Lompat ke isi

Budi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Mental)
Diagram kepala dengan simbol-simbol untuk berbagai kapasitas mental di dalamnya
Budi bertanggung jawab atas berbagai fenomena seperti persepsi, pemikiran, perasaan, dan tindakan.

Budi adalah sesuatu yang berpikir, merasa, mempersepsikan, membayangkan, mengingat, dan berkehendak. Ia mencakup keseluruhan fenomena mental, termasuk baik proses sadar, yang melaluinya seorang individu menyadari keadaan eksternal dan internalnya, maupun proses bawah sadar, yang dapat memengaruhi seorang individu tanpa adanya niat atau kesadaran. Budi memainkan peran sentral dalam sebagian besar aspek kehidupan manusia, tetapi sifat sejatinya masih diperdebatkan. Beberapa karakterisasi berfokus pada aspek internal, yang menyatakan bahwa budi memproses informasi dan tidak dapat diakses secara langsung oleh pengamat luar. Sementara yang lain menekankan hubungannya dengan perilaku lahiriah, memahami fenomena mental sebagai kecenderungan untuk terlibat dalam perilaku yang dapat diamati.

Masalah budi-tubuh adalah tantangan dalam menjelaskan hubungan antara materi dan budi. Secara tradisional, budi dan materi sering dianggap sebagai substansi berbeda yang dapat eksis secara independen satu sama lain. Pandangan filosofis yang dominan sejak abad ke-20 adalah fisikalisme, yang berpandangan bahwa segala sesuatunya bersifat material, yang berarti bahwa budi adalah aspek atau fitur tertentu dari suatu objek material. Sejarah evolusi budi terkait erat dengan perkembangan sistem saraf, yang mengarah pada pembentukan otak. Seiring dengan otak yang menjadi semakin kompleks, jumlah dan kapasitas fungsi mental pun meningkat dengan area-area otak tertentu dikhususkan untuk fungsi mental yang spesifik. Budi manusia secara individu juga berkembang seiring berjalannya waktu saat mereka belajar dari pengalaman dan melewati tahapan-tahapan psikologis dalam proses penuaan. Beberapa orang terdampak oleh gangguan mental, yang mana kapasitas mental tertentu tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Diterima secara luas bahwa setidaknya sebagian hewan non-manusia memiliki suatu bentuk budi, tetapi masih menjadi kontroversi mengenai hewan apa saja yang memenuhi kriteria ini. Topik mengenai budi buatan menghadirkan tantangan yang serupa dan para ahli teori mendiskusikan kemungkinan serta konsekuensi dari penciptaannya menggunakan komputer.

Bidang-bidang utama yang mengkaji budi meliputi psikologi, ilmu saraf, ilmu kognitif, dan filsafat budi. Disiplin ilmu tersebut cenderung berfokus pada aspek budi yang berbeda-beda serta menggunakan metode penyelidikan yang beragam, mulai dari pengamatan empiris dan pencitraan saraf hingga analisis konseptual dan eksperimen pikiran. Budi relevan dengan banyak bidang lainnya, termasuk epistemologi, antropologi, agama, dan pendidikan.

Budi adalah keseluruhan dari fenomena dan kapasitas psikologis, mencakup baik keadaan sadar maupun bawah sadar. Istilah budi terkadang digunakan dalam arti sempit untuk merujuk hanya pada fungsi kognitif yang berkaitan dengan persepsi, penalaran, kesadaran, dan ingatan. Dalam arti yang lebih luas, ini juga mencakup proses-proses seperti perasaan, motivasi, dan perilaku.[1] Definisi pasti dari budi masih diperdebatkan. Meskipun secara umum diterima bahwa beberapa hewan non-manusia juga memiliki budi, tidak ada kesepakatan mengenai di mana tepatnya batas tersebut berada.[2] Terlepas dari perdebatan ini, terdapat kesepakatan luas bahwa budi memainkan peran sentral dalam sebagian besar aspek kehidupan manusia sebagai pusat kesadaran, emosi, pikiran, dan rasa identitas pribadi.[3] Berbagai bidang penyelidikan mengkaji budi; yang utama meliputi psikologi, ilmu kognitif, ilmu saraf, dan filsafat budi.[4]

Kata budi dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan yang berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu buddhi (Sanskerta: बुद्धि).[5] Dalam bahasa asalnya, istilah ini merujuk pada kecerdasan, akal, pemahaman, dan intelek. Kata buddhi sendiri berakar dari kata kerja budh, yang memiliki arti 'bangun', 'sadar', 'mengetahui', atau 'memahami'.[6] Seiring dengan masuknya pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha ke Nusantara, kata ini diserap ke dalam bahasa Melayu dan perlahan mengalami perluasan makna. Dalam penggunaannya di bahasa Indonesia modern, kata budi tidak hanya merujuk pada kapasitas mental atau akal pikiran (sebagai padanan kata mind dalam bahasa Inggris), tetapi juga mencakup makna tabiat, watak, akhlak, dan perbuatan yang baik.[7]

Kata psike dan mentalitas biasanya digunakan sebagai sinonim dari budi.[8] Keduanya sering digunakan dengan cara yang tumpang tindih dengan istilah jiwa, roh, kognisi, intelek, kecerdasan, dan otak, tetapi maknanya tidak sama persis. Sebagian agama memahami jiwa sebagai entitas independen yang menyusun esensi immaterial dari manusia, berasal dari yang ilahi, bertahan setelah kematian tubuh, dan bersifat abadi.[9] Kata roh memiliki berbagai makna tambahan yang tidak terkait langsung dengan budi, seperti prinsip vital yang menghidupkan makhluk hidup atau sebuah makhluk supernatural yang mendiami benda atau tempat.[10] Kognisi mencakup jenis-jenis proses mental tertentu di mana pengetahuan diperoleh dan informasi diproses.[11] Intelek adalah salah satu kapasitas mental yang bertanggung jawab atas pikiran, penalaran, dan pemahaman[12] dan terkait erat dengan kecerdasan sebagai kemampuan untuk memperoleh, memahami, dan menerapkan pengetahuan.[13] Otak adalah organ fisik yang bertanggung jawab atas sebagian besar atau semua fungsi mental.[14]

Kata bahasa Inggris modern mind (budi) berasal dari kata bahasa Inggris Kuno gemynd, yang berarti 'ingatan'. Istilah ini melahirkan kata-kata bahasa Inggris Pertengahan mind(e), münd(e), dan mend(e), yang menghasilkan perluasan makna secara perlahan untuk mencakup semua kapasitas mental. Makna aslinya tetap dipertahankan dalam berbagai ungkapan seperti call to mind dan keep in mind. Kata-kata yang berkerabat meliputi kata bahasa Jerman Hulu Kuno gimunt, bahasa Gotik gamunds, bahasa Yunani Kuno μένος, bahasa Latin mens, dan bahasa Sanskerta manas.[15][a]

Budi mencakup banyak fenomena, termasuk persepsi, ingatan, pemikiran, imajinasi, motivasi, emosi, perhatian, pembelajaran, dan kesadaran.[17] Persepsi adalah proses menafsirkan dan mengorganisasikan informasi sensorik untuk mengenal lingkungan. Informasi ini diperoleh melalui organ indra yang reseptif terhadap berbagai jenis stimulus fisik, yang berkaitan dengan bentuk persepsi yang berbeda-beda, seperti penglihatan, pendengaran, sentuhan, penciuman, dan pengecapan. Informasi sensorik yang diterima berfungsi sebagai data mentah yang disaring dan diproses untuk secara aktif menyusun pengalaman tentang dunia beserta objek-objek di dalamnya. Proses kompleks yang mendasari pengalaman perseptual ini dibentuk oleh banyak faktor, termasuk berbagai pengalaman masa lalu individu tersebut, latar belakang budaya, keyakinan, pengetahuan, dan harapan.[18]

Ingatan adalah mekanisme menyimpan dan memanggil kembali informasi.[19] Ingatan episodik menangani informasi mengenai peristiwa-peristiwa spesifik di masa lalu dalam kehidupan seseorang dan menyediakan informasi ini di masa sekarang. Ketika seseorang mengingat apa yang mereka makan untuk makan malam kemarin, mereka sedang menggunakan ingatan episodik. Ingatan semantik menangani pengetahuan umum tentang dunia yang tidak terikat pada episode spesifik apa pun. Ketika seseorang mengingat bahwa ibu kota Jepang adalah Tokyo, mereka biasanya menggunakan ingatan semantik untuk mengakses informasi umum ini tanpa mengingat momen spesifik saat mereka mempelajarinya. Ingatan prosedural adalah ingatan tentang bagaimana melakukan sesuatu, seperti mengendarai sepeda atau memainkan alat musik.[20] Perbedaan lainnya adalah antara ingatan jangka pendek, yang menyimpan informasi untuk periode singkat, biasanya dengan tujuan menyelesaikan tugas kognitif spesifik, dan ingatan jangka panjang, yang dapat menyimpan informasi untuk waktu yang lama, bahkan berpotensi bertahan seumur hidup.[21]

Berpikir melibatkan pemrosesan informasi serta manipulasi berbagai konsep dan ide. Proses ini berorientasi pada tujuan dan sering kali terjadi sebagai respons terhadap berbagai pengalaman dengan sasaran memahaminya, mengorganisasikan informasinya, dan memutuskan bagaimana harus merespons.[22] Penalaran logis adalah suatu bentuk pemikiran yang berawal dari serangkaian premis dan bertujuan untuk mencapai kesimpulan yang didukung oleh premis-premis tersebut. Hal ini terjadi saat menyimpulkan bahwa "Socrates bisa mati" dari premis "Socrates adalah seorang manusia" dan "semua manusia bisa mati".[23] Pemecahan masalah adalah proses yang berkaitan erat dan terdiri dari beberapa langkah, seperti mengidentifikasi suatu masalah, mengembangkan rencana untuk mengatasinya, mengimplementasikan rencana tersebut, dan mengevaluasi apakah rencana itu berhasil.[24] Pemikiran dalam bentuk pengambilan keputusan melibatkan pertimbangan atas berbagai kemungkinan tindakan untuk menilai mana yang paling menguntungkan.[25] Sebagai suatu proses simbolis, pemikiran sangat berkaitan erat dengan bahasa, dan beberapa ahli teori berpandangan bahwa semua pikiran terjadi melalui perantara bahasa.[26]

