dari jiwa.[71]
- ↑ Terdapat bentuk-bentuk idealisme lain yang menegaskan posisi yang sedikit berbeda, seperti idealisme transendental dan idealisme absolut.[77]
- ↑ Kedua istilah ini biasanya diperlakukan sebagai sinonim, tetapi beberapa ahli teori membedakannya dengan berpendapat bahwa materialisme terbatas pada materi sementara fisikalisme adalah istilah yang lebih luas yang mencakup berbagai fenomena fisik tambahan, seperti gaya.[80]
- ↑ Mereka meliputi cnidaria dan ctenophora.[105]
- ↑ Psikometri mengkaji cara mengukur berbagai atribut mental atau bangun psikologis yang mendasari berbagai variabel tersebut. Sebagai contoh, tes IQ merupakan salah satu cara untuk mengkuantifikasi kecerdasan.[159]
Kutipan
[sunting | sunting sumber]- ↑
- Kim 2011, hlm. 2, 6
- American Psychological Association 2018, § Mind
- HarperCollins 2022, § Mind
- HarperCollins 2024
- Morton 2005, hlm. 603
- Paivio 2014, hlm. vi–vii
- ↑
- Sharov 2012, hlm. 343–344
- Carruthers 2019, hlm. ix, 29–30
- Griffin 1998, hlm. 53–55
- ↑ Stich & Warfield 2008, hlm. ix–x
- ↑
- Pashler 2013, hlm. xxix–xxx
- Friedenberg, Silverman & Spivey 2022, hlm. 14–17
- ↑ Gonda, Jan (1973). Sanskrit in Indonesia. New Delhi: International Academy of Indian Culture. hlm. 141, 188.
- ↑ Monier-Williams, Monier (1899). A Sanskrit-English Dictionary: Etymologically and Philologically Arranged with Special Reference to Cognate Indo-European Languages. Oxford: Clarendon Press. hlm. 733.
- ↑ "Arti kata budi". Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia. Diakses tanggal 2026-07-05.
- ↑
- ↑
- HarperCollins 2022, § Soul
- Kim 2011, hlm. 5, 31
- Swinburne 1998, Lead Section
- ↑
- ↑
- HarperCollins 2022, § Cognition
- Bermúdez 2014, hlm. 16
- ↑
- ↑
- Bernstein & Nash 2006, hlm. 273–274
- Nairne 2011, hlm. 312
- Merriam-Webster 2024, § Intelligence
- ↑
- ↑
- Hoad 1993, hlm. 294
- Smith 1996, hlm. 105
- Cresswell 2010, hlm. 275
- Weekley 2012, hlm. 931
- Giannopulu 2019, hlm. 6
- ↑
- Williams 1992, hlm. 2–3
- Hawkins 2023, hlm. 167
- ↑
- Sharov 2012, hlm. 343–344
- Pashler 2013, hlm. xxix–xxx
- Paivio 2014, hlm. vi–vii
- Vanderwolf 2013, hlm. 155
- ↑
- Bernstein & Nash 2006, hlm. 85–86, 123–125
- Martin 1998, Lead section
- Gross 2020, hlm. 74–76
- ↑
- Bernstein & Nash 2006, hlm. 208–209, 241
- American Psychological Association 2018, § Memory
- ↑
- Bernstein & Nash 2006, hlm. 210, 241
- Tulving 2001, hlm. 278
- Tsien 2005, hlm. 861
- Campbell & Barohn 2019, hlm. 94
- ↑
- Bernstein & Nash 2006, hlm. 214–217, 241
- Tsien 2005, hlm. 861
- Khurana & Khurana 2018, hlm. 462
- ↑
- Bernstein & Nash 2006, hlm. 249, 290
- Ball 2013, hlm. 739–740
- ↑
- Nunes 2011, hlm. 2066
- Groarke, § 9. The Syllogism
- Ball 2013, hlm. 739–740
- Bernstein & Nash 2006, hlm. 254
- Chowdhary 2020, hlm. 27
- ↑
- Ball 2013, hlm. 739–740
- Bernstein & Nash 2006, hlm. 257–258, 290–291
- ↑ Bernstein & Nash 2006, hlm. 265–266, 291
- ↑
- Bernstein & Nash 2006, hlm. 269
- Rescorla 2023, Lead Section
- Aydede 2017
- ↑
- Singer 2000, hlm. 227–228
- Kind 2017, Lead Section
- American Psychological Association 2018, § Imagination
- Hoff 2020, hlm. 617–618
- ↑
- Weiner 2000, hlm. 314–315
- Helms 2000, lead section
- Bernstein & Nash 2006, hlm. 298, 336–337
- Müller 1996, hlm. 14
- ↑
- Bernstein & Nash 2006, hlm. 322–323, 337
- American Psychological Association 2018, § Emotion
- ↑
- ↑
- ↑
- Bernstein & Nash 2006, hlm. 137–138
- Davies 2001, hlm. 190–192
- Gennaro, Lead Section, § 1. Terminological Matters: Various Concepts of Consciousness
- ↑
- Davies 2001, hlm. 191–192
- Smithies 2019, hlm. 83–84
- Gennaro, § 1. Terminological Matters: Various Concepts of Consciousness
- ↑
- ↑
- Birch & Malim 2017, hlm. 204–205
- Sayers 2020, hlm. 100
- ↑
- Gennaro, Lead Section, § 1. Terminological Matters: Various Concepts of Consciousness
- Kind 2023, § 2.1 Phenomenal Consciousness
- ↑
- Mijoia 2005, hlm. 1818–1819
- Bernstein & Nash 2006, hlm. 137–138
- Steinberg Gould 2020, hlm. 151
- American Psychological Association 2018, § Unconscious
- Carel 2006, hlm. 176
- ↑
- Kim 2005, hlm. 607–608
- Swinburne 2013, hlm. 72–73
- Lindeman, § 1. General Characterization of the Propositional Attitudes
- ↑ Kim 2005, hlm. 607
- ↑
- Harman 2013, hlm. 1–2
- Broome 2021, § 1. Normativity and Reasons, §2. The Meaning of "Rationality"
- Siegel 2017, hlm. 157
- Maruyama 2020, hlm. 172–173
- ↑
- Nolfi 2015, hlm. 41–42
- Tappolet 2023, hlm. 137–138
- Knauff & Spohn 2021, § 2.2 Basic Concepts of Rationality Assessment, § 4.2 Descriptive Theories
- Vogler 2016, hlm. 30–31
- ↑
- Bartlett 2018, hlm. 1, 4–5
- Schwitzgebel 2024, § 2.1 Occurrent Versus Dispositional Belief
- Wilkes 2012, hlm. 412
- ↑
- Kenny 1992, hlm. 71–72
- Perler 2015, hlm. 3–6, 11
- Hufendiek & Wild 2015, hlm. 264–265
- ↑
- Kenny 1992, hlm. 75
- Perler 2015, hlm. 5–6
- ↑
- Kenny 1992, hlm. 75–76
- Perler 2015, hlm. 5–6
- ↑
- Kenny 1992, hlm. 78–79
- Perler 2015, hlm. 5–6
- McLear, § 1i. Sensibility, Understanding, and Reason
- ↑
- Deutsch 2013, hlm. 354
- Schweizer 1993, hlm. 848
- ↑ Robbins 2017, § 1. What Is a Mental Module?
- ↑
- Robbins 2017, Lead Section, § 1. What Is a Mental Module?
- Perler 2015, hlm. 7
- Hufendiek & Wild 2015, hlm. 264–265
- Bermúdez 2014, hlm. 277
- ↑
- Robbins 2017, § 1. What Is a Mental Module?
- Hufendiek & Wild 2015, hlm. 265–268
- Bermúdez 2014, hlm. 288–290
- ↑
- Hufendiek & Wild 2015, hlm. 267–268
- Robbins 2017, § 3.1. The Case for Massive Modularity
- Bermúdez 2014, hlm. 277
- ↑
- Robbins 2017, § 1. What Is a Mental Module?
- Hufendiek & Wild 2015, hlm. 266–267
- ↑
- Robbins 2017, § 1. What Is a Mental Module?
- Bermúdez 2014, hlm. 289
- ↑
- Olson 2013, hlm. 51
- Kim 2011, hlm. 17–18
- O'Madagain, Lead Section
- Bayne 2022, hlm. 8–9
- ↑
- Kim 2011, hlm. 18–20
- Bayne 2022, hlm. 8–10
- Audi 1993, hlm. 167–168
- ↑
- Kriegel 2014, hlm. 384
- Searle 1991, hlm. 45–47, 50
- Gillett 1996, hlm. 191–192
- ↑ Jacob 2023, § 1. Why Is Intentionality So-called?
- ↑
- O'Madagain, Lead Section
- Kriegel 2015, hlm. 141
- Kim 2011, hlm. 23–25
- Kriegel 2014, hlm. 383–384
- Crane 1998, hlm. 229–230
- ↑
- Levin 2023, § 2.3 Behaviorism
- Graham 2023, § 1. What Is Behaviorism?, § 5. Why Be a Behaviorist
- Cunningham 2000, hlm. 40
- ↑
- Levin 2023, Lead Section, § 1. What Is Functionalism?
