Lompat ke isi

Muslim bin al-Hajjaj

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Imam Muslim)
Muslim bin al-Hajjaj
EraAbad Pertengahan
KawasanIran
AliranSyafi'i
Minat utama
hadis

Al-Imam Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi (bahasa Arab: أبو الحسين مسلم بن الحجاج القشيري النيشابوري), atau sering dikenal sebagai Imam Muslim (821-875M) merupakan ulama ahli hadis, dilahirkan pada tahun 206 Hijriah dan meninggal dunia pada sore hari Ahad bulan Rajab tahun 261 Hijriah dan dikuburkan di Naisaburi.[2] Nama panggilannya Abul Husain. Tubuhnya tinggi, wajah dan pakaiannya rapi dan bagus, ia mengenakan selendang di pundak dan sorban dengan kedua ujungnya dibiarkan menjulur di antara kedua pundaknya.[3]

Kehidupan

[sunting | sunting sumber]

Muslim sudah belajar hadis sejak kecil seperti Imam Bukhari dan pernah mendengar dari guru-guru Al Bukhari dan ulama lain selain mereka. Orang yang menerima hadis dari dia ini, termasuk tokoh-tokoh ulama pada masanya. Ia juga telah menyusun beberapa tulisan yang bermutu dan bermanfaat. Yang paling bermanfaat adalah kitab Shahihnya yang dikenal dengan Shahih Muslim. Kitab ini disusun lebih sistematis dari Shahih Bukhari. Kedua kitab hadis shahih ini; Shahih Bukhari dan Shahih Muslim biasa disebut dengan Ash Shahihain. Kedua tokoh hadis ini biasa disebut Asy Syaikhani atau Asy Syaikhaini, yang berarti dua orang tua yang maksudnya dua tokoh ulama ahli hadist.[4]

Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin terdapat istilah akhraja hu yang berarti mereka berdua meriwayatkannya. Ia belajar hadis sejak masih dalam usia dini, yaitu mulai tahun 218 H. Ia pergi ke Hijaz, Irak, Syam, Mesir dan negara-negara lainnya.[butuh rujukan]

Di Khurasan, ia berguru kepada Yahya bin Yahya dan Ishak bin Rahawaih; di Ray ia berguru kepada Muhammad bin Mahran dan Abu `Ansan. Di Irak ia belajar hadis kepada Imam Ahmad dan Abdullah bin Maslamah; di Hijaz belajar kepada Sa`id bin Mansur dan Abu Mas`Abuzar; di Mesir berguru kepada `Amr bin Sawad dan Harmalah bin Yahya, dan kepada ulama ahli hadis yang lain.[5]

Masjid Imam Muslim di Aljazair.

Dia berkali-kali mengunjungi Baghdad untuk belajar kepada ulama-ulama ahli hadis, dan kunjungannya yang terakhir pada 259 H, di waktu Imam Bukhari datang ke Naisabur, dia sering datang kepadanya untuk berguru, sebab ia mengetahui jasa dan ilmunya. Dan ketika terjadi fitnah atau kesenjangan antara Bukhari dan Az-Zihli, ia bergabung kepada Bukhari, sehingga hal ini menjadi sebab terputusnya hubungan dengan Az-Zihli. Muslim dalam Sahihnya maupun dalam kitab lainnya, tidak memasukkan hadis-hadis yang diterima dari Az-Zihli padahal ia adalah gurunya. Hal serupa ia lakukan terhadap Bukhari. Ia tidak meriwayatkan hadis dalam Sahihnya, yang diterimanya dari Bukhari, padahal iapun sebagai gurunya. Tampaknya pada hemat Muslim, yang lebih baik adalah tidak memasukkan ke dalam Sahihnya hadis-hadis yang diterima dari kedua gurunya itu, dengan tetap mengakui mereka sebagai guru.[6]

Pandangan Ulama

[sunting | sunting sumber]

Abdurrahman bin Abi Hatim berkata, "Imam Muslim bin Al-Hajjaj adalah orNrgtsiqah dan termasuk ulama yang hafizh. Aku telah menulis hadis darinya di daerah Rai. Ketika ayahku ditanya tentangnya, maka ayahku menjawab bahwa Imam Muslim bin Al-Hajiaj adalah jujur."[3]

Ibnu Uqdah Al-Hafizh,"Telah ada pada Imam Al-Bukhari sebagai seorang yang pandai dan Imam Muslim bin Al-Hajjaj adalah seorang yang pandai."