Imajinasi adalah proses kreatif dalam menghasilkan citra, ide, pengalaman, dan fenomena mental terkait secara internal. Berbeda halnya dengan persepsi, imajinasi tidak bergantung secara langsung pada stimulasi organ indra. Mirip dengan bermimpi, konstruksi-konstruksi mental ini sering kali bersumber dari pengalaman sebelumnya tetapi dapat mencakup kombinasi dan elemen yang baru. Imajinasi terjadi selama melamun dan memainkan peran kunci dalam seni serta sastra. Selain itu, ia juga dapat digunakan untuk menghasilkan berbagai solusi baru bagi masalah-masalah di dunia nyata.[27]

Motivasi adalah keadaan internal yang mendorong individu untuk memulai, melanjutkan, atau mengakhiri perilaku yang diarahkan pada tujuan. Hal ini bertanggung jawab atas pembentukan niat untuk melakukan tindakan dan memengaruhi sasaran apa yang dikejar oleh seseorang, seberapa banyak upaya yang mereka kerahkan dalam aktivitas tersebut, dan seberapa lama mereka terlibat di dalamnya.[28] Motivasi dipengaruhi oleh emosi, yang merupakan pengalaman sementara dari perasaan positif atau negatif seperti kegembiraan atau kemarahan. Emosi diarahkan pada dan mengevaluasi peristiwa, orang, atau situasi tertentu. Emosi biasanya muncul bersamaan dengan respons fisiologis dan perilaku tertentu.[29]

Perhatian adalah aspek dari proses mental lainnya di mana sumber daya mental seperti kesadaran diarahkan pada fitur-fitur pengalaman tertentu dan dijauhkan dari fitur-fitur lainnya. Hal ini terjadi ketika seorang pengemudi berfokus pada lalu lintas sambil mengabaikan papan iklan di pinggir jalan. Perhatian dapat dikendalikan secara sukarela dalam mengejar tujuan-tujuan spesifik tetapi juga dapat dialihkan secara tidak sengaja ketika sebuah stimulus yang kuat menarik perhatian seseorang.[30] Perhatian relevan dengan pembelajaran, yaitu kemampuan budi untuk memperoleh informasi baru serta secara permanen memodifikasi pemahaman dan pola perilakunya. Individu belajar dengan menjalani berbagai pengalaman, yang membantu mereka beradaptasi dengan lingkungan.[31]

Sadar dan bawah sadar

[sunting | sunting sumber]

Sebuah pembedaan yang berpengaruh adalah antara proses mental sadar dan tak sadar. Kesadaran adalah kondisi menyadari keadaan eksternal maupun internal. Ini mencakup berbagai macam keadaan, seperti persepsi, pemikiran, berfantasi, bermimpi, dan kondisi kesadaran yang berubah.[32] Dalam kasus kesadaran fenomenal, kesadaran tersebut melibatkan pengalaman fenomena mental yang bersifat langsung dan kualitatif, seperti pengalaman pendengaran saat menghadiri sebuah konser. Sebaliknya, kesadaran akses merujuk pada kesadaran akan informasi yang dapat diakses oleh proses mental lainnya tetapi belum tentu menjadi bagian dari pengalaman saat ini. Sebagai contoh, informasi yang tersimpan dalam suatu ingatan mungkin dapat diakses ketika menarik kesimpulan atau memandu tindakan bahkan saat orang tersebut tidak sedang memikirkannya secara eksplisit.[33]

Proses mental tak sadar atau nirsadar beroperasi tanpa kesadaran individu tetapi masih dapat memengaruhi fenomena mental pada tingkat pikiran, perasaan, dan tindakan. Beberapa ahli teori membedakan antara keadaan prasadar, bawah sadar, dan tak sadar bergantung pada tingkat aksesibilitasnya terhadap kesadaran sadar.[34][b] Ketika diterapkan pada keadaan keseluruhan seseorang alih-alih pada proses-proses spesifik, istilah tak sadar menyiratkan bahwa orang tersebut kehilangan kesadaran apa pun terhadap lingkungan maupun dirinya sendiri, seperti selama mengalami koma.[36] Budi bawah sadar memainkan peran sentral dalam psikoanalisis sebagai bagian dari budi yang berisi berbagai pikiran, ingatan, dan hasrat yang tidak dapat diakses oleh introspeksi sadar. Menurut Sigmund Freud, mekanisme psikologis dari represi mencegah fenomena yang mengganggu, seperti dorongan seksual dan agresif yang tidak dapat diterima, agar tidak memasuki kesadaran demi melindungi individu tersebut. Teori psikoanalitik mengkaji gejala-gejala yang disebabkan oleh proses ini beserta metode terapeutik untuk menghindarinya dengan cara membuat pikiran yang direpresi menjadi dapat diakses oleh kesadaran sadar.[37]

Pembedaan lainnya

[sunting | sunting sumber]

Keadaan mental sering kali dibagi menjadi keadaan kualitatif dan proposisional. Keadaan kualitatif adalah pengalaman atas kualitas sensorik, yang umumnya disebut sebagai qualia, seperti warna, suara, bau, rasa sakit, gatal, dan lapar. Keadaan proposisional melibatkan suatu sikap terhadap sebuah konten yang dapat diekspresikan dengan kalimat deklaratif. Ketika seseorang percaya bahwa hari sedang hujan, mereka memiliki sikap proposisional berupa keyakinan terhadap konten "hari sedang hujan". Berbagai jenis keadaan proposisional dicirikan oleh perbedaan sikap terhadap kontennya. Sebagai contoh, adalah mungkin juga untuk berharap, takut, mendamba, atau ragu bahwa hari sedang hujan.[38][c]

Sebuah keadaan atau proses mental bersifat rasional jika didasarkan pada alasan yang baik atau mengikuti norma-norma rasionalitas. Sebagai contoh, sebuah keyakinan bersifat rasional jika bersandar pada bukti pendukung yang kuat dan sebuah keputusan bersifat rasional jika mengikuti pertimbangan saksama atas semua faktor serta hasil yang relevan. Keadaan mental bersifat irasional jika gagal mematuhi standar-standar ini, seperti keyakinan yang disebabkan oleh penalaran yang keliru, takhayul, atau bias kognitif, serta keputusan yang menyerah pada godaan dan bertentangan dengan penilaian terbaik seseorang.[40] Keadaan mental yang berada di luar ranah evaluasi rasional tidak bersifat irasional, melainkan arasional. Terdapat kontroversi mengenai fenomena mental apa saja yang berada di luar ranah ini; beberapa contoh yang diajukan meliputi kesan sensorik, perasaan, hasrat, dan respons yang tidak disengaja.[41]

Kontras lainnya adalah antara keadaan mental disposisional dan okuren. Keadaan disposisional adalah suatu daya yang tidak sedang digunakan. Jika seseorang percaya bahwa kucing memiliki kumis tetapi tidak sedang memikirkan fakta tersebut, hal itu merupakan sebuah keyakinan disposisional. Dengan mengaktifkan keyakinan tersebut untuk memikirkannya secara sadar atau menggunakannya dalam proses kognitif lainnya, keyakinan itu menjadi okuren hingga ia tidak lagi secara aktif dipertimbangkan atau digunakan. Sebagian besar keyakinan seseorang bersifat disposisional hampir di sepanjang waktu.[42]

Fakultas dan modul

[sunting | sunting sumber]

Secara tradisional, budi disubbagi menjadi fakultas-fakultas mental yang dipahami sebagai kapasitas untuk menjalankan fungsi tertentu atau menghasilkan proses tertentu.[43] Sebuah subbagian yang berpengaruh dalam sejarah filsafat adalah antara fakultas intelek dan kehendak.[44] Intelek mencakup fenomena mental yang bertujuan untuk memahami dunia serta menentukan apa yang harus diyakini atau apa yang benar; kehendak berkaitan dengan masalah-masalah praktis dan apa yang baik, tercermin dalam berbagai fenomena seperti hasrat, pengambilan keputusan, dan tindakan.[45] Jumlah pasti dan sifat dari fakultas-fakultas mental masih diperdebatkan. Pembedaan yang lebih berbutir halus membagi intelek menjadi fakultas pemahaman dan penilaian atau menambahkan sensibilitas sebagai fakultas tambahan yang bertanggung jawab atas kesan-kesan sensorik.[46][d]

Diagram dua garis horizontal dengan komponen mirip panah di ujung-ujungnya
Dalam ilusi Müller-Lyer, garis-garis hitam horizontal tersebut memiliki panjang yang sama tetapi garis di atas tampak lebih panjang. Ilusi ini tetap ada bahkan setelah disadari karena berfungsinya secara otomatis modul-modul mental yang bertanggung jawab atas pemrosesan visual tingkat rendah.[48]

Berbeda dengan pandangan tradisional, berbagai pendekatan yang lebih mutakhir menganalisis budi dalam kerangka modul-modul mental alih-alih fakultas.[49] Modul mental adalah sistem bawaan lahir pada otak yang secara otomatis menjalankan fungsi tertentu dalam suatu ranah spesifik tanpa kesadaran atau upaya yang disengaja. Berbeda dengan fakultas, konsep modul mental biasanya digunakan untuk memberikan penjelasan yang lebih terbatas. Konsep ini umumnya dibatasi pada proses-proses kognitif tingkat rendah tertentu tanpa mencoba menjelaskan bagaimana mereka terintegrasi ke dalam proses-proses tingkat tinggi seperti penalaran sadar.[50][e] Banyak proses kognitif tingkat rendah yang bertanggung jawab atas persepsi visual memiliki sifat otomatis dan tak sadar ini. Dalam kasus ilusi visual seperti ilusi Müller-Lyer, proses-proses yang mendasarinya terus beroperasi dan ilusi tersebut tetap ada bahkan setelah seseorang menyadari ilusi itu, mengindikasikan sifat yang mekanis dan tidak disengaja dari proses tersebut.[52] Contoh-contoh lain dari modul mental berkaitan dengan proses kognitif yang bertanggung jawab atas pemrosesan bahasa dan pengenalan wajah.[53]