- Polger, Lead Section
- Cunningham 2000, hlm. 40
- ↑
- Rescorla 2020, Lead Section, § 3. The Classical Computational Theory of Mind
- Friedenberg, Silverman & Spivey 2022, hlm. 2–3
- Bermúdez 2014, hlm. 3, 85
- ↑
- Rowlands, Lau & Deutsch 2020, Lead Section, § 1. Introduction
- Smith, Lead Section
- ↑
- Rowlands, Lau & Deutsch 2020, § 1. Introduction, § 3. Content Externalism
- Smith, § 1. Hilary Putnam and Natural Kind Externalism
- ↑
- Shapiro & Spaulding 2024, § 2.2 Embedded Cognition
- Weiskopf & Adams 2015, hlm. 127–128
- ↑
- Rowlands, Lau & Deutsch 2020, § 1. Introduction, § 5. Extended Mind
- Greif 2017, hlm. 4311–4312
- Kiverstein, Farina & Clark 2013
- ↑
- Rowlands, Lau & Deutsch 2020, § 7. Extended Mind and the 4E Mind
- Rowlands 2009, hlm. 53–56
- ↑
- Rowlands, Lau & Deutsch 2020, § 7. Extended Mind and the 4E Mind
- Shapiro & Spaulding 2024, § 2.1 Three Themes of Embodied Cognition
- Shapiro 2019, hlm. 5, 197–198
- ↑
- Cowart, § 2. General Characteristics of Embodied Cognition
- Shapiro 2019, hlm. 1–3
- ↑
- Kim 2005, hlm. 608
- Jaworski 2011, hlm. 11–12
- Searle 2004, hlm. 3–4
- ↑
- Westphal 2016, hlm. 12–13, 21–22
- Crane & Patterson 2000, hlm. 2–5
- ↑
- Crane & Patterson 2000, hlm. 2–3
- Shields 2020, § 2. Hylomorphism in General
- ↑
- Kim 2011, hlm. 2–3, 5–6
- Jaworski 2011, hlm. 5–8, 68–69
- McQueen & McQueen 2010, hlm. 135
- Morton 2005, hlm. 603
- ↑ Kind & Stoljar 2023, § Introduction
- ↑
- Jaworski 2011, hlm. 34–36
- Kim 2005, hlm. 608
- Searle 2004, hlm. 13, 41–42
- Matheson 2017, hlm. 12
- ↑
- Jaworski 2011, hlm. 5, 202–203
- Searle 2004, hlm. 44
- ↑
- Jaworski 2011, hlm. 5
- Searle 2004, hlm. 44, 47–48
- ↑
- Alston 2018, hlm. 97
- Guyer & Horstmann 2023, § 1. Introduction
- ↑ Jaworski 2011, hlm. 246
- ↑ Jaworski 2011, hlm. 256
- ↑
- Marcum 2008, hlm. 19
- Stoljar 2010, hlm. 10
- ↑
- Jaworski 2011, hlm. 68
- Stoljar 2024, Lead Section
- Searle 2004, hlm. 48
- Kind 2020, § 3. Physicalism
- ↑
- Jaworski 2011, hlm. 71–72
- Searle 2004, hlm. 75–76
- ↑
- Jaworski 2011, hlm. 72–73, 102–104
- Searle 2004, hlm. 48–52
- ↑
- Ravenscroft 2005, hlm. 47
- Stoljar 2024, § 2.2.1 Type Physicalism
- ↑
- Jaworski 2011, hlm. 129–130
- Bigaj & Wüthrich 2015, hlm. 357
- ↑
- Levin 2023, Lead Section
- Searle 2004, hlm. 62
- ↑
- Levin 2023, § 1. What Is Functionalism?
- Jaworski 2011, hlm. 136–137
- ↑
- Grünberg 2007, hlm. 237
- Smith 2004, hlm. 124
- Priest 2002, hlm. 66
- ↑
- Weisberg, Lead Section, § 1. Stating the Problem
- Blackmore 2013, hlm. 33–35
- Searle 2004, hlm. 39–40
- ↑
- Opris et al. 2017, hlm. 69–70
- Barrett 2009, hlm. 326–327
- ↑
- Popescu & Opris 2017, hlm. 23–24
- Scanlon & Sanders 2018, hlm. 178
- Yukalov & Sornette 2014, hlm. 38
- Pal 2021, hlm. 145
- ↑
- Athreya & Mouza 2016, hlm. 52–53
- Schoenberg, Marsh & Lerner 2011, hlm. 60
- Benarroch 2021, hlm. 437–438
- ↑
- ↑
- Sanderson & Huffman 2019, hlm. 59–61
- Saab 2009, hlm. 1–2
- Scanlon & Sanders 2018, hlm. 178–180
- 1 2
- Athreya & Mouza 2016, hlm. 52–53
- Opris et al. 2017, hlm. 70
- Schoenberg, Marsh & Lerner 2011, hlm. 69–72
- ↑
- Athreya & Mouza 2016, hlm. 52–53
- Schoenberg, Marsh & Lerner 2011, hlm. 76–77
- Benarroch 2021, hlm. 437–438
- ↑
- ↑
- Winkelman 2011, hlm. 24
- Meyer et al. 2022, hlm. 27
- Frankish & Kasmirli 2009, hlm. 107
- Bunge 2014, hlm. 18
- ↑
- ↑
- Macmillan & Lena 2010, hlm. 641–643
- Marsh et al. 2007, hlm. 44
- ↑ Macmillan & Lena 2010, hlm. 655
- ↑ Roth 2013, hlm. 3
- ↑ Hatfield 2013, hlm. 3–4
- ↑
- Hatfield 2013, hlm. 4–5
- Roth 2013, hlm. 3–4
- ↑ Roth 2013, hlm. 265–266
- ↑
- Roth 2013, hlm. 265–266
- Erulkar & Lentz 2024, § Evolution and Development of the Nervous System
- Hatfield 2013, hlm. 6–7
- ↑
- Erulkar & Lentz 2024, § Evolution and Development of the Nervous System
- Hatfield 2013, hlm. 13
- ↑
- Aboitiz & Montiel 2007, hlm. 7
- Aboitiz & Montiel 2012, hlm. 14–15
- Finlay, Innocenti & Scheich 2013, hlm. 3
- Jerison 2013, hlm. 7–8
- ↑
- Hatfield 2013, hlm. 6–8
- Reyes & Sherwood 2014, hlm. 12
- Wragg-Sykes 2016, hlm. 183
- ↑
- ↑
- Roth 2013, hlm. 3
- Hatfield 2013, hlm. 36–43
- Mandalaywala, Fleener & Maestripieri 2014, hlm. 28–29
- ↑
- Majkić 2024, hlm. 97–99
- Sterelny 2011, hlm. 809, 811–812
- ↑
- Bernstein & Nash 2006, hlm. 171, 202, 342–343, 384
- Gross 2020, hlm. 171–172, 184
- Nairne 2011, hlm. 131–132, 240
- ↑
- Yeomans & Arnold 2013, hlm. 31
- Oakley 2004, hlm. 1
- Nairne 2011, hlm. 131–132
- ↑
- Coall et al. 2015, hlm. 57–58
- Bernstein & Nash 2006, hlm. 345–346
- Abel 2003, hlm. 231–232
- ↑
- Bernstein & Nash 2006, hlm. 342–344, 347–348, 384
- Packer 2017, hlm. 7–8
- Smitsman & Corbetta 2011, Action in Infancy – Perspectives, Concepts, and Challenges
- Nairne 2011, hlm. 131–132
- ↑
- Packer 2017, hlm. 7–8
- Freeman 1975, hlm. 114
- Driscoll & Easterbrooks 2007, hlm. 256
- Bernstein & Nash 2006, hlm. 384
- ↑
- Bernstein & Nash 2006, hlm. 349–350
- Gross 2020, hlm. 566–572
- Khatoon 2012, hlm. 308–311
- ↑
- Bernstein & Nash 2006, hlm. 384
- Harrell 2018, hlm. 478–479
- ↑
- Bernstein & Nash 2006, hlm. 384–385
- Gross 2020, hlm. 619–620, 625–626
- Berman, Weems & Stickle 2006, hlm. 285–292
- Nairne 2011, hlm. 124–125, 131–132
- ↑
- Bernstein & Nash 2006, hlm. 385
- Gross 2020, hlm. 633–638, 664
- Nairne 2011, hlm. 124–125, 131–132
- ↑
- Carruthers 2019, hlm. ix, 29–30
- Griffin 1998, hlm. 53–55
- ↑ Spradlin & Porterfield 2012, hlm. 17–18
- ↑
- Carruthers 2019, hlm. 29–30
- Steiner 2014, hlm. 93
- Thomas 2020, hlm. 999–1000
- ↑
- Griffin 2013, hlm. ix
- Carruthers 2019, hlm. ix
- Fischer 2021, hlm. 28–29
- ↑
- Fischer 2021, hlm. 30–32
- Lurz, Lead Section
- Carruthers 2019, hlm. ix, 29–30
- Penn, Holyoak & Povinelli 2008, hlm. 109–110
- ↑
- Melis & Monsó 2023, hlm. 1–2
- Rysiew 2012
- ↑
- Fischer 2021, hlm. 32–35
- Lurz, Lead Section
- Griffin 1998, hlm. 53–55
- Carruthers 2019, hlm. ix–x
- Penn, Holyoak & Povinelli 2008, hlm. 109–110
- ↑
- McClelland 2021, hlm. 81
- Franklin 1995, hlm. 1–2
- Anderson & Piccinini 2024, hlm. 232–233
- Carruthers 2004, hlm. 267–268
- ↑
- Carruthers 2004, hlm. 267–268
- Levin 2023, Lead Section, § 1. What Is Functionalism?