Imam An-Nawawi mengatakan, "Para ulama telah sepakat akan keagungan, keimaman dan tingginya martabat Imam Muslim bin Al-Hajjaj dalam membuat karya Kitab Shahih Muslim. Melalui karya tersebut, dapat diketahui betapa kokoh keilmuan dan dahulunya dia melebihi yang lain. Sistematika penulisan yang tertib dan periwayatan hadits dengan baik tanpa ada sebelumnya, tanpa lebih dan kurang merupakan bukti nyata atas semua yang aku sampaikan ini."

Murid-muridnya

[sunting | sunting sumber]

Orang-orang yang meriwayatkan hadits dari Imam Muslim antara lain; At-Tirmidzi dalam kitab Al-lami'telah meriwayatkan satu hadits dari Imam Muslim, Muhammad bin Abdil wahab Al-Farra" Ali bin Al-Hasan bin Abi Isa Al-Hilali (kedua orang ini lebih besar dari Imam Muslim), Shaleh bin Muhammad Jazrah Ahmad bin Maslarnah dan Ahmad bin Al-Mubarak Al-Mustamli. Mereka semua adalah teman Imam Muslim.

Termasuk murid Imam Muslim juga adalah; Ibrahim bin Abi Thalib, AIHusain bin Muhammad Al-Qubbani, Ali bin Al-Husain Al-Junaid Ar-Razi, Ibnu Khuzaimah, Abul Abbas As-Siraj,Ibnu Sha'id, Abu Hamid Ibnu Asysyalqr, Abu Awwanah Al-Isfarayini, Abu Hamid Ahmad bin Hamdun Al-A'masy, said bin Amr Al-Bardzaglti, Abdurrahman bin Abi Hatim, Nashrak bin Ahmad bin Nashr Al-Hafizh, Ahmad bin Ali bin Al-Husain Al-Qalansi, Ibrahim bin Muhammad, Sufyan Al-Faqih, Abu Bakar Muhammad bin An-Nadhr Al-Jarudi, Makki bin Abdan, Muhammad bin Makhlad Al-Aththar dan yang lain.[3]

Imam Muslim meninggalkan karya tulis yang tidak sedikit jumlahnya, di antaranya:

  1. Al-Jami` ash-Shahih atau lebih dikenal sebagai Sahih Muslim
  2. Al-Musnad al-Kabir (kitab yang menerangkan nama-nama para perawi hadis)
  3. Kitab al-Asma wal-Kuna
  4. Kitab al-Ilal
  5. Kitab al-Aqran
  6. Kitab Su`alatihi Ahmad bin Hambal
  7. Kitab al-Intifa` bi Uhubis-Siba`
  8. Kitab al-Muhadramin
  9. Kitab Man Laisa Lahu illa Rawin Wahid
  10. Kitab Auladish-Shahabah
  11. Kitab Auhamil-Muhadditsin

Shahih Bukhari dan Shahih Muslim

[sunting | sunting sumber]
Kitab Imam Muslim.

Al-Hafizh Ibnu Hajar mengulas kelebihan Shahih Bukhari atas Shahih Muslim, antara lain, karena al-Bukhari mensyaratkan kepastian bertemunya dua perawi yang secara struktural sebagai guru dan murid dalam hadis mu'an'an; agar dapat dihukumi bahwa sanadnya bersambung. Sementara Muslim menganggap cukup dengan "kemungkinan" bertemunya kedua rawi tersebut dengan tidak adanya tadlis.

Al-Bukhari mentakhrij hadis yang diterima para perawi tsiqqat derajat utama dari segi hafalan dan keteguhannya. Walaupun juga mengeluarkan hadis dari rawi derajat berikutnya dengan sangat selektif. Sementara Muslim, lebih banyak pada rawi derajat kedua dibanding Bukhari. Di samping itu kritik yang ditujukan kepada perawi jalur Muslim lebih banyak dibanding kepada al-Bukhari.