Teori tentang hakikat budi

[sunting | sunting sumber]

Berbagai teori tentang hakikat budi bertujuan untuk menentukan kesamaan apa yang dimiliki oleh semua keadaan mental. Teori-teori ini berupaya menemukan "ciri dari hal yang mental", yaitu, kriteria yang membedakan antara fenomena mental dan non-mental.[54] Kriteria epistemik menyatakan bahwa fitur unik dari keadaan mental adalah bagaimana orang mengetahuinya. Sebagai contoh, jika seseorang mengalami sakit gigi, mereka memiliki pengetahuan langsung atau non-inferensial bahwa mereka sedang kesakitan. Namun mereka tidak memiliki jenis pengetahuan semacam ini mengenai fenomena non-mental seperti penyebab fisik dari rasa sakit tersebut, dan mungkin harus berkonsultasi dengan bukti eksternal melalui pemeriksaan visual atau kunjungan ke dokter gigi. Fitur lain yang umumnya dilekatkan pada keadaan mental adalah sifatnya yang privat, yang berarti bahwa orang lain tidak memiliki akses langsung ke keadaan mental seseorang. Sebagai akibatnya, pengamat luar harus membuat kesimpulan dari indikator-indikator lain, seperti perilaku kesakitan dari orang yang sakit gigi tersebut. Beberapa filsuf mengklaim bahwa pengetahuan tentang beberapa atau semua keadaan mental bersifat infalibel (tidak bisa salah), misalnya, bahwa seseorang tidak mungkin keliru tentang apakah mereka sedang kesakitan atau tidak.[55]

Pandangan yang berkaitan menegaskan bahwa semua keadaan mental bersifat sadar atau dapat diakses oleh kesadaran. Menurut pandangan ini, ketika seseorang secara aktif mengingat fakta bahwa Menara Eiffel berada di Paris, maka keadaan tersebut adalah mental karena menjadi bagian dari kesadaran. Ketika orang tersebut tidak memikirkannya, keyakinan ini tetap dianggap sebagai keadaan mental karena orang tersebut dapat membawanya ke dalam kesadaran dengan cara memikirkannya. Pandangan ini menyangkal adanya "ketidaksadaran yang dalam", yaitu, keadaan mental tak sadar yang pada prinsipnya tidak dapat menjadi sadar.[56]

Teori lainnya mengatakan bahwa intensionalitas[f] adalah ciri dari hal yang mental. Suatu keadaan bersifat intensional jika ia merujuk pada atau merepresentasikan sesuatu. Sebagai contoh, jika seseorang mempersepsikan sebuah piano atau memikirkannya, maka keadaan mental tersebut bersifat intensional karena merujuk pada sebuah piano. Pandangan ini membedakan antara intensionalitas orisinal dari fenomena mental dan intensionalitas turunan dari beberapa fenomena non-mental. Menurut pandangan ini, kemampuan kata-kata dan gambar untuk merujuk pada berbagai hal berasal dari fakta bahwa mereka dapat membangkitkan keadaan mental. Dalam pengertian ini, hanya keadaan mental yang memiliki intensionalitas orisinal, sementara kata-kata dan gambar memiliki intensionalitas turunan karena mereka tidak akan merujuk pada apa pun jika dipisahkan dari konvensi linguistik atau interpretasi visual. Beberapa filsuf tidak setuju bahwa semua keadaan mental bersifat intensional, dengan mengutip rasa gatal, geli, dan sakit sebagai kemungkinan pengecualiannya.[58]

Menurut behaviorisme, keadaan mental adalah kecenderungan untuk terlibat dalam perilaku tertentu yang dapat diamati secara publik sebagai reaksi terhadap berbagai stimulus eksternal tertentu. Pandangan ini menyiratkan bahwa fenomena mental bukanlah keadaan internal yang privat, melainkan dapat diakses oleh pengamatan empiris layaknya fenomena fisik biasa.[59] Fungsionalisme sepakat bahwa keadaan mental tidak bergantung pada konstitusi internal budi yang pasti dan sebaliknya mengarakterisasinya berdasarkan peran fungsionalnya. Peran fungsional dari suatu keadaan mental adalah caranya berinteraksi dengan fenomena lain. Sebagai contoh, rasa sakit sering kali disebabkan oleh cedera tubuh dan biasanya mengarah pada perilaku kesakitan, seperti mengerang, serta hasrat untuk menghentikan rasa sakit tersebut. Sebagai hasilnya, cedera, perilaku kesakitan, dan hasrat adalah bagian dari peran fungsional rasa sakit.[60] Komputasionalisme, sebuah teori serupa yang menonjol dalam ilmu kognitif, mendefinisikan budi dalam kerangka kognisi dan komputasi sebagai pemroses informasi.[61]

Berbagai teori di bawah payung eksternalisme menekankan ketergantungan budi pada lingkungan. Menurut pandangan ini, keadaan mental beserta kontennya setidaknya ditentukan sebagian oleh keadaan eksternal.[62] Sebagai contoh, beberapa bentuk eksternalisme konten berpandangan bahwa ia dapat bergantung pada keadaan eksternal mengenai apakah suatu keyakinan merujuk pada sebuah objek atau yang lainnya.[63] Posisi kognisi tersemat menekankan bahwa proses mental terjadi dalam konteks lingkungan fisik dan sosial. Pandangan ini mengkaji bagaimana konteks tersebut membentuk aktivitas kognitif.[64] Tesis budi yang diperluas menyatakan bahwa keadaan eksternal tidak hanya memengaruhi budi, tetapi juga merupakan bagian darinya. Dalam pengertian ini, buku harian adalah bagian dari budi karena membantu menyimpan informasi. Serupa dengan hal itu, kalkulator elektronik adalah bagian dari budi karena membantu melakukan perhitungan.[65] Pandangan yang berkaitan erat tentang enaktivisme berpandangan bahwa proses mental melibatkan interaksi antara organisme dan lingkungan.[66] Sebuah teori dari bidang kognisi berwujud menyatakan bahwa hubungan dengan tubuh merupakan fitur esensial dari budi. Teori ini menegaskan bahwa aspek-aspek tertentu dari tubuh di luar sistem saraf, seperti kapasitas motorik, adalah bagian dari budi.[67][g]

Hubungan dengan materi

[sunting | sunting sumber]

Masalah budi-tubuh

[sunting | sunting sumber]

Masalah budi-tubuh adalah kesulitan dalam memberikan penjelasan umum tentang hubungan antara budi dan tubuh, sebagai contoh, hubungan antara pikiran dan proses-proses otak. Terlepas dari karakteristik keduanya yang berbeda, budi dan tubuh saling berinteraksi satu sama lain, seperti ketika perubahan pada tubuh menyebabkan ketidaknyamanan mental atau ketika anggota gerak bergerak karena adanya sebuah niat.[69] Masalah budi-tubuh menjadi sangat menonjol dalam filsafat modern sebagai akibat dari pembedaan metafisik Descartes antara budi dan tubuh. Para filsuf terdahulu pada umumnya tidak melihat budi dan tubuh sebagai prinsip-prinsip yang bertentangan.[70][h] Mengikuti filsafat Descartes, budi sering kali dikonseptualisasikan sebagai entitas substansial yang mampu eksis dengan sendirinya. Kini budi lebih umum dipandang sebagai kapasitas alih-alih entitas yang independen.[72]

Diagram pendekatan terhadap masalah budi-tubuh. Ini menunjukkan dualisme dalam bentuk dualisme Cartesian di sisi kiri. Hal ini menyajikan monisme dalam bentuk fisikalisme, idealisme, dan monisme netral di sisi kanan.
Berbagai pendekatan yang berbeda dalam memecahkan masalah budi-tubuh[73]

Menurut dualisme substansi, budi atau jiwa eksis sebagai entitas yang independen di samping hal-hal yang material. Pandangan ini menyiratkan bahwa, setidaknya pada prinsipnya, budi dapat eksis tanpa tubuh.[74] Dualisme properti adalah pandangan lainnya, yang menyatakan bahwa budi dan materi bukanlah entitas yang independen melainkan properti berbeda yang berlaku pada individu yang sama.[75] Sebaliknya, pandangan monis menyatakan bahwa realitas hanya tersusun dari satu jenis. Menurut para penganut idealisme metafisik, misalnya, segala sesuatunya bersifat mental.[76][i] Mereka memahami hal-hal material sebagai fenomena mental, contohnya, sebagai gagasan atau persepsi.[78] Sebaliknya, menurut para penganut monisme netral, dunia pada tingkat yang paling mendasar bukanlah fisik maupun mental melainkan netral. Mereka memandang konsep fisik dan mental sebagai cara yang praktis tetapi superfisial dalam menggambarkan realitas.[79]

Pandangan monis yang paling berpengaruh sejak abad ke-20 adalah fisikalisme, yang juga disebut sebagai materialisme,[j] yang menyatakan bahwa segala sesuatunya bersifat fisik.[81] Menurut fisikalisme eliminatif, tidak ada fenomena mental, yang berarti bahwa berbagai hal seperti keyakinan dan hasrat tidak membentuk bagian dari realitas.[82] Para penganut fisikalisme reduktif mempertahankan posisi yang tidak terlalu radikal: mereka mengatakan bahwa keadaan mental itu eksis tetapi, setidaknya pada prinsipnya, dapat digambarkan sepenuhnya oleh fisika tanpa perlu adanya ilmu-ilmu khusus seperti psikologi. Sebagai contoh, penganut behaviorisme bertujuan untuk menganalisis konsep-konsep mental dalam kerangka perilaku yang dapat diamati tanpa menggunakan keadaan mental internal.[83] Teori identitas tipe juga tergolong dalam fisikalisme reduktif dan mengatakan bahwa keadaan mental adalah hal yang sama dengan keadaan otak.[84] Meskipun para penganut fisikalisme non-reduktif setuju bahwa segala sesuatunya bersifat fisik, mereka menyatakan bahwa konsep-konsep mental mendeskripsikan realitas fisik pada tingkat yang lebih abstrak yang tidak dapat diartikulasikan oleh fisika.[85] Menurut fungsionalisme, konsep-konsep mental tidak mendeskripsikan konstitusi internal dari substansi fisik melainkan peran fungsional dalam suatu sistem.[86] Salah satu konsekuensi dari pandangan ini adalah bahwa budi tidak bergantung pada otak melainkan juga dapat diwujudkan oleh berbagai sistem lainnya yang mengimplementasikan peran fungsional yang sesuai, yang mungkin saja termasuk komputer.[87] Sebuah pendekatan yang berbeda, yang ditemukan dalam tradisi fenomenologi, bertujuan untuk membubarkan masalah budi-tubuh dengan berargumen bahwa hal tersebut didasarkan pada suatu dikotomi artifisial yang tidak hadir dalam deskripsi pengalaman secara fenomenologis.[88]