- Searle 2004, hlm. 62
- Jaworski 2011, hlm. 136–137
- 1 2
- Biever 2023, hlm. 686–689
- Carruthers 2004, hlm. 248–249, 269–270
- Bansal 2022, § 6. The Plastic Mind
- Hodges 2013, hlm. 3, 6
- ↑ Carruthers 2004, hlm. 270–273
- ↑
- Chen 2023, hlm. 1141
- Bringsjord & Govindarajulu 2024, § 8. Philosophy of Artificial Intelligence
- Butz 2021, hlm. 91–92
- ↑
- Bringsjord & Govindarajulu 2024, § 8. Philosophy of Artificial Intelligence
- Fjelland 2020, hlm. 1–2
- ↑ Murphy, Donovan & Smart 2020, hlm. 97–99, 103–104, 112
- ↑
- Gross 2020, hlm. 731–735
- Nairne 2011, hlm. 450–453
- Bernstein & Nash 2006, hlm. 455–457
- ↑ Bernstein & Nash 2006, hlm. 468
- ↑
- Bernstein & Nash 2006, hlm. 466–468
- Gross 2020, hlm. 751–752
- Nairne 2011, hlm. 459–461
- ↑
- Bernstein & Nash 2006, hlm. 473–474, 476–477
- Gross 2020, hlm. 755
- Nairne 2011, hlm. 466
- ↑
- Nairne 2011, hlm. 471
- Bernstein & Nash 2006, hlm. 485–486
- ↑
- Noll 2009, hlm. 122
- Sharma & Branscum 2020, hlm. 122
- Bernstein & Nash 2006, hlm. 480–481
- Nairne 2011, hlm. 468–469
- ↑
- Gross 2020, hlm. 766
- Bernstein & Nash 2006, hlm. 472–473
- ↑
- Nairne 2011, hlm. 472–473, 475–478
- Bernstein & Nash 2006, hlm. 457–460
- Chan 2020, hlm. 105–106
- ↑
- Bernstein & Nash 2006, hlm. 502–503
- Nairne 2011, hlm. 485–486
- Gross 2020, hlm. 773–774
- ↑
- Nairne 2011, hlm. 493–494
- Bernstein & Nash 2006, hlm. 503–505
- Gross 2020, hlm. 781–782
- ↑
- Nairne 2011, hlm. 493, 495–496
- Bernstein & Nash 2006, hlm. 508–509
- Gross 2020, hlm. 789–790
- ↑
- Bernstein & Nash 2006, hlm. 508–509
- Nairne 2011, hlm. 502–503
- Gross 2020, hlm. 784–785
- ↑
- Nairne 2011, hlm. 499–500
- Bernstein & Nash 2006, hlm. 505–506
- ↑
- Bernstein & Nash 2006, hlm. 525–527
- Nairne 2011, hlm. 487–490
- Gross 2020, hlm. 774–779
- ↑
- Pashler 2013, hlm. xxix–xxx
- Friedenberg, Silverman & Spivey 2022, hlm. xix, 12–13
- ↑
- Friedenberg, Silverman & Spivey 2022, hlm. 1
- Uttal 2011, hlm. 1–4
- ↑
- Gross 2020, hlm. 1–3
- Friedenberg, Silverman & Spivey 2022, hlm. 15–16
- ↑
- Dawson 2022, hlm. 161–162
- Gross 2020, hlm. 4–6
- ↑
- Higgs, Cooper & Lee 2019, hlm. 3–4
- Gross 2020, hlm. 4–8
- ↑
- Gross 2020, hlm. 4–6
- Thornton & Gliga 2020, hlm. 35
- Sharma & Sharma 1997, hlm. 7–9
- ↑ American Psychological Association 2018, § Personality, § Personality Psychology
- ↑ Gross 2020, hlm. 4–8
- ↑
- Nairne 2011, hlm. 11–14
- Bernstein & Nash 2006, hlm. 10–13
- ↑
- Nairne 2011, hlm. 313, 322–323
- American Psychological Association 2018, § Psychometrics
- ↑
- Hood 2013, hlm. 1314–1315
- Dumont 2008, hlm. 17, 48
- Howitt & Cramer 2011, hlm. 16–17
- ↑
- Dumont 2008, hlm. 17, 48
- Howitt & Cramer 2011, hlm. 11–12
- ↑
- Howitt & Cramer 2011, hlm. 232–233
- Dumont 2008, hlm. 27–28
- ↑
- Howitt & Cramer 2011, hlm. 232–233, 294–295
- Dumont 2008, hlm. 29–30
- ↑
- Howitt & Cramer 2011, hlm. 220–221, 383–384
- Dumont 2008, hlm. 28
- ↑ Scharff 2008, hlm. 270–271
- ↑
- Friedenberg, Silverman & Spivey 2022, hlm. 17–18
- Hellier 2014, hlm. 31–32
- Marcus & Jacobson 2012, hlm. 3
- ↑
- Getz 2023, hlm. 1–2, 7–8
- Cowan, Harter & Kandel 2000, hlm. 343–344
- ↑
- Friedenberg, Silverman & Spivey 2022, hlm. 17–18
- Engelmann, Mulckhuyse & Ting 2019, hlm. 159
- Scharff 2008, hlm. 270–271
- Hellier 2014, hlm. 31–32
- ↑
- Stich & Warfield 2008, hlm. ix–x
- Mandik 2014, hlm. 1–4, 14
- Kind 2018, Lead Section
- Adams & Beighley 2015, hlm. 54
- ↑ Timpe, § Lead Section, § 3. Free Will and Determinism
- ↑ Hickey, Lead section
- ↑
- Stich & Warfield 2008, hlm. ix–xi
- Shaffer 2015, hlm. 555–556
- Audi 2006, § Philosophical Methods
- ↑
- Brown & Fehige 2019, Lead Section
- Goffi & Roux 2011, hlm. 165, 168–169
- ↑
- Smith 2018, Lead Section, § 1. What Is Phenomenology?, §6. Phenomenology and Philosophy of Mind
- Smith 2013, hlm. 335–336
- ↑
- Jaworski 2011, hlm. 359, 362, 371
- Flanagan 2005, hlm. 603–604
- Tanney 2022, Lead section
- 1 2
- Friedenberg, Silverman & Spivey 2022, hlm. 2–3
- Bermúdez 2014, hlm. 3, 85
- Thagard 2023, Lead section, § 3. Representation and Computation
- ↑
- Bermúdez 2014, hlm. 5–6, 29–30, 59–60
- Thagard 2023, Lead section, § 1. History
- ↑
- Friedenberg, Silverman & Spivey 2022, hlm. 2
- Spruit 2008, hlm. 203
- ↑
- Friedenberg, Silverman & Spivey 2022, hlm. 8–9
- Bermúdez 2014, hlm. 122–123
- ↑
- Bermúdez 2014, hlm. 85, 129–130
- Koenig 2004, hlm. 274
- ↑
- Revonsuo & Newman 1999
- Bermúdez 2014, hlm. 335, 486
- ↑
- Avramides 2023, Lead Section, § 1.4 Perceptual Knowledge of Other Minds
- Overgaard 2010, hlm. 255–258
- ↑
- ↑
- Luhrmann 2023, Abstract, § Introduction, § Conceptions of the mind in early ethnographies, § Conclusion: The Understanding of Mind in the West Is Peculiar
- Toren 2010, hlm. 577–580, 582
- Beatty 2019
- ↑ Franks 2007, hlm. 3055–3056
- ↑
- Munroe 2007, § Abstract
- Chandler & Munday 2011
- ↑
- Karunamuni 2015, hlm. 1–2
- Coseru 2017, Lead Section; § 2.3 The Five Aggregates
- Laine 1998, Lead Section
- ↑
- Laine 1998, § Philosophy of Mind in the Upaniṣads
- Rao 2002, hlm. 315–316
- ↑
- Clark, Lints & Smith 2004, hlm. 52–53
- Duncan & LoLordo 2013, hlm. xvi
- ↑
- Rassool 2021, hlm. 74
- Rothman 2021, hlm. 2010
- ↑
- Wong 2023, Lead Section
- Hall & Ames 1998
- 1 2
- Sysling 2022, hlm. 407
- Dixon & Shapiro 2022, § 5. Mind, Brain, and Morality
- Bernstein & Nash 2006, hlm. 58
- Bermúdez 2014, hlm. 285, 287
- ↑
- Chazan 2022, hlm. 15–16
- Bartlett & Burton 2007, hlm. 81–85
- Murphy 2003, hlm. 5, 19–20
- Alexander 2013, hlm. 109–110
- ↑ Emaliana 2017, hlm. 59–61
- ↑
- Bartlett & Burton 2007, hlm. 81–85
- Murphy 2003, hlm. 5, 19–20
- Jacobs & Renandya 2019, hlm. 3
- ↑
- Stairs 1998, Lead Section
- HarperCollins 2022, § Parapsychology
- Evans 2004, hlm. 584–585
Sumber
[sunting | sunting sumber]- Abel, Ernest L. (2003). "Fetal Alcohol Syndrome". Dalam Blocker, Jack S.; Fahey, David M.; Tyrrell, Ian R. (ed.). Alcohol and Temperance in Modern History: An International Encyclopedia (dalam bahasa Inggris). Bloomsbury Publishing. hlm. 231–232. ISBN 978-1-57607-834-1.
- Aboitiz, F.; Montiel, J. F. (2007). Origin and Evolution of the Vertebrate Telencephalon, with Special Reference to the Mammalian Neocortex (dalam bahasa Inggris). Springer. ISBN 978-3-540-49761-5.
- Aboitiz, F.; Montiel, J. F. (2012). "From Tetrapods to Primates: Conserved Developmental Mechanisms in Diverging Ecological Adaptations". Dalam Hofman, Michel A.; Falk, Dean (ed.). Evolution of the Primate Brain: From Neuron to Behavior (dalam bahasa Inggris). Elsevier. hlm. 3–24. ISBN 978-0-444-53860-4.
- Adams, Fred; Beighley, Steve (2015). "The Mark of the Mental". Dalam Garvey, James (ed.). The Bloomsbury Companion to Philosophy of Mind (dalam bahasa Inggris). Bloomsbury Publishing. hlm. 54–72. ISBN 978-1-4742-4391-9.
- Alexander, Robin (2013). Essays on Pedagogy (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-136-02790-1.
- Alston, William P. (2018). "What Metaphysical Realism is not". Dalam Alston, William P. (ed.). Realism and Antirealism (dalam bahasa Inggris). Cornell University Press. hlm. 97–118. ISBN 978-1-5017-2056-7.
- American Psychological Association (2018). "APA Dictionary of Psychology" (dalam bahasa Inggris). American Psychological Association.
- Anderson, Neal G.; Piccinini, Gualtiero (2024). The Physical Signature of Computation: A Robust Mapping Account (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-883364-2.
- Athreya, Balu H.; Mouza, Chrystalla (2016). Thinking Skills for the Digital Generation: The Development of Thinking and Learning in the Age of Information (dalam bahasa Inggris). Springer. ISBN 978-3-319-12364-6.
- Audi, Robert (1993). The Structure of Justification (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-44612-9.
- Audi, Robert (2006). "Philosophy". Dalam Borchert, Donald M. (ed.). Encyclopedia of Philosophy. 7: Oakeshott - Presupposition (Edisi 2.). Thomson Gale, Macmillan Reference. ISBN 978-0-02-865787-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 February 2022.