Sementara pendapat yang berpihak pada keunggulan Shahih Muslim beralasan - sebagaimana dijelaskan Ibnu Hajar, bahwa Muslim lebih berhati-hati dalam menyusun kata-kata dan redaksinya, karena menyusunnya di negeri sendiri dengan berbagai sumber pada masa kehidupan guru-gurunya. Ia juga tidak membuat kesimpulan dengan memberi judul bab sebagaimana Bukhari lakukan. Dan sejumlah alasan lainnya.

Namun prinsipnya, tidak semua hadis Bukhari lebih shahih ketimbang hadis Muslim dan sebaliknya. Hanya pada umumnya kesahihan hadis riwayat Bukhari itu lebih tinggi daripada kesahihan hadis dalam Shahih Muslim.

Dalam Shahih Al-Bukhari kebanyakan hadits-haditsnya berbentuk hadits maqthu', hadits mauquf dan hadits mu'allaq. Karena tujuan Imam Al-Bukhari selain memilih hadits-hadits yang shahih saja dalam kitabnya, dia juga menekankan sisi ketepatan dalam istimbat hukum-hukum fikih. Sedangkan, Imam Muslim dalam kitabnya hanya bertujuan mengumpulkan sejumlah hadits-hadits shahih saja agar dapat digunakan sebagai rujukan. Oleh karena itu, Imam Muslim mengklasifikasikan setiap judul dalam kitabnya dengan nama kitab tanpa diikuti bab-bab di bawahnya sebagai penjabaran kifab tersebut. Cara ini berbeda dengan Imam Al-Bukhari yang menggunakan bab-bab yang di situ dia mencantumkanhadits'hadits mauquf, hadits maqthu' dan hadits mu'allaq sesuai dengan pandangannya dalam hukum fikih.[3]

Imam Muslim wafat pada Minggu sore, dan dikebumikan di kampung Nasr Abad, salah satu daerah di luar Naisabur, pada hari Senin, 25 Rajab 261 H / 5 Mei 875 M. dalam usia 55 tahun.[3] Sewakfu Imam Muslim sedang mengajar, ada seseorang menanyakan sebuah hadits yang Imam Muslim tidak mengetahuinya.Imam Muslim lalu keluar dari ruangan tempat mengajamya menuju rumahnya.

Setelah menyalakan lampu, dia berpesan kepada keluarganya bahwa malam itu dia tidak boleh diganggu. Salah seorang keluarga Imam Muslim berkata, "Pada waktu yang bersamaan kami menerima hadiah korma, lalu kami menyuguhkan korma tersebut kepada Imam Muslim. Di saat dia mencari hadits, tangannya mengambil biji korma satu demi satu dan memakannya sampai kenyang. Ketika korma itu habis, dia baru menemukan hadits yang dimaksud. Bermula dari memakan korma itutatr, Imam Muslim lalu menderita sakit perut dan akhimya meninggal."

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. منهج الإمام مسلم بن الحجاج
  2. "Biografi Imam Muslim". Biografi Tokoh (dalam bahasa American English). 2010-10-12. Diarsipkan dari asli tanggal 2020-02-01. Diakses tanggal 2020-02-01. {{cite web}}:
  3. 1 2 3 4 5 Farid, Syaikh Ahmad (2006). 60 Biografi Ulama Salaf. Jakarta : Pustaka Al-Kautsar. ISBN 9795923692
  4. Kompasiana.com. "Sejarah Singkat Imam Muslim." KOMPASIANA. Diakses tanggal 2020-02-01.
  5. Haqiqi, Rif'an (2023-01-19). "Imam Muslim bin Al-Hajjaj, Pecinta Ilmu Hadits Sejak Usia Belia". NU Online. Diakses tanggal 2024-02-02.
  6. "Para Perawi Hadits: Imam Muslim, Murid Sekaligus Penerus Bukhari". Republika Online. 2011-08-01. Diakses tanggal 2020-02-01.

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]