Masalah sulit kesadaran merupakan aspek sentral dari masalah budi-tubuh: ini adalah tantangan dalam menjelaskan bagaimana keadaan fisik dapat memunculkan pengalaman sadar. Kesulitan utamanya terletak pada sifat subjektif dan kualitatif dari kesadaran, yang berbeda dengan proses fisik pada umumnya. Masalah sulit kesadaran kontras dengan "masalah-masalah mudah" dalam menjelaskan bagaimana aspek-aspek kesadaran tertentu berfungsi, seperti halnya persepsi, ingatan, atau pembelajaran.[89]

Area dan proses otak

[sunting | sunting sumber]

Pendekatan lain terhadap hubungan antara budi dan materi menggunakan pengamatan empiris untuk mengkaji bagaimana otak bekerja serta area dan proses otak mana yang berkaitan dengan fenomena mental tertentu.[90] Otak adalah organ sentral dari sistem saraf dan hadir pada semua vertebrata serta sebagian besar invertebrata. Otak manusia memiliki kompleksitas yang khas dan terdiri dari sekitar 86 miliar neuron, yang saling berkomunikasi satu sama lain melalui sinapsis.[91] Mereka membentuk jaringan saraf yang kompleks dan berbagai proses kognitif muncul dari interaksi listrik serta kimianya.[92] Otak manusia dibagi menjadi wilayah-wilayah yang berkaitan dengan fungsi yang berbeda-beda. Wilayah utamanya adalah otak belakang, otak tengah, dan otak depan.[93] Banyak fungsi biologis yang berkaitan dengan kelangsungan hidup dasar merupakan tanggung jawab otak belakang dan otak tengah. Fungsi-fungsi mental yang lebih tinggi, mulai dari pikiran hingga motivasi, pada utamanya terlokalisasi di otak depan.[94]

Diagram pandangan samping otak dengan korteks prefrontal berwarna jingga
Korteks serebral dibagi menjadi berbagai area dengan fungsi yang berbeda-beda, seperti korteks prefrontal (ditunjukkan dengan warna jingga) yang bertanggung jawab atas fungsi eksekutif.[95]

Operasi-operasi utama dari berbagai fenomena mental yang utama berlokasi di area-area spesifik pada otak depan. Korteks prefrontal bertanggung jawab atas berbagai fungsi eksekutif, seperti perencanaan, pengambilan keputusan, pemecahan masalah, dan memori kerja.[95] Korteks sensorik memproses dan menafsirkan informasi sensorik, dengan subarea berbeda dikhususkan untuk berbagai indra, seperti area visual dan auditori. Sebuah fungsi sentral dari hipokampus adalah pembentukan dan pemanggilan kembali ingatan jangka panjang. Ini tergolong dalam sistem limbik, yang memainkan peran kunci dalam regulasi emosi melalui amigdala. Korteks motorik bertanggung jawab dalam merencanakan, mengeksekusi, dan mengendalikan gerakan sadar. Area Broca adalah sebuah wilayah terpisah yang dikhususkan untuk produksi wicara.[96] Aktivitas dari berbagai area yang berbeda ini secara tambahan dipengaruhi oleh neurotransmiter, yang merupakan molekul pemberi sinyal yang meningkatkan atau menghambat berbagai jenis komunikasi saraf. Sebagai contoh, dopamin memengaruhi motivasi dan rasa nikmat sedangkan serotonin memengaruhi suasana hati dan nafsu makan.[97]

Keterkaitan yang erat dari proses otak dan budi terlihat dari pengaruh yang ditimbulkan oleh berbagai perubahan fisik otak terhadap budi. Contohnya, konsumsi obat psikoaktif, seperti kafein, antidepresan, alkohol, dan psikedelik, secara temporer memengaruhi kimia otak dengan beragam efek pada budi, mulai dari peningkatan perhatian hingga perubahan suasana hati, gangguan fungsi kognitif, dan halusinasi.[98] Berbagai perubahan jangka panjang pada otak dalam bentuk penyakit neurodegeneratif dan cedera otak dapat mengarah pada alterasi permanen pada fungsi mental. Penyakit Alzheimer pada stadium pertamanya merusak hipokampus, mengurangi kemampuan untuk membentuk ingatan baru dan mengingat ingatan yang sudah ada.[99] Sebuah kasus yang sering dikutip tentang efek cedera otak adalah kasus Phineas Gage, yang korteks prefrontalnya rusak parah selama kecelakaan kerja ketika sebatang besi menusuk tengkorak dan otaknya. Gage selamat dari kecelakaan itu tetapi kepribadian serta sikap sosialnya berubah drastis saat ia menjadi lebih impulsif, mudah tersinggung, dan antisosial sementara menunjukkan sedikit kepedulian terhadap konvensi sosial serta mengalami gangguan kemampuan dalam merencanakan dan membuat keputusan rasional.[100] Tidak semua perubahan ini bersifat permanen dan Gage berhasil memulihkan serta mengadaptasi kondisinya dalam beberapa aspek.[101]

Perkembangan

[sunting | sunting sumber]

Budi memiliki sejarah evolusi yang panjang berawal dari perkembangan sistem saraf dan otak.[102] Meskipun secara umum saat ini diterima bahwa budi tidak eksklusif dimiliki oleh manusia dan berbagai hewan non-manusia memiliki suatu bentuk budi, tidak ada konsensus pada titik mana tepatnya budi muncul.[103] Evolusi budi biasanya dijelaskan melalui seleksi alam: berbagai variasi genetik yang bertanggung jawab atas kapasitas mental yang baru atau yang lebih baik, seperti persepsi yang lebih baik atau kecenderungan sosial, memiliki peningkatan peluang untuk diwariskan kepada generasi-generasi masa depan jika mereka bermanfaat bagi kelangsungan hidup dan reproduksi.[104]

Berbagai bentuk pemrosesan informasi minimal sudah dapat ditemukan pada bentuk kehidupan terawal 4 hingga 3,5 miliar tahun yang lalu, seperti kemampuan bakteri dan organisme uniseluler eukariotik untuk merasakan lingkungan, menyimpan informasi tersebut, serta bereaksi terhadapnya. Sel saraf muncul bersamaan dengan perkembangan organisme multiseluler lebih dari 600 juta tahun yang lalu sebagai cara untuk memproses dan mentransmisikan informasi. Sekitar 600 hingga 550 juta tahun yang lalu, terjadi percabangan evolusioner menjadi organisme yang simetris secara radial[k] dengan sistem saraf berbentuk cincin atau suatu jaringan saraf, seperti ubur-ubur, dan organisme dengan tubuh yang simetris secara bilateral, yang mana sistem saraf mereka cenderung lebih tersentralisasi. Sekitar 540 juta tahun yang lalu, vertebrata berevolusi dalam kelompok organisme yang terorganisir secara bilateral. Vertebrata, seperti burung dan mamalia, memiliki suatu sistem saraf pusat mencakup otak kompleks dengan berbagai fungsi khusus. Invertebrata, seperti kerang dan serangga, biasanya tidak memiliki otak atau memiliki otak yang relatif sederhana.[106] Sepanjang perjalanan evolusi, otak dari vertebrata cenderung berkembang dan spesialisasi dari area-area otak yang berbeda cenderung meningkat. Berbagai perkembangan ini berkaitan erat dengan perubahan struktur anggota tubuh, organ indra, dan kondisi kehidupan dengan kesesuaian yang erat antara ukuran area otak dan pentingnya fungsi area tersebut bagi organisme.[107] Sebuah langkah penting dalam evolusi mamalia sekitar 200 juta tahun yang lalu adalah perkembangan neokorteks, yang bertanggung jawab atas banyak fungsi otak tingkat tinggi.[108]

Ukuran otak secara relatif terhadap tubuh semakin meningkat seiring dengan perkembangan primata, seperti monyet, sekitar 65 juta tahun yang lalu dan belakangan dengan kemunculan hominin pertama sekitar 7–5 juta tahun yang lalu.[109] Manusia modern anatomis muncul sekitar 300.000 hingga 200.000 tahun yang lalu.[110] Berbagai teori tentang proses evolusioner yang bertanggung jawab atas kecerdasan manusia telah diajukan. Hipotesis kecerdasan sosial mengatakan bahwa evolusi budi manusia dipicu oleh peningkatan pentingnya kehidupan sosial dan penekanannya pada kemampuan mental yang dikaitkan dengan empati, transfer pengetahuan, dan metakognisi. Menurut hipotesis kecerdasan ekologis, nilai utama dari peningkatan kapasitas mental berasal dari berbagai keuntungannya dalam menghadapi lingkungan fisik yang kompleks melalui proses-proses seperti fleksibilitas perilaku, pembelajaran, dan penggunaan alat. Mekanisme lain yang diajukan mencakup efek dari perubahan diet dengan makanan kaya energi dan berbagai keuntungan umum dari peningkatan kecepatan serta efisiensi dalam pemrosesan informasi.[111] Beberapa model mengusulkan bahwa pergeseran kognitif besar lainnya terjadi mungkin 50.000 hingga 40.000 tahun yang lalu. Disebut sebagai modernitas perilaku, hal ini berkaitan dengan munculnya kemampuan mental yang baru atau yang lebih baik, seperti inovasi teknologi, pemikiran abstrak, penggunaan simbol, perencanaan, dan koordinasi sosial.[112]