- Avramides, Anita (2023). "Other Minds". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 May 2019. Diakses tanggal 7 May 2024.
- Aydede, Murat (2017). "Language of Thought". Oxford Bibliographies (dalam bahasa Inggris). doi:10.1093/OBO/9780195396577-0151. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 May 2024. Diakses tanggal 17 April 2024.
- Ball, Linden J. (2013). "Thinking". Dalam Pashler, Harold (ed.). Encyclopedia of the Mind (dalam bahasa Inggris). Sage. hlm. 739–742. ISBN 978-1-4129-5057-2.
- Bansal, Mukesh (2022). No Limits: The Art and Science of High Performance (dalam bahasa Inggris). Penguin Random House India. ISBN 978-93-5492-611-2.
- Barrett, Lisa Feldman (2009). "The Future of Psychology: Connecting Mind to Brain". Perspectives on Psychological Science. 4 (4): 326–339. doi:10.1111/j.1745-6924.2009.01134.x. PMC 2763392. PMID 19844601.
- Bartlett, Gary (2018). "Occurrent States". Canadian Journal of Philosophy. 48 (1): 1–17. doi:10.1080/00455091.2017.1323531.
- Bartlett, Steve; Burton, Diana (2007). Introduction to Education Studies (Edisi 2nd). Sage. ISBN 978-1-4129-2193-0.
- Bayne, Tim (2022). Philosophy of Mind: An Introduction. Routledge. ISBN 978-0-415-66984-9.
- Beatty, Andrew (2019). "Psychological Anthropology". Oxford Bibliographies (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. doi:10.1093/OBO/9780199766567-0124. ISBN 978-0-19-976656-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 March 2023. Diakses tanggal 7 May 2024.
- Benarroch, Eduardo E. (2021). Neuroscience for Clinicians: Basic Processes, Circuits, Disease Mechanisms, and Therapeutic Implications (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-094891-7.
- Berman, Steven L.; Weems, Carl F.; Stickle, Timothy R. (2006). "Existential Anxiety in Adolescents: Prevalence, Structure, Association with Psychological Symptoms and Identity Development". Journal of Youth and Adolescence. 35 (3): 285–292. doi:10.1007/s10964-006-9032-y.
- Bermúdez, José Luis (2014). Cognitive Science: An Introduction to the Science of the Mind (Edisi 2.). Cambridge University Press. ISBN 978-1-107-05162-1.
- Bernstein, Douglas; Nash, Peggy W. (2006). Essentials of Psychology (dalam bahasa Inggris). Houghton Mifflin Harcourt. ISBN 978-0-618-71312-7.
- Biever, Celeste (2023). "ChatGPT Broke the Turing Test — the Race Is on for New Ways to Assess AI". Nature. 619 (7971): 686–689. Bibcode:2023Natur.619..686B. doi:10.1038/d41586-023-02361-7. PMID 37491395.
- Bigaj, Tomasz; Wüthrich, Christian (2015). Metaphysics in Contemporary Physics (dalam bahasa Inggris). Brill. ISBN 978-90-04-31082-7.
- Birch, Ann; Malim, Tony (2017). Introductory Psychology (dalam bahasa Inggris). Palgrave. ISBN 978-1-349-14186-9.
- Blackmore, Susan (2013). Consciousness: An Introduction (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-4441-2827-7.
- Bringsjord, Selmer; Govindarajulu, Naveen Sundar (2024). "Artificial Intelligence". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 May 2024. Diakses tanggal 6 May 2024.
- Broome, John (2021). "Reasons and Rationality". Dalam Knauff, Markus; Spohn, Wolfgang (ed.). The Handbook of Rationality (dalam bahasa Inggris). MIT Press. hlm. 129–136. ISBN 978-0-262-36185-9.
- Brown, James Robert; Fehige, Yiftach (2019). "Thought Experiments". Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 November 2017. Diakses tanggal 29 October 2021.
- Bunge, Mario (2014). The Mind–Body Problem: A Psychobiological Approach (dalam bahasa Inggris). Elsevier. ISBN 978-1-4831-5012-3.
- Butz, Martin V. (2021). "Towards Strong AI". KI - Künstliche Intelligenz. 35 (1): 91–101. doi:10.1007/s13218-021-00705-x.
- Campbell, William W.; Barohn, Richard J. (2019). Ranganathan, Lakshmi Narasimhan (ed.). Dejong's The Neurologic Examinations (dalam bahasa Inggris). Wolters Kluwer India. ISBN 978-93-89702-13-2.
- Carel, Havi (2006). Life and Death in Freud and Heidegger (dalam bahasa Inggris). Rodopi. ISBN 978-90-420-1659-0.
- Carruthers, Peter (2004). The Nature of the Mind: An Introduction (Edisi 1). Routledge. ISBN 978-0-415-29994-7.
- Carruthers, Peter (2019). Human and Animal Minds: The Consciousness Questions Laid to Rest (Edisi 1). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-884370-2.
- Chan, Eva Oi Wah (2020). "Development of Care Models in Community Mental Health Care". Dalam Fong, Ben Yuk Fai; Law, Vincent Tin Sing; Lee, Albert (ed.). Primary Care Revisited: Interdisciplinary Perspectives for a New Era (dalam bahasa Inggris). Springer Nature Singapore. hlm. 99–114. ISBN 978-981-15-2521-6.
- Chandler, Daniel; Munday, Rod (2011). "Intersubjectivity". A Dictionary of Media and Communication. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-956875-8.
- Chazan, Barry (2022). "What Is "Education"?". Principles and Pedagogies in Jewish Education (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 13–21. doi:10.1007/978-3-030-83925-3_3. ISBN 978-3-030-83925-3. S2CID 239896844.
- Chen, Zhaoman (2023). "Exploration of Youth Social Work Model Driven by Artificial Intelligence". Dalam Hung, Jason C.; Yen, Neil Y.; Chang, Jia-Wei (ed.). Frontier Computing: Theory, Technologies and Applications (FC 2022) (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 1138–1146. ISBN 978-981-99-1428-9.
- Chowdhary, K. R. (2020). Fundamentals of Artificial Intelligence (dalam bahasa Inggris). Springer Nature India. ISBN 978-81-322-3972-7.
- Clark, Kelly James; Lints, Richard; Smith, James K. A. (2004). "Mind/Soul/Spirit". 101 Key Terms in Philosophy and Their Importance for Theology (dalam bahasa Inggris). Westminster John Knox Press. ISBN 978-0-664-22524-7.
- Coall, David A.; Callan, Anna C.; Dickins, Thomas E.; Chisholm, James S. (2015). "Evolution and Prenatal Development: An Evolutionary Perspective". Dalam Lamb, Michael E. (ed.). Handbook of Child Psychology and Developmental Science, Socioemotional Processes (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. hlm. 57–105. ISBN 978-1-118-95387-7.
- Coseru, Christian (2017). "Mind in Indian Buddhist Philosophy". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 August 2019. Diakses tanggal 8 May 2024.
- Costall, Alan; Leuda, Ivan (2009). "'Theory of Mind': The Madness in the Method". Dalam Leudar, I.; Costall, A. (ed.). Against Theory of Mind (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 39–55. ISBN 978-0-230-23438-3.
- Cowan, W. Maxwell; Harter, Donald H.; Kandel, Eric R. (2000). "The Emergence of Modern Neuroscience: Some Implications for Neurology and Psychiatry". Annual Review of Neuroscience. 23 (1): 343–391. doi:10.1146/annurev.neuro.23.1.343. PMID 10845068.
- Cowart, Monica. "Embodied Cognition". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diakses tanggal 2 December 2024.
- Crane, Tim (1998). "Intentionality as the Mark of the Mental". Dalam O'Hear, Anthony (ed.). Current Issues in Philosophy of Mind. Cambridge University Press. hlm. 229–252. ISBN 978-0-521-63927-9.
- Crane, Tim; Patterson, Sarah (2000). "Introduction". Dalam Crane, Tim; Patterson, Sarah (ed.). History of the Mind-body Problem. Routledge. hlm. 1–12. ISBN 978-0-415-40831-8.
- Cresswell, Julia (2010). Oxford Dictionary of Word Origins (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-954793-7.
- Cunningham, Suzanne (2000). What Is a Mind?: An Integrative Introduction to the Philosophy of Mind (dalam bahasa Inggris). Hackett Publishing. ISBN 978-0-87220-518-5.
- Dash, Paul; Villemarette-Pitman, Nicole (2005). Alzheimer's Disease (dalam bahasa Inggris). Demos Medical Publishing. ISBN 978-1-934559-49-9.
- Davies, Martin (2001). "Consciousness". Dalam Wilson, Robert A.; Keil, Frank C. (ed.). The MIT Encyclopedia of the Cognitive Sciences (MITECS) (dalam bahasa Inggris). MIT Press. hlm. 190–193. ISBN 978-0-262-73144-7.
- Dawson, Michael R. W. (2022). What Is Cognitive Psychology? (dalam bahasa Inggris). Athabasca University Press. ISBN 978-1-77199-342-5.
- Deutsch, Eliot (2013). "The Self in Advaita Vedanta". Dalam Perrett, Roy W. (ed.). Metaphysics: Indian Philosophy (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 343–360. ISBN 978-1-135-70266-3.
- Dixon, Thomas; Shapiro, Adam (2022). "5. Mind, Brain, and Morality". Science and Religion: A Very Short Introduction (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 95–110. ISBN 978-0-19-256677-5.
- Driscoll, Joan Riley; Easterbrooks, M. Ann (2007). "Development, Emotional". Dalam Cochran, Moncrieff; New, Rebecca S. (ed.). Early Childhood Education: An International Encyclopedia (dalam bahasa Inggris). Bloomsbury Publishing. hlm. 256–259. ISBN 978-0-313-01448-2.
- Dumont, K. (2008). "2. Research Methods and Statistics". Dalam Nicholas, Lionel (ed.). Introduction to Psychology (dalam bahasa Inggris). University of Capetown Press. hlm. 9–48. ISBN 978-1-919895-02-4.
- Dunbar, Robin I. M. (2007). "Brain and Cognition in Evolutionary Perspective;". Dalam Platek, Steven; Keenan, Julian; Shackelford, Todd Kennedy (ed.). Evolutionary Cognitive Neuroscience (dalam bahasa Inggris). MIT Press. hlm. 21–46. ISBN 978-0-262-16241-8.
- Duncan, Stewart; LoLordo, Antonia (2013). "Introduction". Dalam Duncan, Stewart; LoLordo, Antonia (ed.). Debates in Modern Philosophy: Essential Readings and Contemporary Responses (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. xi–xxi. ISBN 978-1-135-13660-4.
- Emaliana, Ive (2017). "Teacher-Centered or Student-Centered Learning Approach To Promote Learning?". Jurnal Sosial Humaniora. 10 (2): 59. doi:10.12962/j24433527.v10i2.2161. S2CID 148796695.
- Engelmann, Jan B.; Mulckhuyse, Manon; Ting, Chih-Chung (2019). "Brain Measurement and Manipulation Methods;". Dalam Schram, Arthur; Ule, Aljaž (ed.). Handbook of Research Methods and Applications in Experimental Economics (dalam bahasa Inggris). Edward Elgar Publishing. hlm. 142–172. ISBN 978-1-78811-056-3.
- Erulkar, Solomon D.; Lentz, Thomas L. (2024). "Nervous System". Encyclopædia Britannica (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 June 2015. Diakses tanggal 2 May 2024.
- Evans, Christopher (2004). "Parapsychology: A History of Research". Dalam Gregory, Richard Langton (ed.). The Oxford Companion to the Mind (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 584–585. ISBN 978-0-19-866224-2.
- Fagan, Brian M.; Durrani, Nadia (2021). "3. Enter Homo Sapiens (c. 300,000 Years Ago and Later)". World Prehistory: The Basics (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-000-46679-9.
- Finlay, Barbara L.; Innocenti, Giorgio M.; Scheich, Henning (2013). "Evolutionary and Developmental Syntheses: Introduction". Dalam Finlay, Barbara L.; Innocenti, Giorgio M.; Scheich, Henning (ed.). The Neocortex: Ontogeny and Phylogeny (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 3–5. ISBN 978-1-4899-0652-6.
- Fischer, Bob (2021). Animal Ethics: A Contemporary Introduction. Routledge. ISBN 978-1-138-48440-5.
- Fjelland, Ragnar (2020). "Why General Artificial Intelligence Will Not Be Realized". Humanities and Social Sciences Communications (dalam bahasa Inggris). 7 (1) 10. doi:10.1057/s41599-020-0494-4. hdl:11250/2726984. ISSN 2662-9992.
- Flanagan, Owen (2005). "Mind, History of the Philosophy of". Dalam Honderich, Ted (ed.). The Oxford Companion to Philosophy (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 603–607. ISBN 978-0-19-926479-7.
- Frankish, Keith; Kasmirli, Maria (2009). "8. Mind and Consciousness". Dalam Shand, John (ed.). Central Issues of Philosophy (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. hlm. 107–120. ISBN 978-1-4051-6270-8.
- Franklin, Stan (1995). Artificial Minds. MIT Press. ISBN 978-0-262-06178-0.
- Franks, David D. (2007). "Mind". Dalam Ritzer, George (ed.). The Blackwell Encyclopedia of Sociology. Blackwell. hlm. 3055–3057. ISBN 978-1-4051-2433-1.
- Freeman, Derek (1975). "Kinship, Attachment Behaviour and the Primary Bond". Dalam Goody, Jack (ed.). The Character of Kinship (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. hlm. 109–120. ISBN 978-0-521-29002-9.
- Friedenberg, Jay; Silverman, Gordon; Spivey, Michael (2022). Cognitive Science: An Introduction to the Study of Mind (Edisi 4). Sage. ISBN 978-1-5443-8015-5.
- Galandí, Javier Alejandro (2023). "The Mind–Body Problem: An Overview of Proposed Solutions". Dalam Lopez-Soto, Teresa; Garcia-Lopez, Alvaro; Salguero-Lamillar, Francisco J. (ed.). The Theory of Mind Under Scrutiny: Psychopathology, Neuroscience, Philosophy of Mind and Artificial Intelligence (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 435–468. ISBN 978-3-031-46742-4.
- Gennaro, Rocco J. "Consciousness". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 April 2024. Diakses tanggal 19 April 2024.
- Getz, Glen E. (2023). "History of Neurobiology". Applied Biological Psychology (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 1–12. ISBN 978-0-8261-0922-4.
- Giannopulu, Irini (2019). Neuroscience, Robotics and Virtual Reality: Internalised Vs Externalised Mind/Brain (dalam bahasa Inggris). Springer. ISBN 978-3-319-95558-2.
- Gillett, Eric (1996). "Searle and the "Deep Unconscious"". Philosophy, Psychiatry, & Psychology. 3 (3): 191–200. doi:10.1353/ppp.1996.0027.
- Goffi, Jean-Yves; Roux, Sophie (2011). "On the Very Idea of a Thought Experiment". Dalam Ierodiakonou, Katerina; Roux, Sophie (ed.). Thought Experiments in Methodological and Historical Contexts (PDF). Brill. hlm. 165–191. doi:10.1163/ej.9789004201767.i-233.35. ISBN 978-90-04-20177-4. S2CID 260640180. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 October 2021.
- Graham, George (2023). "Behaviorism". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 July 2018. Diakses tanggal 11 May 2024.
- Greif, Hajo (2017). "What Is the Extension of the Extended Mind?". Synthese. 194 (11): 4311–4336. doi:10.1007/s11229-015-0799-9. PMC 5686289. PMID 29200511.
- Griffin, Donald R. (1998). "Mind, Animal". Dalam Hobson, J. Allan (ed.). States of Brain and Mind. Springer. hlm. 53–55. ISBN 978-1-4899-6773-2.
- Griffin, Donald R. (2013). Animal Minds: Beyond Cognition to Consciousness (dalam bahasa Inggris). University of Chicago Press. ISBN 978-0-226-22712-2.
- Groarke, Louis F. "Aristotle: Logic". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 March 2024. Diakses tanggal 17 April 2024.
- Gross, Richard (2020). Psychology: The Science of Mind and Behaviour (dalam bahasa Inggris) (Edisi 8). Hodder Education. ISBN 978-1-5104-6846-7.
- Grünberg, David (2007). "Husserl's Transcendental Phenomenology and the Mind-body Problem". Dalam Tymieniecka, Anna-Teresa (ed.). Phenomenology of Life - From the Animal Soul to the Human Mind: Book II. The Human Soul in the Creative Transformation of the Mind (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 237–258. ISBN 978-1-4020-5182-1.
- Guyer, Paul; Horstmann, Rolf-Peter (2023). "Idealism". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diakses tanggal 31 December 2024.
- Hall, David L.; Ames, Roger T. (1998). "Xin (Heart-and-mind)". Routledge Encyclopedia of Philosophy (dalam bahasa Inggris). Routledge. doi:10.4324/9780415249126-G021-1. ISBN 978-0-415-25069-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 May 2024.
- Harman, Gilbert (2013). "Rationality". Dalam Hugh, LaFollette (ed.). The International Encyclopedia of Ethics (dalam bahasa Inggris) (Edisi 1). Wiley. doi:10.1002/9781444367072.wbiee181. ISBN 978-1-4051-8641-4. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 August 2022.
- HarperCollins (2022). "The American Heritage Dictionary". HarperCollins. Diakses tanggal 9 May 2024.
- HarperCollins (2024). "Definition of Mind". Collins Dictionary. HarperCollins. Diakses tanggal 21 May 2024.
- Harrell, Stevan (2018). Human Families. Routledge. ISBN 978-0-8133-3622-0.
- Hatfield, Gary (2013). "Introduction: The Evolution of Mind, Brain, and Culture". Dalam Hatfield, Gary; Pittman, Holly (ed.). Evolution of Mind, Brain, and Culture. University of Pennsylvania Museum of Archaeology and Anthropology. hlm. 1–44. ISBN 978-1-934536-49-0.
- Hawkins, Spencer (2023). German Philosophy in English Translation: Postwar Translation History and the Making of the Contemporary Anglophone Humanities (dalam bahasa Inggris). Taylor & Francis. ISBN 978-1-000-87684-0.
- Hellier, Jennifer L. (2014). "Introduction: Neuroscience Overview". Dalam Hellier, Jennifer L. (ed.). The Brain, the Nervous System, and Their Diseases (dalam bahasa Inggris). Bloomsbury Publishing. hlm. xxxi–xxxvi. ISBN 978-1-61069-338-7.
- Helms, Marilyn M., ed. (2000). "Motivation and Motivation Theory". Encyclopedia of Management (Edisi 4.). Gale Group. ISBN 978-0-7876-3065-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 April 2021.
- Hickey, Lance P. "Brain in a Vat Argument, The". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diakses tanggal 10 January 2025.
- Higgs, Suzanne; Cooper, Alison; Lee, Jonathan (2019). Biological Psychology (dalam bahasa Inggris). Sage. ISBN 978-1-5264-8278-5.
- Hoad, T. F. (1993). The Concise Oxford Dictionary of English Etymology. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-283098-2.
- Hodges, Andrew (2013). "Alan Turing: An Introductory Biography". Dalam Teuscher, Christof (ed.). Alan Turing: Life and Legacy of a Great Thinker (dalam bahasa Inggris). Springer. ISBN 978-3-662-05642-4.
- Hoff, Eva V. (2020). "Imagination". Dalam Runco, Mark A.; Pritzker, Steven R. (ed.). Encyclopedia of Creativity (dalam bahasa Inggris). Academic Press. hlm. 617–623. ISBN 978-0-12-815615-5.
- Hood, Ralph W. (2013). "Methodology in Psychology". Dalam Runehov, Anne L. C.; Oviedo, Lluis (ed.). Encyclopedia of Sciences and Religions (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 1314–1322. doi:10.1007/978-1-4020-8265-8_695. ISBN 978-1-4020-8265-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 May 2024.