Selain perkembangan budi secara umum di sepanjang sejarah, budi manusia secara individu juga berkembang di sepanjang kehidupan mereka. Beberapa perubahan individu bervariasi dari satu orang ke orang lainnya sebagai bentuk pembelajaran dari pengalaman, seperti membentuk ingatan spesifik atau memperoleh pola perilaku tertentu. Perubahan lainnya merupakan perkembangan yang lebih universal sebagai tahapan-tahapan psikologis yang dilalui oleh semua atau sebagian besar manusia saat mereka melewati masa kanak-kanak awal, masa remaja, masa dewasa, dan masa tua.[113] Perkembangan-perkembangan ini mencakup berbagai area, termasuk perkembangan intelektual, sensorimotorik, linguistik, emosional, sosial, dan moral.[114] Beberapa faktor memengaruhi perkembangan budi sebelum kelahiran, seperti nutrisi, stres maternal, dan paparan terhadap zat-zat berbahaya seperti alkohol selama kehamilan.[115]

Masa kanak-kanak awal ditandai dengan berbagai perkembangan pesat saat para bayi mempelajari kendali sadar atas tubuh mereka dan berinteraksi dengan lingkungannya pada tingkat dasar. Biasanya setelah sekitar satu tahun, hal ini mencakup berbagai kemampuan seperti berjalan, mengenali wajah yang familier, dan memproduksi kata-kata tunggal.[116] Pada tingkat emosional dan sosial, mereka mengembangkan kelekatan dengan pengasuh utamanya dan mengekspresikan emosi mulai dari kegembiraan dan keterkejutan hingga ketakutan dan kemarahan.[117] Sebuah teori yang berpengaruh dari Jean Piaget membagi perkembangan kognitif anak-anak ke dalam empat tahapan. Tahap sensorimotor dari lahir hingga usia dua tahun berkaitan dengan berbagai kesan sensorik dan aktivitas motorik sambil belajar bahwa objek-objek tetap ada bahkan ketika tidak diamati. Pada tahap praoperasional hingga usia tujuh tahun, anak-anak belajar menafsirkan dan menggunakan simbol dengan cara yang intuitif. Mereka mulai menerapkan penalaran logis pada objek-objek fisik di tahap operasional konkret hingga usia sebelas tahun dan memperluas kapasitas ini pada tahap operasional formal berikutnya ke ide-ide abstrak, berbagai probabilitas, dan kemungkinan.[118] Proses penting lainnya yang membentuk budi pada periode ini adalah sosialisasi dan enkulturasi, awalnya melalui para pengasuh utama dan belakangan melalui teman sebaya serta sistem persekolahan.[119]

Berbagai transformasi psikologis selama masa remaja dipicu oleh berbagai perkembangan fisiologis dan oleh perhadapan dengan situasi sosial yang berbeda dalam wujud berbagai ekspektasi baru dari orang lain. Faktor yang penting dalam periode ini adalah perubahan pada konsep diri, yang dapat berwujud sebuah krisis identitas. Proses ini biasanya melibatkan pengembangan individualitas dan kemandirian dari orang tua sembari pada saat yang sama mencari kedekatan dan konformitas dengan para sahabat serta teman sebaya. Perkembangan-perkembangan lebih lanjut dalam periode ini mencakup berbagai peningkatan pada kemampuan penalaran dan pembentukan sudut pandang moral yang berprinsip.[120]

Budi juga berubah selama masa dewasa tetapi dengan cara yang tidak terlalu pesat maupun menonjol. Keterampilan penalaran dan pemecahan masalah membaik selama masa dewasa awal dan pertengahan. Sebagian orang mengalami masa transisi paruh baya sebagai sebuah krisis paruh baya yang melibatkan konflik batin mengenai identitas pribadi, yang berkaitan dengan kecemasan, rasa kurangnya pencapaian dalam hidup, atau kesadaran akan mortalitas. Fakultas-fakultas intelektual cenderung menurun pada masa dewasa akhir, khususnya kemampuan untuk mempelajari berbagai tugas baru yang kompleks dan nantinya juga kemampuan untuk mengingat. Pada saat yang sama, orang-orang cenderung menjadi lebih mawas diri dan berhati-hati.[121]

Non-manusia

[sunting | sunting sumber]

Telah diakui secara umum saat ini bahwa berbagai hewan memiliki suatu bentuk budi, tetapi masih menjadi kontroversi mengenai hewan apa saja yang memenuhi kriteria ini dan bagaimana budi mereka berbeda dari budi manusia.[122] Berbagai konsepsi budi yang berbeda mengarah pada respons-respons yang berbeda terhadap masalah ini. Apabila dipahami dalam arti yang sangat luas sebagai kapasitas untuk memproses informasi, budi hadir dalam segala bentuk kehidupan, termasuk serangga, tumbuhan, dan sel individu.[123] Di sisi lain dari spektrum tersebut, terdapat pandangan-pandangan yang menyangkal eksistensi mentalitas pada sebagian besar atau semua hewan non-manusia berdasarkan gagasan bahwa mereka tidak memiliki kapasitas mental kunci, seperti rasionalitas abstrak dan bahasa simbolis.[124] Status dari budi hewan sangat relevan dengan bidang etika karena hal ini memengaruhi perlakuan terhadap hewan, termasuk topik mengenai hak-hak hewan.[125]

Pandangan diskontinuitas menyatakan bahwa budi hewan non-manusia pada dasarnya berbeda dari budi manusia dan sering menunjuk pada fakultas mental yang lebih tinggi, seperti memikir, menalar, dan membuat keputusan yang disengaja.[126] Sudut pandang ini tercermin dalam posisi tradisional yang berpengaruh yang mendefinisikan manusia sebagai "hewan rasional" yang bertentangan dengan semua hewan lainnya.[127] Sebaliknya, pandangan kontinuitas menekankan pada berbagai kesamaan dan melihat perbedaan kognitifnya terletak pada tingkatannya alih-alih pada jenisnya. Pertimbangan sentral dari posisi ini adalah asal-usul evolusioner yang sama serta kesamaan organik pada tingkat otak dan sistem saraf. Perilaku yang dapat diamati adalah faktor kunci lainnya, seperti keterampilan pemecahan masalah, komunikasi hewan, serta berbagai reaksi dan ekspresi atas rasa sakit maupun rasa nikmat. Yang sangat penting adalah pertanyaan-pertanyaan mengenai kesadaran dan sentien, yakni, sejauh mana hewan non-manusia memiliki sebuah pengalaman subjektif tentang dunia serta mampu menderita dan merasakan kegembiraan.[128]

Beberapa kesulitan dalam menilai budi hewan juga tercermin dalam topik mengenai budi buatan. Ini mencakup pertanyaan mengenai apakah sistem-sistem komputer yang mengimplementasikan kecerdasan buatan patut dipertimbangkan sebagai sebentuk budi.[129] Gagasan ini konsisten dengan beberapa teori mengenai hakikat budi, seperti fungsionalisme beserta klaimnya bahwa berbagai konsep mental mendeskripsikan peran-peran fungsional. Teori ini menegaskan bahwa berbagai fungsi yang diimplementasikan oleh otak biologis pada prinsipnya juga dapat diimplementasikan oleh perangkat-perangkat buatan.[130]

Diagram seseorang menerima dua halaman tertulis, satu dari komputer dan satu dari manusia
Tes Turing bertujuan untuk menentukan apakah sebuah komputer dapat meniru perilaku linguistik manusia hingga ke taraf di mana kita tidak mungkin bisa membedakan antara manusia dan komputer.[131]

Tes Turing, yang diajukan oleh Alan Turing (1912–1954), adalah sebuah prosedur yang secara tradisional berpengaruh dalam menguji kecerdasan buatan: seseorang bertukar pesan dengan dua belah pihak, yang mana salah satunya adalah manusia dan yang lainnya adalah komputer. Komputer tersebut lulus tes ini apabila tidak memungkinkan bagi seseorang untuk dapat membedakan secara tepercaya pihak mana yang merupakan manusia dan mana yang merupakan komputer. Meskipun saat ini terdapat beberapa program komputer yang dapat lulus tes Turing, hal ini saja biasanya tidak diterima sebagai bukti konklusif atas kepemilikan budi.[131] Bagi beberapa aspek budi, masih menjadi kontroversi mengenai apakah komputer, pada prinsipnya, dapat mengimplementasikan aspek-aspek tersebut, seperti hasrat, perasaan, kesadaran, dan kehendak bebas.[132]

Masalah ini sering kali didiskusikan melalui kontras antara kecerdasan buatan lemah dan kuat. Kecerdasan buatan lemah atau sempit terbatas pada berbagai kapasitas atau fungsi mental spesifik. Kecerdasan jenis ini berfokus pada suatu tugas tertentu atau serangkaian tugas yang sempit, seperti mengemudi otonom, pengenalan ucapan, atau pembuktian teorema. Tujuan dari kecerdasan buatan kuat, yang juga diistilahkan sebagai kecerdasan buatan umum, adalah untuk menciptakan sesosok pribadi buatan seutuhnya yang memiliki semua kapasitas mental manusia, termasuk kesadaran, emosi, dan nalar.[133] Apakah kecerdasan buatan kuat ini memungkinkan masih menjadi kontroversi; berbagai argumen yang berpengaruh yang menentangnya meliputi Argumen kamar Tionghoa dari John Searle dan kritik Hubert Dreyfus yang didasarkan pada filsafat Heidegger.[134]

Kesehatan dan gangguan mental

[sunting | sunting sumber]

Kesehatan mental adalah kondisi budi yang dicirikan oleh ekuilibrium internal dan kesejahteraan dengan kapasitas-kapasitas mental berfungsi sebagaimana mestinya. Sebagian ahli teori menekankan pada fitur-fitur positif seperti kemampuan seseorang untuk merealisasikan potensi mereka, mengekspresikan dan memodulasi emosi, menghadapi situasi kehidupan yang buruk, serta memenuhi peran sosial mereka. Sebaliknya, beberapa definisi negatif memandang kesehatan mental sebagai absennya gangguan mental.[135] Gangguan mental adalah pola pikiran, emosi, atau perilaku yang abnormal. Pola-pola ini tidak hanya menyimpang dari cara kerja kapasitas mental pada umumnya, melainkan juga dari bagaimana kapasitas tersebut seharusnya berfungsi, yang sekaligus biasanya menyebabkan suatu bentuk distres. Kandungan dari norma-norma tersebut masih menjadi kontroversi dan terdapat perbedaan dari satu budaya ke budaya lainnya. Contohnya, homoseksualitas secara historis dianggap sebagai sebuah gangguan mental oleh para profesional medis, sebuah pandangan yang baru berubah pada paruh kedua abad ke-20.[136]