- Howitt, Dennis; Cramer, Duncan (2011). Introduction to Research Methods in Psychology (Edisi 3). Pearson Education. ISBN 978-0-273-73499-4.
- Hufendiek, Rebekka; Wild, Markus (2015). "6. Faculties and Modularity". Dalam Perler, Dominik (ed.). The Faculties: A History (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 254–298. ISBN 978-0-19-993527-7.
- Jacob, Pierre (2023). "Intentionality". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 August 2018. Diakses tanggal 11 May 2024.
- Jacobs, George M.; Renandya, Willy A. (2019). Student Centered Cooperative Learning: Linking Concepts in Education to Promote Student Learning (dalam bahasa Inggris). Springer Nature Singapore. ISBN 978-981-13-7213-1.
- Jaworski, William (2011). Philosophy of Mind: A Comprehensive Introduction (Edisi 1). Wiley-Blackwell. ISBN 978-1-4443-3367-1.
- Jerison, H. J. (2013). "Fossil Brains and the Evolution of the Neocortex". Dalam Finlay, Barbara L.; Innocenti, Giorgio M.; Scheich, Henning (ed.). The Neocortex: Ontogeny and Phylogeny (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 5–20. ISBN 978-1-4899-0652-6.
- Karunamuni, Nandini D. (2015). "The Five-Aggregate Model of the Mind". SAGE Open. 5 (2) 2158244015583860. doi:10.1177/2158244015583860.
- Kenny, Anthony (1992). "5. Abilities, Faculties, Powers, and Dispositions". The Metaphysics of Mind. hlm. 66–85. doi:10.1093/acprof:oso/9780192830708.003.0005. ISBN 978-0-19-167052-7.
- Khatoon, Naima, ed. (2012). General Psychology (dalam bahasa Inggris). Pearson Education India. ISBN 978-81-317-5999-8.
- Khurana, Indu; Khurana, Arushi (2018). Concise Textbook of Human Physiology (dalam bahasa Inggris). RELX India. ISBN 978-81-312-5300-7.
- Khushboo; Kumar, Abishek; Sharma, Bechan (2020). "Phytochemicals as Antidepressants". Dalam Patra, Jayanta Kumar; Shukla, Amritesh C.; Das, Gitishree (ed.). Advances in Pharmaceutical Biotechnology: Recent Progress and Future Applications (dalam bahasa Inggris). Springer Nature Singapore. hlm. 115–132. ISBN 978-981-15-2195-9.
- Kihlstrom, John F.; Tobias, Betsy A. (1991). "Anosognosia, Consciousness, and the Self". Dalam Prigatano, George P.; Schacter, Daniel L. (ed.). Awareness of Deficit After Brain Injury: Clinical and Theoretical Issues (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 198–223. ISBN 978-0-19-505941-0.
- Kim, Jaegwon (2005). "Mind, Problems of the Philosophy of". Dalam Honderich, Ted (ed.). The Oxford Companion to Philosophy (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 607–612. ISBN 978-0-19-926479-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 April 2024.
- Kim, Jaegwon (2011). Philosophy of Mind (Edisi 3rd). Westview Press. ISBN 978-0-8133-4458-4.
- Kind, Amy (2017). "Imagination". Routledge Encyclopedia of Philosophy (dalam bahasa Inggris). doi:10.4324/9780415249126-V017-2. ISBN 978-0-415-25069-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 April 2024.
- Kind, Amy (2018). "The Mind–Body Problem in 20th-Century Philosophy". Dalam Kind, Amy (ed.). Philosophy of Mind in the Twentieth and Twenty-First Centuries. The History of the Philosophy of Mind (dalam bahasa Inggris). Vol. 6. Routledge. ISBN 978-0-429-01938-8.
- Kind, Amy (2020). Philosophy of Mind: The Basics (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-317-61354-1.
- Kind, Amy (2023). "1. The Mind-Body Problem: Dualism Rebooted". Dalam Kind, Amy; Stoljar, Daniel (ed.). What Is Consciousness?: A Debate (dalam bahasa Inggris). Taylor & Francis. ISBN 978-1-000-86666-7.
- Kind, Amy; Stoljar, Daniel (2023). What is Consciousness?: A Debate (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-000-86666-7.
- Kiverstein, Julian; Farina, Mirko; Clark, Andy (2013). "The Extended Mind Thesis". Oxford Bibliographies (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 February 2024. Diakses tanggal 11 May 2024.
- Knauff, Markus; Spohn, Wolfgang (2021). "Psychological and Philosophical Frameworks of Rationality—A Systematic Introduction". Dalam Knauff, Markus; Spohn, Wolfgang (ed.). The Handbook of Rationality (dalam bahasa Inggris). MIT Press. hlm. 1–65. ISBN 978-0-262-36185-9.
- Koenig, Oliver (2004). "Modularity: Neuroscience". Dalam Houdé, Olivier; Kayser, Daniel; Koenig, Olivier; Proust, Joëlle; Rastier, François (ed.). Dictionary of Cognitive Science: Neuroscience, Psychology, Artificial Intelligence, Linguistics, and Philosophy (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 273–275. ISBN 978-1-135-45635-1.
- Kriegel, Uriah (2014). "Intentionality". Dalam Bayne, Tim; Cleeremans, Axel; Wilken, Patrick (ed.). The Oxford Companion to Consciousness (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-102103-9.
- Kriegel, Uriah (2015). The Varieties of Consciousness (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-984612-2.
- Laine, Joy (1998). "Mind, Indian Philosophy of". Routledge Encyclopedia of Philosophy (dalam bahasa Inggris). Routledge. doi:10.4324/9780415249126-F070-1. ISBN 978-0-415-25069-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 May 2024.
- Levin, Janet (2023). "Functionalism". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 April 2021. Diakses tanggal 22 April 2024.
- Lindeman, David. "Propositional Attitudes". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 February 2024. Diakses tanggal 19 April 2024.
- Luhrmann, Tanya Marie (2023). Stein, Felix (ed.). "Mind". The Open Encyclopedia of Anthropology. Cambridge University Press. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 May 2024. Diakses tanggal 7 May 2024.
- Lurz, Robert. "Minds, Animal". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 May 2024. Diakses tanggal 6 May 2024.
- Macmillan, Malcolm; Lena, Matthew L. (2010). "Rehabilitating Phineas Gage". Neuropsychological Rehabilitation. 20 (5): 641–658. doi:10.1080/09602011003760527. PMID 20480430.
- Majkić, Ana (2024). "Behavioral Modernity, Evolutionary Synergies, and the Symbolic Species". Dalam Gontier, Nathalie; Lock, Andy; Sinha, Chris (ed.). The Oxford Handbook of Human Symbolic Evolution (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 97–132. ISBN 978-0-19-881378-1.
- Mandalaywala, Tara; Fleener, Christine; Maestripieri, Dario (2014). "Intelligence in Nonhuman Primates". Dalam Goldstein, Sam; Princiotta, Dana; Naglieri, Jack A. (ed.). Handbook of Intelligence: Evolutionary Theory, Historical Perspective, and Current Concepts (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 11–26. ISBN 978-1-4939-1562-0.
- Mandik, Pete (2014). This Is Philosophy of Mind: An Introduction. Wiley-Blackwell. ISBN 978-0-470-67447-5.
- Marcum, James A. (2008). An Introductory Philosophy of Medicine: Humanizing Modern Medicine (dalam bahasa Inggris). Springer. ISBN 978-1-4020-6797-6.
- Marcus, Elliott M.; Jacobson, Stanley (2012). Integrated Neuroscience: A Clinical Problem Solving Approach (dalam bahasa Inggris). Springer. ISBN 978-1-4615-1077-2.
- Marsh, Ian; Melvill, Gaynor; Morgan, Keith; Norris, Gareth; Walkington, Zoe (2007). Theories of Crime (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-134-19842-9.
- Martin, M. G. F. (1998). "Perception". Routledge Encyclopedia of Philosophy (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-0-415-07310-3. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 March 2024.
- Maruyama, Yoshihiro (2020). "Rationality, Cognitive Bias, and Artificial Intelligence: A Structural Perspective on Quantum Cognitive Science". Dalam Harris, Don; Li, Wen-Chin (ed.). Engineering Psychology and Cognitive Ergonomics: Cognition and Design (dalam bahasa Inggris). Vol. 2. Springer. hlm. 172–188. ISBN 978-3-030-49183-3.
- Matheson, Benjamin (2017). "Introduction". Dalam Nagasawa, Yujin; Matheson, Benjamin (ed.). The Palgrave Handbook of the Afterlife (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 1–20. ISBN 978-1-137-48609-7.
- McClelland, Tom (2021). What Is Philosophy of Mind? (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. ISBN 978-1-5095-3878-2.
- McLear, Colin. "Kant: Philosophy of Mind". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 December 2023. Diakses tanggal 16 April 2024.
- McPeek, Robert M. (2009). "Attention: Physiological". Dalam Goldstein, E. Bruce (ed.). Encyclopedia of Perception (dalam bahasa Inggris). Sage. hlm. 97–100. ISBN 978-1-4522-6615-2.
- McQueen, Paddy; McQueen, Hilary (2010). Key Concepts in Philosophy (dalam bahasa Inggris). Bloomsbury Publishing. ISBN 978-1-137-09339-4.
- Melis, Giacomo; Monsó, Susana (2023). "Are Humans the Only Rational Animals?". The Philosophical Quarterly. 74 (3): 844–864. doi:10.1093/pq/pqad090. hdl:1893/35449.
- Merriam-Webster (2024). "Merriam-Webster Dictionary" (dalam bahasa Inggris). Merriam-Webster. Diakses tanggal 11 May 2024.
- Meyer, Jerrold S.; Meyer, Jerry; Farrar, Andrew M.; Biezonski, Dominik; Yates, Jennifer R. (2022). Psychopharmacology: Drugs, the Brain, and Behavior (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-1-60535-987-8.
- Mijoia, Alain de (2005). "The Unconscious". International Dictionary of Psychoanalysis. Macmillan Reference. hlm. 1818–1820. ISBN 978-0-02-865927-5.
- Morton, Adam (2005). "Mind". Dalam Honderich, Ted (ed.). The Oxford Companion to Philosophy (Edisi 2). Oxford University Press. hlm. 603. ISBN 978-0-19-926479-7.
- Müller, Jörg P. (1996). The Design of Intelligent Agents: A Layered Approach (dalam bahasa Inggris). Springer. ISBN 978-3-540-62003-7.
- Munroe, Paul T. (2007). "Intersubjectivity". Dalam Ritzer, George (ed.). The Blackwell Encyclopedia of Sociology (dalam bahasa Inggris) (Edisi 1). John Wiley & Sons. hlm. 1–3. doi:10.1002/9781405165518.wbeosi067.pub2. ISBN 978-1-4051-2433-1.
- Murphy, Patricia (2003). "1. Defining Pedagogy". Dalam Gipps, Caroline V. (ed.). Equity in the Classroom: Towards Effective Pedagogy for Girls and Boys (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 9–22. ISBN 978-1-135-71682-0.
- Murphy, Dominic; Donovan, Caitrin; Smart, Gemma Lucy (2020). "Mental Health and Well-Being in Philosophy". Dalam Sholl, Jonathan; Rattan, Suresh I. S. (ed.). Explaining Health Across the Sciences (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 97–114. ISBN 978-3-030-52663-4.
- Nairne, James S. (2011). Psychology (Edisi 5). Cengage Learning. ISBN 978-0-8400-3310-9.
- Nolfi, Kate (2015). "Which Mental States Are Rationally Evaluable, And Why?". Philosophical Issues. 25 (1): 41–63. doi:10.1111/phis.12051.
- Noll, Richard (2009). The Encyclopedia of Schizophrenia and Other Psychotic Disorders (dalam bahasa Inggris). Infobase Publishing. ISBN 978-0-8160-7508-9.
- Nunes, Terezinha (2011). "Logical Reasoning and Learning". Dalam Seel, Norbert M. (ed.). Encyclopedia of the Sciences of Learning (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 2066–2069. ISBN 978-1-4419-1427-9.
- Oakley, Lisa (2004). Cognitive Development (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-134-54743-2.
- Olson, Eric T. (2013). "There Is No Problem of the Self". Dalam Gallagher, Shaun; Shear, Jonathan (ed.). Models of the Self (dalam bahasa Inggris). Andrews UK Limited. hlm. 49–62. ISBN 978-1-84540-723-0.
- Opris, Ioan; Casanova, Manuel F.; Lebedev, Mikhail A.; Popescu, Aurel I. (2017). "Prefrontal Cortical Microcircuits Support the Emergence of Mind". Dalam Opris, Ioan (ed.). The Physics of the Mind and Brain Disorders: Integrated Neural Circuits Supporting the Emergence of Mind. Springer. hlm. 69–94. ISBN 978-3-319-29672-2.
- Overgaard, Søren (2010). "The Problem of Other Minds". Dalam Schmicking, Daniel; Gallagher, Shaun (ed.). Handbook of Phenomenology and Cognitive Science (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 254–268. doi:10.1007/978-90-481-2646-0_14. ISBN 978-90-481-2646-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 May 2024.
- O'Madagain, Cathal. "Intentionality". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 April 2024. Diakses tanggal 10 May 2024.
- Packer, Martin J. (2017). Child Development: Understanding A Cultural Perspective (dalam bahasa Inggris). Sage. ISBN 978-1-5264-1311-6.
- Paivio, Allan (2014). Mind and Its Evolution: A Dual Coding Theoretical Approach (dalam bahasa Inggris). Psychology Press. ISBN 978-1-317-71690-7.
- Pal, G. K. (2021). Textbook of Medical Physiology (dalam bahasa Inggris) (Edisi 4). RELX India. ISBN 978-81-312-6600-7.
- Pashler, Harold (2013). "Introduction". Dalam Pashler, Harold (ed.). Encyclopedia of the Mind (dalam bahasa Inggris). Sage. hlm. xxix–xxxi. ISBN 978-1-4129-5057-2.
- Penn, Derek C.; Holyoak, Keith J.; Povinelli, Daniel J. (2008). "Darwin's Mistake: Explaining the Discontinuity Between Human and Nonhuman Minds". Behavioral and Brain Sciences. 31 (2): 109–130. doi:10.1017/S0140525X08003543. PMID 18479531.
- Perler, Dominik (2015). "Introduction". Dalam Perler, Dominik (ed.). The Faculties: A History (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 3–18. ISBN 978-0-19-993527-7.
- Polger, Thomas W. "Functionalism". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 May 2019. Diakses tanggal 11 May 2024.
- Popescu, Aurel I.; Opris, Ioan (2017). "Introduction: From Neurons to the Mind". Dalam Opris, Ioan (ed.). The Physics of the Mind and Brain Disorders: Integrated Neural Circuits Supporting the Emergence of Mind. Springer. hlm. 23–54. ISBN 978-3-319-29672-2.
- Priest, Stephen (2002). Merleau-Ponty (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-134-92460-8.
- Rao, A. Venkoba (2002). "'Mind' in Indian Philosophy". Indian Journal of Psychiatry. 44 (4): 315–325. ISSN 0019-5545. PMC 2955300. PMID 21206593.
- Rassool, G. Hussein (2021). Islamic Psychology: Human Behaviour and Experience from an Islamic Perspective (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-000-36292-3.
- Ravenscroft, Ian (2005). Philosophy of Mind: A Beginner's Guide (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-925254-1.
- Reisyan, Garo D. (2015). Neuro-Organizational Culture: A New Approach to Understanding Human Behavior and Interaction in the Workplace (dalam bahasa Inggris). Springer. ISBN 978-3-319-22147-2.
- Revonsuo, A.; Newman, J. (1999). "Binding and Consciousness". Conscious Cogn. 8 (2): 123–127. doi:10.1006/ccog.1999.0393. PMID 10447994. S2CID 32430180.
- Rescorla, Michael (2020). "The Computational Theory of Mind". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 December 2020. Diakses tanggal 11 May 2024.
- Rescorla, Michael (2023). "The Language of Thought Hypothesis". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 May 2024. Diakses tanggal 17 April 2024.
- Reyes, Laura D.; Sherwood, Chet C. (2014). "Neuroscience and Human Brain Evolution". Dalam Bruner, Emiliano (ed.). Human Paleoneurology (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 11–38. ISBN 978-3-319-08500-5.
- Robbins, Philip (2017). "Modularity of Mind". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 February 2021. Diakses tanggal 16 April 2024.
- Roth, Gerhard (2013). The Long Evolution of Brains and Minds. Springer. ISBN 978-94-007-6258-9.
- Rothman, Abdallah (2021). Developing a Model of Islamic Psychology and Psychotherapy: Islamic Theology and Contemporary Understandings of Psychology (dalam bahasa Inggris). Taylor & Francis. ISBN 978-1-000-41621-3.
- Rowlands, Mark (2009). "Enactivism and the Extended Mind". Topoi. 28 (1): 53–62. doi:10.1007/s11245-008-9046-z.
- Rowlands, Mark; Lau, Joe; Deutsch, Max (2020). "Externalism About the Mind". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 April 2021. Diakses tanggal 25 February 2024.
- Rysiew, Patrick (2012). "Rationality". Oxford Bibliographies (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 December 2022. Diakses tanggal 6 May 2024.
- Saab, Carl Y. (2009). The Hindbrain (dalam bahasa Inggris). Infobase Publishing. ISBN 978-1-4381-1965-6.
- Sanderson, Catherine A.; Huffman, Karen R. (2019). Real World Psychology (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. ISBN 978-1-119-57775-1.
- Sayers, Janet (2020). Sigmund Freud: The Basics (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-000-17872-2.
- Scanlon, Valerie C.; Sanders, Tina (2018). Essentials of Anatomy and Physiology (dalam bahasa Inggris). F. A. Davis. ISBN 978-0-8036-9006-6.
- Scharff, Lauren Fruh VanSickle (2008). "Sensation and Perception Research Methods". Dalam Davis, Stephen F. (ed.). Handbook of Research Methods in Experimental Psychology (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. hlm. 263–284. ISBN 978-0-470-75672-0.
- Schoenberg, Mike R.; Marsh, Patrick J.; Lerner, Alan J. (2011). "Neuroanatomy Primer: Structure and Function of the Human Nervous System". Dalam Schoenberg, Mike R.; Scott, James G. (ed.). The Little Black Book of Neuropsychology: A Syndrome-Based Approach (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 59–126. ISBN 978-0-387-76978-3.
- Schweizer, Paul (1993). "Mind/Consciousness Dualism in Sankhya-Yoga Philosophy". Philosophy and Phenomenological Research. 53 (4): 845–859. doi:10.2307/2108256. JSTOR 2108256.
- Schwitzgebel, Eric (2024). "Belief". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 November 2019. Diakses tanggal 20 April 2024.
- Searle, John R. (1991). "Consciousness, Unconsciousness and Intentionality". Philosophical Issues. 1: 45–66. doi:10.2307/1522923. JSTOR 1522923.
- Searle, John R. (2004). Mind: A Brief Introduction. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-515733-8.
- Shaffer, Michael J. (2015). "The Problem of Necessary and Sufficient Conditions and Conceptual Analysis". Metaphilosophy. 46 (4–5): 555–563. doi:10.1111/meta.12158. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 July 2016. Diakses tanggal 13 May 2024.
- Shapiro, Lawrence A. (2019). Embodied Cognition (Edisi 2). Routledge. ISBN 978-1-138-74698-5.
- Shapiro, Lawrence; Spaulding, Shannon (2024). "Embodied Cognition". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University.
- Sharma, Manoj; Branscum, Paul (2020). Foundations of Mental Health Promotion (dalam bahasa Inggris). Jones & Bartlett Learning. ISBN 978-1-284-19975-8.
- Sharma, Rajendra Kumar; Sharma, Rachana (1997). Social Psychology (dalam bahasa Inggris). Atlantic Publishers & Distributors. ISBN 978-81-7156-707-2.
- Sharov, Alexei A. (2012). "Minimal Mind". Dalam Swan, Liz (ed.). Origins of Mind (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 343–360. ISBN 978-94-007-5419-5.