Foto cuci tangan
Gangguan obsesif-kompulsif adalah suatu gangguan mental di mana seseorang mengikuti berbagai ritual kompulsif, seperti mencuci tangan secara berlebihan, demi meredakan kecemasan yang disebabkan oleh berbagai pikiran intrusif.[137]

Terdapat beragam jenis gangguan mental, yang masing-masing berkaitan dengan wujud ketidakberfungsian yang berbeda-beda. Gangguan kecemasan melibatkan rasa takut yang intens dan persisten, yang tidak sebanding dengan ancaman sebenarnya, serta secara signifikan mengganggu kehidupan sehari-hari. Sebuah contohnya adalah fobia sosial, yang melibatkan ketakutan irasional terhadap situasi-situasi sosial tertentu. Gangguan kecemasan juga mencakup gangguan obsesif-kompulsif, yang padanya kecemasan tersebut termanifestasi dalam wujud berbagai pikiran intrusif yang coba diredakan oleh orang tersebut dengan mengikuti berbagai ritual kompulsif.[138] Gangguan suasana hati menyebabkan suasana hati yang intens atau perubahan suasana hati yang inkonsisten dengan keadaan eksternal serta dapat berlangsung untuk waktu yang lama. Contohnya, orang-orang yang terdampak oleh gangguan bipolar mengalami perubahan suasana hati yang ekstrem antara keadaan manik berupa euforia dan keadaan depresif berupa keputusasaan.[139] Gangguan kepribadian dicirikan oleh pola abadi dari perilaku maladaptif yang secara signifikan mengganggu kehidupan normal. Gangguan kepribadian paranoid, misalnya, menyebabkan penderitanya sangat menaruh curiga terhadap motif orang lain tanpa adanya landasan yang rasional.[140] Gangguan psikotik adalah beberapa di antara penyakit mental yang paling parah serta melibatkan hubungan yang terdistorsi dengan realitas dalam wujud halusinasi dan delusi, sebagaimana yang terlihat pada penderita skizofrenia.[141] Berbagai gangguan lainnya meliputi gangguan disosiatif dan gangguan makan.[142]

Model biopsikososial mengidentifikasi tiga jenis penyebab gangguan mental: faktor biologis, kognitif, dan lingkungan. Faktor biologis mencakup penyebab-penyebab pada tingkat fisik, secara khusus pengaruh neurologis dan predisposisi genetik. Pada tingkat kognitif, keyakinan maladaptif dan pola pikiran dapat menjadi penyebabnya. Faktor lingkungan melibatkan berbagai pengaruh kultural serta peristiwa-peristiwa sosial yang dapat memicu timbulnya suatu gangguan.[143] Terdapat bermacam pendekatan untuk mengobati gangguan mental, dan perawatan yang paling tepat biasanya bergantung pada jenis gangguan, penyebabnya, serta kondisi keseluruhan individu tersebut. Metode psikoterapeutik menggunakan interaksi personal dengan terapis untuk mengubah berbagai pola dalam berpikir, merasa, dan bertindak.[144] Psikoanalisis bertujuan untuk membantu para pasien menyelesaikan konflik antara budi sadar dan bawah sadar.[145] Terapi kognitif perilaku berfokus pada fenomena mental sadar untuk mengidentifikasi dan mengubah keyakinan yang irasional serta pola pikiran yang negatif.[146] Terapi perilaku mengandalkan pengondisian klasik agar pasien berhenti melakukan berbagai perilaku yang berbahaya.[147] Berbagai terapi humanistik mencoba membantu pasien untuk memperoleh wawasan atas nilai diri mereka dan memberdayakan mereka untuk menyelesaikan berbagai permasalahan mereka.[148] Terapi obat menggunakan medikasi untuk mengubah kimia otak yang berkaitan dengan gangguan tersebut melalui sejumlah zat seperti antidepresan, antipsikotik, penstabil suasana hati, dan ansiolitik.[149]

Bidang dan metode penyelidikan

[sunting | sunting sumber]

Berbagai bidang penyelidikan yang berbeda-beda mengkaji budi, di antaranya psikologi, ilmu saraf, filsafat, dan ilmu kognitif. Berbagai disiplin ini berbeda satu sama lain dalam hal aspek-aspek budi yang mereka investigasi beserta berbagai metode yang mereka kerahkan.[150] Studi terhadap budi menghadirkan beragam permasalahan lantaran budi itu sendiri sangat sulit untuk diuji, dimanipulasi, dan diukur secara langsung. Usaha untuk menyiasati permasalahan ini dengan cara menginvestigasi otak memunculkan berbagai tantangan baru tersendiri, yang utamanya disebabkan oleh kompleksitas otak sebagai sebuah jaringan saraf yang terdiri dari miliaran neuron, masing-masing dengan jumlah tautan yang dapat mencapai 10.000 ke neuron-neuron lain.[151]

Psikologi

[sunting | sunting sumber]

Psikologi merupakan studi ilmiah tentang budi dan perilaku. Bidang ini menginvestigasi berbagai fenomena mental yang disadari maupun yang tidak disadari, di antaranya persepsi, ingatan, perasaan, pemikiran, keputusan, kecerdasan, dan kepribadian. Psikologi lebih lanjut lagi tertarik pada berbagai manifestasi luarnya dalam wujud pola-pola perilaku yang dapat diamati, dengan mengkaji bagaimana berbagai pola tersebut bergantung pada keadaan eksternal dan dibentuk oleh pembelajaran.[152] Psikologi adalah disiplin ilmu yang sangat luas mencakup banyak subbidang. Psikologi kognitif berfokus pada berbagai aktivitas mental tingkat tinggi seperti memikir, memecahkan masalah, menalar, dan menyusun konsep.[153] Psikologi biologis mencari tahu mengenai mekanisme yang mendasarinya di tingkat fisiologis dan bagaimana mereka bergantung pada transmisi genetik beserta lingkungan.[154] Psikologi perkembangan mempelajari perkembangan budi manusia dari masa anak-anak hingga hari tua, sementara psikologi sosial mengkaji berbagai pengaruh dari konteks sosial terhadap budi dan perilaku.[155] Psikologi kepribadian menginvestigasi kepribadian, dengan mengeksplorasi bagaimana berbagai pola pikiran, perasaan, dan perilaku yang khas dapat berkembang serta bervariasi di antara para individu.[156] Berbagai subbidang lebih lanjutnya mencakup psikologi komparatif, klinis, pendidikan, okupasional, dan neuropsikologi.[157] Sebagai sebuah disiplin keilmuan, psikologi muncul menjelang akhir abad ke-19 bertolak dari karya eksperimental Wilhelm Wundt (1832–1920). Berbagai mazhab pemikiran awalnya meliputi strukturalisme, psikoanalisis, psikologi Gestalt, fungsionalisme, dan behaviorisme.[158]

Para psikolog menggunakan sangat banyak metode yang beraneka ragam untuk mengkaji budi. Berbagai pendekatan eksperimental menyiapkan sebuah situasi yang terkendali, baik dalam laboratorium maupun lapangan, tempat mereka memodifikasi berbagai variabel independen dan mengukur dampaknya pada berbagai variabel dependen.[l] Pendekatan ini memungkinkan seseorang untuk mengidentifikasi berbagai relasi kausal di antara berbagai variabel tersebut. Contohnya, untuk menentukan apakah orang-orang dengan kesamaan ketertarikan (variabel independen) cenderung lebih mungkin untuk saling berteman (variabel dependen), para peserta dalam sebuah studi ini dapat dipasangkan, dengan orang yang serupai maupun dengan orang yang tidak serupa. Setelah mereka diberikan waktu untuk berinteraksi, dinilai apakah tiap-tiap anggota dari pasangan yang serupa memiliki berbagai kecenderungan sikap yang lebih positif terhadap satu sama lain dibandingkan dengan tiap-tiap anggota dari pasangan yang tidak serupa.[160]

Berbagai metode korelasional memeriksa kuatnya kaitan di antara dua variabel tanpa membangun sebuah relasi kausal di antara kedua variabel tersebut.[161] Metode survei menyajikan berbagai daftar pertanyaan kepada para peserta yang bertujuan untuk memancing munculnya informasi mengenai kecenderungan sikap mental mereka, perilaku, beserta faktor-faktor terkait lainnya. Metode ini menganalisis bagaimana para peserta merespons berbagai pertanyaan tersebut serta bagaimana setiap jawaban dari berbagai pertanyaan yang berbeda tersebut berkorelasi satu sama lain.[162] Survei biasanya berisikan peserta dalam jumlah banyak, hal ini kontras dengan studi kasus, yang berfokus pada pengujian secara mendalam terhadap subjek tunggal atau suatu kelompok kecil subjek, yang biasanya digunakan untuk mengkaji berbagai fenomena langka atau mengeksplorasi berbagai bidang baru.[163] Berbagai metode lebih lanjut mencakup studi longitudinal, observasi naturalistik, dan deskripsi pengalaman fenomenologis.[164]

Ilmu saraf

[sunting | sunting sumber]
Citra fMRI menunjukkan otak dari pandangan atas dengan area aktif berwarna jingga
Pencitraan resonansi magnetik fungsional adalah sebuah teknik pencitraan saraf untuk mendeteksi area-area otak yang mengalami peningkatan aktivitas saraf (ditunjukkan dengan warna jingga).[165]