- Shields, Christopher (2020). "Aristotle's Psychology". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diakses tanggal 5 December 2024.
- Siegel, Harvey (2017). Education's Epistemology: Rationality, Diversity, and Critical Thinking (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-068267-5.
- Singer, Jerome L. (2000). "Imagination". Dalam Kazdin, Alan E. (ed.). Encyclopedia of Psychology. Vol. 4. American Psychological Association. hlm. 227–230. ISBN 978-1-55798-187-5.
- Smith, Basil. "Internalism and Externalism in the Philosophy of Mind and Language". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 May 2021. Diakses tanggal 25 February 2024.
- Smith, Jeremy J. (1996). An Historical Study of English: Function, Form and Change (dalam bahasa Inggris). Psychology Press. ISBN 978-0-415-13273-2.
- Smith, David Woodruff (2004). Mind World: Essays in Phenomenology and Ontology (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-53973-9.
- Smith, David Woodruff (2013). "Phenomenological Methods in Philosophy of Mind". Dalam Haug, Matthew (ed.). Philosophical Methodology: The Armchair or the Laboratory? (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 335–352. ISBN 978-1-135-10710-9.
- Smith, David Woodruff (2018). "Phenomenology". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 June 2020. Diakses tanggal 27 April 2024.
- Smithies, Declan (2019). The Epistemic Role of Consciousness (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-094853-5.
- Smitsman, Ad W.; Corbetta, Daniela (2011). "Action in Infancy – Perspectives, Concepts, and Challenges". Dalam Bremner, J. Gavin; Wachs, Theodore D. (ed.). The Wiley-Blackwell Handbook of Infant Development, Volume 1: Basic Research (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. hlm. 167–203. ISBN 978-1-4443-5183-5.
- Spradlin, W. W.; Porterfield, P. B. (2012). The Search for Certainty (dalam bahasa Inggris). Springer. ISBN 978-1-4612-5212-2.
- Spruit, Leen (2008). "Renaissance Views of Active Perception". Dalam Knuuttila, Simo; Kärkkäinen, Pekka (ed.). Theories of Perception in Medieval and Early Modern Philosophy (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 203–224. ISBN 978-1-4020-6125-7.
- Stairs, Allen (1998). "Parapsychology". Routledge Encyclopedia of Philosophy (dalam bahasa Inggris). Routledge. doi:10.4324/9780415249126-W029-1. ISBN 978-0-415-25069-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 May 2023.
- Steinberg Gould, Carol (2020). "6. Psychoanalysis, Imagination, and Imaginative Resistance: A Genesis of the Post-Freudian World". Dalam Moser, Keith; Sukla, Ananta (ed.). Imagination and Art: Explorations in Contemporary Theory (dalam bahasa Inggris). Brill. hlm. 139–154. ISBN 978-90-04-43635-0.
- Steiner, Gary (2014). "Cognition and Community". Dalam Petrus, Klaus; Wild, Markus (ed.). Animal Minds & Animal Ethics: Connecting Two Separate Fields (dalam bahasa Inggris). transcript Verlag. hlm. 83–112. ISBN 978-3-8394-2462-9.
- Sterelny, Kim (2011). "From hominins to humans: how sapiens became behaviourally modern". Philosophical Transactions of the Royal Society B: Biological Sciences. 366 (1566): 809–822. doi:10.1098/rstb.2010.0301. PMC 3048993. PMID 21320896.
- Stich, Stephen P.; Warfield, Ted A. (2008). "Introduction". Dalam Stich, Stephen P.; Warfield, Ted A. (ed.). The Blackwell Guide to Philosophy of Mind (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. hlm. vii–xi. ISBN 978-0-470-99875-5.
- Stoljar, Daniel (2010). Physicalism (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-135-14922-2.
- Stoljar, Daniel (2024). "Physicalism". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 November 2019. Diakses tanggal 22 April 2024.
- Swinburne, Richard (1998). "Soul, Nature and Immortality of the". Routledge Encyclopedia of Philosophy (dalam bahasa Inggris). Routledge. doi:10.4324/9780415249126-K096-1. ISBN 978-0-415-25069-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 September 2023.
- Swinburne, Richard (2013). Mind, Brain, and Free Will (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-105744-1.
- Sysling, Fenneke (2022). "Human Sciences and Technologies of the Self Since the Nineteenth Century". Dalam McCallum, David (ed.). The Palgrave Handbook of the History of Human Sciences (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 401–422. ISBN 978-981-16-7255-2.
- Tanney, Julia (2022). "Gilbert Ryle". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diakses tanggal 11 January 2025.
- Tappolet, Christine (2023). Philosophy of Emotion: A Contemporary Introduction. Routledge. ISBN 978-1-138-68743-1.
- Thagard, Paul (2023). "Cognitive Science". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diakses tanggal 15 January 2025.
- Thomas, Evan (2020). "Descartes on the Animal Within, and the Animals Without". Canadian Journal of Philosophy (dalam bahasa Inggris). 50 (8): 999–1014. doi:10.1017/can.2020.44. ISSN 0045-5091.
- Thornton, Stephanie; Gliga, Teodora (2020). Understanding Developmental Psychology (dalam bahasa Inggris). Bloomsbury Publishing. ISBN 978-1-137-00669-1.
- Timpe, Kevin. "Free Will". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 April 2019. Diakses tanggal 28 March 2024.
- Toren, Christina (2010). "Psychological Anthropology". Dalam Barnard, Alan; Spencer, Jonathan (ed.). The Routledge Encyclopedia of Social and Cultural Anthropology. Routledge. hlm. 577–583. ISBN 978-0-415-40978-0.
- Tsien, Joe Z. (2005). "Learning and Memory". Dalam Albers, R. Wayne; Price, Donald L. (ed.). Basic Neurochemistry: Molecular, Cellular and Medical Aspects (dalam bahasa Inggris). Elsevier. hlm. 859–874. ISBN 978-0-08-047207-2.
- Tulving, Endel (2001). "Episodic Vs. Semantic Memory". Dalam Wilson, Robert A.; Keil, Frank C. (ed.). The MIT Encyclopedia of the Cognitive Sciences (MITECS) (dalam bahasa Inggris). MIT Press. hlm. 278–280. ISBN 978-0-262-73144-7.
- Turkington, Carol; Mitchell, Deborah R. (2010). "Hippocampus". The Encyclopedia of Alzheimer's Disease (dalam bahasa Inggris). Infobase Publishing. hlm. 115. ISBN 978-1-4381-2858-0.
- Uttal, William R. (2011). Mind and Brain: A Critical Appraisal of Cognitive Neuroscience (dalam bahasa Inggris). MIT Press. ISBN 978-0-262-01596-7.
- Uttal, William R. (2020). Neural Theories of Mind: Why the Mind-Brain Problem May Never Be Solved (dalam bahasa Inggris). Psychology Press. ISBN 978-1-000-14940-1.
- Vanderwolf, Case H. (2013). An Odyssey Through the Brain, Behavior and the Mind (dalam bahasa Inggris). Springer. ISBN 978-1-4757-3779-0.
- Vogler, Candace A. (2016). John Stuart Mill's Deliberative Landscape: An Essay in Moral Psychology. Routledge Revivals (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-317-20617-0.
- Weekley, Ernest (2012) [1967]. An Etymological Dictionary of Modern English, Vol. 2 (dalam bahasa Inggris). Courier Corporation. ISBN 978-0-486-12286-1. OCLC 898422797.
- Weiner, Bernard (2000). "Motivation: An Overview". Dalam Kazdin, Alan E. (ed.). Encyclopedia of Psychology. Vol. 5. American Psychological Association. hlm. 314–317. ISBN 978-1-55798-187-5.
- Weisberg, Josh. "Hard Problem of Consciousness". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 July 2023. Diakses tanggal 22 April 2024.
- Weiskopf, Daniel; Adams, Fred (2015). An Introduction to the Philosophy of Psychology (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-51929-8.
- Westphal, Jonathan (2016). The Mind-Body Problem (dalam bahasa Inggris). MIT Press. ISBN 978-0-262-52956-3.
- Wilkes, K. V. (2012). "Mind and Body: Some Forms of Reductionism". Dalam Parkinson, G. H. R. (ed.). An Encyclopedia of Philosophy (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 402–426. ISBN 978-1-134-98816-7.
- Williams, Robert R. (1992). Recognition: Fichte and Hegel on the Other (dalam bahasa Inggris). State University of New York Press. ISBN 978-1-4384-2412-5.
- Winkelman, Michael J. (2011). "A Paradigm for Understanding Altered Consciousness: The Integrative Mode of Consciousness". Dalam Cardeña, Etzel; Winkelman, Michael J. (ed.). Altering Consciousness: Multidisciplinary Perspectives (dalam bahasa Inggris). Greenwood Publishing Group. hlm. 23–44. ISBN 978-0-313-38309-0.
- Wong, David (2023). "Mind (Heart-Mind) in Chinese Philosophy". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 May 2024. Diakses tanggal 8 May 2024.
- Wragg-Sykes, Rebecca (2016). "Humans Evolve". Big History: Our Incredible Journey, from Big Bang to Now (dalam bahasa English). Dorling Kindersley. hlm. 180–222. ISBN 978-0-241-22590-5.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) - Yeomans, Jane; Arnold, Christopher (2013). "Child Development". Teaching, Learning and Psychology (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-135-05633-9.
- Yukalov, V. I.; Sornette, D. (2014). "How Brains Make Decisions". Dalam Freund, Friedemann; Langhoff, Stephanie (ed.). Universe of Scales: From Nanotechnology to Cosmology: Symposium in Honor of Minoru M. Freund (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 37–54. ISBN 978-3-319-02207-9.
Pranala luar
[sunting | sunting sumber]- Halaman yang menggunakan templat Lang-xx
- Artikel mengandung teks Old English (ca. 450-1100)
- Artikel mengandung teks Middle English (1100-1500)
- Artikel mengandung teks Old High German (ca. 750-1050)
- Pages using Sister project links with default search
- Budi
- Otak
- Konsep dalam metafisika
- Konsep dalam filsafat budi
- Konsep psikologis