Ilmu saraf adalah studi tentang sistem saraf. Fokus utamanya adalah sistem saraf pusat dan otak pada khususnya, tetapi disiplin ini juga menginvestigasi sistem saraf tepi yang utamanya bertanggung jawab untuk menghubungkan sistem saraf pusat dengan anggota tubuh dan organ. Ilmu saraf mengkaji implementasi dari fenomena mental pada basis fisiologis, mencakup berbagai tingkat analisis. Pada skala kecil, bidang ini mempelajari basis molekuler dan seluler dari budi, berurusan dengan konstitusi dari dan interaksi antar neuron individu. Pada skala besar, bidang ini menganalisis arsitektur otak secara keseluruhan beserta pembagiannya ke dalam wilayah-wilayah dengan fungsi yang berbeda-beda.[166] Studi tentang sistem saraf berawal pada zaman kuno dan berevolusi selama berabad-abad, mencakup berbagai wawasan anatomis melalui pembedahan serta teori-teori spekulatif tentang fungsi otak. Ilmu saraf diakui sebagai disiplin keilmuan yang terpisah pada abad ke-20 seiring dengan kemajuan teknologi, seperti pengembangan berbagai teknik pencitraan saraf, yang merevolusi bidang ini.[167]

Dalam ilmu saraf modern, teknik pencitraan saraf memiliki kepentingan khusus sebagai metode penelitian utama dari para ilmuwan saraf. Pencitraan resonansi magnetik fungsional (fMRI) mengukur berbagai perubahan pada medan magnet otak yang berkaitan dengan aliran darah. Area-area dengan peningkatan aliran darah mengindikasikan bahwa wilayah otak yang bersesuaian sedang sangat aktif. Tomografi emisi positron (PET) menggunakan zat-zat radioaktif untuk mendeteksi berbagai perubahan metabolik di otak. Elektroensefalografi (EEG) mengukur aktivitas listrik pada otak, biasanya dengan menempatkan elektroda pada kulit kepala dan mengukur perbedaan tegangan di antaranya. Berbagai teknik ini sering kali dikerahkan untuk mengukur perubahan pada otak di bawah keadaan tertentu, sebagai contoh, ketika sedang melakukan suatu tugas kognitif spesifik. Berbagai wawasan penting juga diperoleh dari para pasien dan hewan percobaan yang mengalami kerusakan otak, membantu para ilmuwan saraf dalam memahami fungsi dari area yang rusak tersebut dan bagaimana ketiadaannya memengaruhi bagian otak yang tersisa.[168]

Filsafat budi

[sunting | sunting sumber]

Filsafat budi mengkaji hakikat dari fenomena mental dan hubungannya dengan dunia fisik. Disiplin ini berupaya untuk memahami "ciri dari hal yang mental", yaitu, fitur-fitur yang sama-sama dimiliki oleh semua keadaan mental. Bidang ini lebih lanjut menginvestigasi esensi dari berbagai jenis fenomena mental yang berbeda, seperti keyakinan, hasrat, emosi, intensionalitas, dan kesadaran sembari mengeksplorasi bagaimana mereka saling berhubungan satu sama lain. Filsafat budi juga mengkaji berbagai solusi untuk masalah budi-tubuh, seperti dualisme, idealisme, dan fisikalisme, serta menilai berbagai argumen yang mendukung dan menentangnya.[169] Bidang ini menanyakan apakah manusia memiliki kehendak bebas atau kemampuan untuk memilih tindakan mereka, dan bagaimana kemampuan ini kontras dengan gagasan bahwa segala sesuatunya ditentukan oleh penyebab-penyebab yang mendahuluinya.[170]

Diagram sebuah otak di dalam tong yang terhubung ke sebuah komputer
Otak dalam tong adalah sebuah eksperimen pikiran untuk mengkaji hakikat budi dan hubungannya dengan materi. Eksperimen ini mengeksplorasi bagaimana sebuah otak akan mengalami realitas apabila suatu superkomputer memberinya stimulasi listrik yang sama dengan yang diterima oleh otak normal.[171]

Meskipun para filsuf budi juga menyertakan pertimbangan empiris dalam penyelidikan mereka, mereka berbeda dari bidang-bidang seperti psikologi dan ilmu saraf dengan memberikan penekanan yang jauh lebih besar pada bentuk-bentuk penyelidikan non-empiris. Salah satu metode tersebut adalah analisis konseptual, yang bertujuan untuk mengklarifikasi makna dari berbagai konsep, seperti budi dan niat, dengan cara menguraikannya untuk mengidentifikasi bagian-bagian semantiknya.[172] Eksperimen pikiran sering kali digunakan untuk membangkitkan intuisi mengenai teori-teori abstrak demi menilai koherensi dan plausibilitasnya. Untuk melakukannya, para filsuf membayangkan sebuah situasi yang relevan dengan suatu teori dan mengerahkan pemikiran kontrafaktual untuk menilai kemungkinan konsekuensi dari teori ini. Berbagai eksperimen pikiran yang berpengaruh meliputi Mary sang ilmuwan warna, zombi filosofis, dan skenario otak dalam tong.[173] Karena sifat subjektif dari budi, metode fenomenologis juga umum digunakan untuk menganalisis struktur kesadaran dengan mendeskripsikan pengalaman dari sudut pandang orang pertama.[174] Diskusi filosofis tentang budi memiliki sejarah yang panjang, merentang kembali hingga ke zaman kuno. Berbagai kontribusi yang berpengaruh dibuat oleh Plato (ca428–347 SM), Aristoteles (384–322 SM), René Descartes (1596–1650), David Hume (1711–1776), Immanuel Kant (1724–1804), William James (1842–1910), dan Gilbert Ryle (1900–1976).[175]

Ilmu kognitif

[sunting | sunting sumber]

Ilmu kognitif adalah studi interdisipliner mengenai representasi dan proses mental. Disiplin ini bertujuan untuk mengatasi tantangan dalam memahami sesuatu yang sekompleks budi dengan mengintegrasikan penelitian dari beraneka ragam bidang mulai dari psikologi dan ilmu saraf hingga filsafat, linguistik, dan kecerdasan buatan. Berbeda dengan disiplin-disiplin tersebut, ilmu kognitif bukanlah bidang yang terpadu melainkan sebuah upaya kolaboratif. Salah satu kesulitan dalam menyintesis wawasan mereka adalah bahwa tiap-tiap disiplin ini mengeksplorasi budi dari perspektif dan tingkat abstraksi yang berbeda-beda sembari menggunakan metode penelitian yang berbeda untuk mencapai kesimpulannya.[176] Ilmu kognitif muncul pada paruh kedua abad ke-20 ketika para peneliti dari berbagai disiplin mulai mengkaji bagaimana proses-proses mental merepresentasikan dunia dan mengubah informasi. Bidang ini berekspansi pada 1980-an menyusul kemajuan dalam pencitraan saraf untuk menyertakan perspektif biologis tentang bagaimana proses komputasional diimplementasikan oleh otak.[177]

Untuk menggabungkan berbagai wawasan dari aneka disiplin ilmu, ilmu kognitif mengandalkan sebuah konseptualisasi yang menyatukan budi sebagai pemroses informasi. Ini berarti bahwa proses-proses mental dipahami sebagai komputasi yang mengambil, mengubah, menyimpan, dan mentransmisikan informasi.[176] Sebagai contoh, persepsi mengambil informasi sensorik dari lingkungan dan mengubahnya untuk mengekstraksi berbagai pola bermakna yang dapat digunakan dalam proses-proses mental lainnya, seperti perencanaan dan pengambilan keputusan.[178] Ilmu kognitif mengandalkan tingkatan deskripsi yang berbeda-beda untuk menganalisis proses-proses kognitif. Tingkat yang paling abstrak berfokus pada masalah dasar yang semestinya dipecahkan oleh proses tersebut beserta alasan mengapa organisme perlu memecahkannya. Tingkat menengah berupaya untuk mengungkap algoritma sebagai prosedur formal tahap demi tahap untuk memecahkan masalah tersebut. Tingkat yang paling konkret menanyakan bagaimana algoritma tersebut diimplementasikan melalui berbagai perubahan fisiologis pada tingkat otak.[179] Metodologi lainnya adalah dengan menganalisis budi sebagai sebuah sistem kompleks yang terdiri dari subsistem-subsistem individu yang dapat dikaji secara independen satu sama lain.[180] Pendekatan analitik ini dilengkapkan oleh masalah pengikatansebuah tantangan dalam menjelaskan bagaimana informasi yang dikomputasi di berbagai wilayah saraf yang berlainan dapat diintegrasikan untuk membentuk representasi objek yang koheren.[181]

Hubungan dengan bidang lain

[sunting | sunting sumber]

Budi relevan dengan banyak bidang. Dalam epistemologi, masalah budi lain adalah tantangan dalam menjelaskan bagaimana adalah mungkin untuk mengetahui bahwa orang selain diri sendiri juga memiliki budi. Kesulitan ini muncul dari fakta bahwa orang-orang secara langsung mengalami budi mereka sendiri tetapi tidak memiliki akses yang sama ke budi orang lain. Menurut sebuah pandangan umum, adalah penting untuk bersandar pada persepsi untuk mengamati perilaku orang lain dan lantas menyimpulkan bahwa mereka memiliki budi berdasarkan penalaran analogis atau abduktif.[182] Terkait erat dengan masalah ini adalah teori budi dalam psikologi, yang merupakan kemampuan untuk memahami bahwa orang lain memiliki keyakinan, hasrat, niat, dan perasaan yang mungkin saja berbeda dengan milik diri sendiri.[183]

Antropologi menaruh minat mengenai bagaimana kebudayaan-kebudayaan yang berbeda mengkonseptualisasikan hakikat budi dan hubungannya dengan dunia. Berbagai konseptualisasi ini memengaruhi cara orang-orang memahami diri mereka sendiri, mengalami penyakit, dan menafsirkan praktik ritualistik sebagai upaya untuk berkomunikasi dengan roh. Sebagian budaya tidak menarik batas yang tegas antara budi dan dunia dengan meyakini bahwa pikiran dapat menembus secara langsung ke dalam dunia dan termanifestasi sebagai kekuatan yang bermanfaat maupun berbahaya. Sebagai contoh, beberapa sistem kepercayaan pribumi, seperti kepercayaan tradisional dalam budaya Azande, meyakini bahwa pikiran amarah secara langsung dapat merusak hasil panen orang lain atau membuat mereka jatuh sakit. Budaya lainnya secara tegas memisahkan budi dari realitas eksternal, memandangnya sebagai sebuah fenomena internal yang tak memiliki kekuatan supernatural.[184] Sosiologi adalah bidang terkait yang memperhatikan kaitan-kaitan di antara budi, masyarakat, dan perilaku.[185] Di antara topik-topik lainnya, disiplin ini meminati fenomena intersubjektivitas, yang terjadi ketika orang-orang yang berbeda memiliki pemahaman atau pengalaman yang sama, yang berarti bahwa perspektif kognitif mereka saling tumpang tindih.[186]

Konsep budi memainkan sebuah peran sentral dalam berbagai agama. Umat Buddha menyatakan bahwa tidak ada diri yang abadi yang mendasari aktivitas mental. Mereka menganalisis budi sebagai aliran pengalaman yang senantiasa berubah yang dicirikan oleh lima aspek atau "agregat": bentuk material, perasaan, persepsi, kehendak, dan kesadaran.[187] Sebaliknya, umat Hindu menegaskan eksistensi dari sebuah diri yang permanen. Dalam sebuah analogi yang berpengaruh, budi manusia dibandingkan dengan kereta yang ditarik kuda: kuda-kudanya adalah indra, yang memikat budi indrawi yang diumpamakan sebagai tali kekang melalui pelbagai kesenangan indrawi. Indra dikendalikan oleh kusir kereta yang mewujudkan intelek sementara diri merupakan penumpang.[188] Dalam filsafat Kristen tradisional, budi dan jiwa saling berkelindan erat sebagai aspek immaterial dari manusia yang dapat bertahan dari kematian tubuh.[189] Pemikiran Islam membedakan antara budi, roh, hati, dan diri sebagai aspek-aspek yang saling terhubung dari dimensi spiritual manusia.[190] Taoisme dan Konfusianisme menggunakan konsep jantung-budi sebagai pusat dari kehidupan kognitif dan emosional, mencakup pikiran, pemahaman, kehendak, hasrat, dan suasana hati.[191]

Diagram frenologis kepala manusia dari samping. Area berbeda ditandai untuk fungsi otak yang berbeda.
Frenologi adalah sebuah upaya pseudosaintifik untuk mengkorelasikan fungsi mental ke berbagai area otak.[192]

Dalam bidang pendidikan, budi para siswa dibentuk melalui transmisi pengetahuan, keterampilan, dan sifat karakter sebagai proses sosialisasi dan enkulturasi. Hal ini dicapai melalui beraneka ragam metode pengajaran yang meliputi kontras antara kerja kelompok dan pembelajaran individu serta penggunaan media instruksional.[193] Pendidikan yang berpusat pada guru memosisikan guru sebagai otoritas sentral yang mengendalikan proses pembelajaran, sedangkan dalam pendidikan yang berpusat pada siswa, siswa memiliki peran yang lebih aktif dalam membentuk aktivitas ruang kelas.[194] Pemilihan metode paling efektif untuk mengembangkan budi pembelajar ditentukan oleh berbagai faktor, termasuk topik pelajaran beserta umur dan tingkat keahlian pembelajar.[195]

Budi merupakan subjek yang sering dijumpai dalam penyelidikan pseudosaintifik. Frenologi merupakan upaya awal untuk mengkorelasikan fungsi mental dengan area-area otak spesifik. Walaupun klaim utamanya mengenai memprediksi sifat-sifat mental dengan cara mengukur benjolan pada tengkorak tidak lolos uji ilmiah, gagasan mendasarnya bahwa fungsi-fungsi mental tertentu terlokalisasi di wilayah-wilayah khusus pada otak kini diterima secara luas.[192] Para parapsikolog berupaya menemukan dan mempelajari berbagai kemampuan mental paranormal mulai dari waskita hingga telepati dan telekinesis.[196]

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]
  • Kesadaran hewan
  • Naturalisme biologis  serangkaian kapasitas kognitif yang memungkinkan kesadaran, persepsi, pikiran, pertimbangan, dan ingatan
  • Hati nurani
  • Materialisme emergen  serangkaian kapasitas kognitif yang memungkinkan kesadaran, persepsi, pikiran, pertimbangan, dan ingatan
  • Kesenjangan penjelasan  serangkaian kapasitas kognitif yang memungkinkan kesadaran, persepsi, pikiran, pertimbangan, dan ingatan
  • Ideastesia  serangkaian kapasitas kognitif yang memungkinkan kesadaran, persepsi, pikiran, pertimbangan, dan ingatan
  • Daftar filsuf budi
  • Energi mental  serangkaian kapasitas kognitif yang memungkinkan kesadaran, persepsi, pikiran, pertimbangan, dan ingatan
  • Mind at Large  serangkaian kapasitas kognitif yang memungkinkan kesadaran, persepsi, pikiran, pertimbangan, dan ingatan
  • Darwinisme saraf  serangkaian kapasitas kognitif yang memungkinkan kesadaran, persepsi, pikiran, pertimbangan, dan ingatan
  • Garis besar kecerdasan manusia  serangkaian kapasitas kognitif yang memungkinkan kesadaran, persepsi, pikiran, pertimbangan, dan ingatan
  • Garis besar pemikiran  serangkaian kapasitas kognitif yang memungkinkan kesadaran, persepsi, pikiran, pertimbangan, dan ingatan
  • Karakter subjektif dari pengalaman  serangkaian kapasitas kognitif yang memungkinkan kesadaran, persepsi, pikiran, pertimbangan, dan ingatan

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Tidak semua bahasa memiliki kata yang berpadanan langsung dengan kata bahasa Inggris mind. Sebagai contoh, bahasa Jerman menggunakan kata Geist, yang dapat berarti 'budi' maupun 'roh'.[16]
  2. Perbedaan pasti di antara konsep-konsep ini masih diperdebatkan. Dalam psikoanalisis Freud, budi prasadar berada di luar kesadaran saat ini tetapi dapat dengan mudah diakses, sedangkan budi tak sadar lebih jauh dari akses yang disengaja. Kata subconscious (bawah sadar) terkadang digunakan sebagai sinonim dari preconscious (prasadar).[35]
  3. Beberapa keadaan mental, seperti persepsi dan emosi, mungkin memiliki aspek kualitatif maupun proposisional.[39]
  4. Fakultas-fakultas mental juga memainkan peran sentral dalam tradisi India, seperti kontras antara budi indrawi (manas) dan intelek (buddhi).[47]
  5. Perspektif yang berbeda diajukan oleh hipotesis modularitas masif, yang menyatakan bahwa budi sepenuhnya tersusun dari berbagai modul dengan modul tingkat tinggi membangun koneksi di antara modul-modul tingkat rendah.[51]
  6. Intensionalitas harus dibedakan dari niat dalam pengertian memiliki rencana untuk melakukan suatu tindakan tertentu.[57]
  7. Secara lebih umum, kognisi berwujud adalah studi tentang efek fenomena jasmani terhadap budi. Disiplin ini mengkaji, misalnya, bagaimana gerakan tubuh tertentu meningkatkan atau menghambat kinerja kognitif dan bagaimana kapasitas motorik memengaruhi perkembangan kemampuan kognitif.[68]
  8. Menurut hilomorfisme Aristoteles, misalnya, keduanya adalah prinsip-prinsip yang saling melengkapi: jiwa adalah bentuk dari tubuh, sedangkan tubuh adalah materi dari jiwa.[71]
  9. Terdapat bentuk-bentuk idealisme lain yang menegaskan posisi yang sedikit berbeda, seperti idealisme transendental dan idealisme absolut.[77]
  10. Kedua istilah ini biasanya diperlakukan sebagai sinonim, tetapi beberapa ahli teori membedakannya dengan berpendapat bahwa materialisme terbatas pada materi sementara fisikalisme adalah istilah yang lebih luas yang mencakup berbagai fenomena fisik tambahan, seperti gaya.[80]
  11. Mereka meliputi cnidaria dan ctenophora.[105]
  12. Psikometri mengkaji cara mengukur berbagai atribut mental atau bangun psikologis yang mendasari berbagai variabel tersebut. Sebagai contoh, tes IQ merupakan salah satu cara untuk mengkuantifikasi kecerdasan.[159]
  1. Stich & Warfield 2008, hlm. ix–x
  2. Gonda, Jan (1973). Sanskrit in Indonesia. New Delhi: International Academy of Indian Culture. hlm. 141, 188.
  3. Monier-Williams, Monier (1899). A Sanskrit-English Dictionary: Etymologically and Philologically Arranged with Special Reference to Cognate Indo-European Languages. Oxford: Clarendon Press. hlm. 733.
  4. "Arti kata budi". Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia. Diakses tanggal 2026-07-05.
  5. Bernstein & Nash 2006, hlm. 265–266, 291
  6. Kim 2005, hlm. 607
  7. Robbins 2017, § 1. What Is a Mental Module?
  8. Jacob 2023, § 1. Why Is Intentionality So-called?
  9. Kind & Stoljar 2023, § Introduction
  10. Jaworski 2011, hlm. 246
  11. Jaworski 2011, hlm. 256
  12. 1 2
  13. Macmillan & Lena 2010, hlm. 655
  14. Roth 2013, hlm. 3
  15. Hatfield 2013, hlm. 3–4
  16. Roth 2013, hlm. 265–266
  17. Spradlin & Porterfield 2012, hlm. 17–18
  18. 1 2
  19. Carruthers 2004, hlm. 270–273
  20. Murphy, Donovan & Smart 2020, hlm. 97–99, 103–104, 112
  21. Bernstein & Nash 2006, hlm. 468
  22. American Psychological Association 2018, § Personality, § Personality Psychology
  23. Gross 2020, hlm. 4–8
  24. Scharff 2008, hlm. 270–271
  25. Timpe, § Lead Section, § 3. Free Will and Determinism
  26. Hickey, Lead section
  27. 1 2
    • Luhrmann 2023, Abstract, § Introduction, § Conceptions of the mind in early ethnographies, § Conclusion: The Understanding of Mind in the West Is Peculiar
    • Toren 2010, hlm. 577–580, 582
    • Beatty 2019
  28. Franks 2007, hlm. 3055–3056
  29. 1 2
  30. Emaliana 2017, hlm. 59–61

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]